IHSG Menguat ke 6.206,35, Cermati Saham Pilihan Hari Ini

Forex & Saham Kevin S. Pratama 01 Juni 2026 22:10 WIB 2
IHSG Menguat ke 6.206,35, Cermati Saham Pilihan Hari Ini

Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG ditutup menguat 0,72 persen ke level 6.206,35 pada perdagangan Senin, 25 Mei. Penguatan indeks ditopang saham perbankan dan otomotif, meski tekanan pada sejumlah emiten masih membatasi laju kenaikan pasar.

Investor asing tercatat melakukan jual bersih Rp2,09 triliun di pasar reguler dan Rp2,22 triliun di seluruh pasar. Untuk perdagangan berikutnya, pelaku pasar mencermati sentimen geopolitik, liburnya bursa Amerika Serikat, serta peluang aksi ambil untung menjelang libur panjang.

IHSG Ditopang Saham Perbankan

IHSG menguat seiring kenaikan saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, PT Bank Central Asia Tbk, dan PT Astra International Tbk. BBRI naik 3,93 persen, BBCA menguat 3,39 persen, dan ASII bertambah 3,70 persen.

Di sisi lain, beberapa saham berkapitalisasi besar justru terkoreksi cukup dalam. PT Barito Pacific Tbk melemah 7,79 persen, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk turun 11,93 persen, dan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk terkoreksi 9,12 persen.

Secara sektoral, enam sektor ditutup di zona hijau pada perdagangan tersebut. Sektor transportasi menjadi penopang utama dengan kenaikan 3,83 persen, sementara sektor energi turun paling dalam sebesar 2,04 persen.

Pergerakan ini menunjukkan pasar masih selektif dalam merespons sentimen yang berkembang. Minat beli pada saham-saham tertentu mampu menahan pelemahan yang muncul di sejumlah sektor lain.

Sentimen Pasar Masih Campuran

Pasar juga mencermati liburnya bursa saham Amerika Serikat pada Senin waktu setempat karena peringatan Memorial Day. Kondisi itu membuat perdagangan global berlangsung lebih tenang dari biasanya.

Untuk hari ini, IHSG diperkirakan bergerak terbatas di tengah harapan meredanya ketegangan geopolitik. Pelaku pasar menyoroti perkembangan pembicaraan Iran dan Amerika Serikat yang dinilai dapat memberi efek positif pada aset berisiko.

Selain itu, penundaan implementasi penuh kebijakan ekspor DSI hingga awal 2027 turut menjadi perhatian investor. Kebijakan tersebut memberi ruang bagi pasar untuk menilai dampaknya secara lebih bertahap.

Meski demikian, peluang aksi ambil untung menjelang libur panjang bursa masih membayangi. Di sisi lain, penguatan MSCI Indonesia offshore sebesar 1,70 persen memberi tambahan sentimen positif bagi pasar domestik.

SOFA Masuk Proyek Waste to Energy

Solusi Environment Asia Tbk atau SOFA resmi bergabung dalam konsorsium proyek Waste to Energy bersama Zhejiang Weiming melalui anak usaha PT Ananta Energi Asia. Konsorsium ini akan menggarap dua proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik di wilayah Denpasar Raya dan Bogor Raya.

Zhejiang Weiming dikenal sebagai salah satu operator PSEL terbesar di dunia. Pada 2025, perusahaan tersebut memproduksi listrik berbasis sampah sebesar 4,62 miliar kWh.

Kerja sama ini membuka peluang pendapatan berulang bagi SOFA melalui skema Power Purchase Agreement selama 30 tahun bersama PT PLN (Persero). Tarif yang digunakan dipatok tetap sebesar US$0,20 per kWh.

Kehadiran proyek ini menjadi katalis penting bagi bisnis perseroan ke depan. Investor menilai peluang arus kas jangka panjang dapat memperkuat profil usaha SOFA di sektor lingkungan.

SDPC Dan SMAR Bagi Dividen

Millennium Pharmacon International Tbk atau SDPC membidik pertumbuhan pendapatan menjadi Rp5 triliun pada 2026. Target itu naik 21,68 persen dibandingkan proyeksi 2025 sebesar Rp4,1 triliun, dengan laba bersih ditargetkan mencapai Rp60 miliar.

Untuk menopang ekspansi, SDPC tengah menyelesaikan pembangunan gudang pusat di Bekasi. Progres pembangunan telah mencapai 95 persen dan ditargetkan mampu meningkatkan kapasitas hingga tiga kali lipat.

Perseroan juga menyiapkan pembukaan cabang di Kupang dan Kendari. Masing-masing cabang diperkirakan berkontribusi sekitar Rp5 miliar per bulan terhadap pendapatan.

Sementara itu, Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk atau SMAR menetapkan dividen tunai Rp270 per saham untuk tahun buku 2025. Total dividen mencapai Rp775,49 miliar, setara 30 persen laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk.

  • SMAR: cum date 4 Juni 2026, pembayaran 18 Juni 2026.
  • BRIS: buy 1.905-1.915, target 1.935-1.990, stop loss 1.805.
  • INDF: buy 6.850-6.925, target 6.975-7.050, stop loss 6.525.
  • PGAS: buy 1.865-1.875, target 1.900-1.925, stop loss 1.760.
  • SSIA: buy 1.685-1.700, target 1.725-1.770, stop loss 1.590.
  • ISAT: buy 2.130-2.160, target 2.190-2.240, stop loss 2.020.

Sepanjang 2025, SMAR membukukan pendapatan Rp86,95 triliun dan laba bersih Rp2,58 triliun. Pada perdagangan 25 Mei 2026, sahamnya ditutup di Rp5.225 per saham dengan indikasi dividend yield sekitar 5,17 persen.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!