IHSG Menguat ke 6.206,35, Asing Masih Net Sell

Forex & Saham Gilang Nabaris 29 Mei 2026 07:10 WIB 4
IHSG Menguat ke 6.206,35, Asing Masih Net Sell

Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG ditutup menguat 0,72 persen ke level 6.206,35 pada perdagangan Senin, 25 Mei. Penguatan itu ditopang saham perbankan dan otomotif, meski tekanan jual asing masih cukup besar di pasar reguler maupun seluruh pasar.

Di tengah sentimen global yang relatif tenang karena liburnya bursa Amerika Serikat, pelaku pasar juga mencermati perkembangan pembicaraan Iran dan Amerika Serikat. Pada saat yang sama, sejumlah emiten melansir aksi korporasi, mulai dari kerja sama proyek waste to energy, target bisnis baru, hingga pembagian dividen tunai.

IHSG Ditopang Saham Perbankan

IHSG bergerak positif seiring penguatan saham-saham berkapitalisasi besar, terutama dari sektor perbankan. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk naik 3,93 persen, sedangkan PT Bank Central Asia Tbk menguat 3,39 persen.

Dari kelompok otomotif, PT Astra International Tbk ikut menjadi penopang indeks dengan kenaikan 3,70 persen. Kenaikan pada saham-saham tersebut membantu IHSG bertahan di zona hijau hingga penutupan perdagangan.

Meski demikian, tidak semua saham bergerak searah dengan indeks. PT Barito Pacific Tbk melemah 7,79 persen, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk turun 11,93 persen, dan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk terkoreksi 9,12 persen.

Secara sektoral, enam sektor berhasil ditutup menguat pada akhir perdagangan. Sektor transportasi menjadi penopang utama dengan kenaikan 3,83 persen, sementara sektor energi terkoreksi paling dalam sebesar 2,04 persen.

Asing Catat Jual Bersih Besar

Investor asing masih menunjukkan sikap hati-hati dengan mencatat jual bersih Rp2,09 triliun di pasar reguler. Jika dihitung di seluruh pasar, nilai jual bersih asing mencapai Rp2,22 triliun.

Tekanan jual tersebut menunjukkan bahwa penguatan indeks belum sepenuhnya ditopang arus dana asing. Kondisi ini membuat pergerakan IHSG cenderung rentan terhadap aksi ambil untung dalam jangka pendek.

Pasar juga menanti respons terhadap liburnya bursa saham Amerika Serikat pada Senin waktu setempat karena peringatan Memorial Day. Situasi tersebut membuat transaksi global cenderung lebih sepi dan menahan laju sentimen eksternal.

Untuk perdagangan hari ini, IHSG diperkirakan bergerak terbatas di tengah campuran sentimen positif dan risiko profit taking. Pembicaraan Iran dan Amerika Serikat dinilai dapat meredakan ketegangan geopolitik, namun momentum libur panjang bursa masih berpotensi menekan minat beli.

SOFA dan SDPC Ekspansi

PT Solusi Environment Asia Tbk atau SOFA resmi bergabung dalam konsorsium proyek waste to energy bersama Zhejiang Weiming melalui anak usaha PT Ananta Energi Asia. Konsorsium ini akan menggarap dua proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik di wilayah Denpasar Raya dan Bogor Raya.

Zhejiang Weiming dikenal sebagai salah satu operator PSEL terbesar di dunia. Pada 2025, perusahaan tersebut memproduksi listrik berbasis sampah sebesar 4,62 miliar kWh, yang menunjukkan kapasitas operasional berskala besar.

Kerja sama itu berpotensi membuka pendapatan berulang bagi SOFA melalui skema Power Purchase Agreement selama 30 tahun dengan PT PLN (Persero). Tarif yang digunakan dalam kerja sama tersebut dipatok tetap sebesar US$0,20 per kWh.

Sementara itu, PT Millennium Pharmacon International Tbk atau SDPC membidik pertumbuhan pendapatan menjadi Rp5 triliun pada 2026. Target itu naik 21,68 persen dibandingkan proyeksi 2025 yang berada di level Rp4,1 triliun.

SMAR Bagi Dividen Tunai

SDPC juga menargetkan laba bersih Rp60 miliar pada 2026, lebih tinggi dari proyeksi sebelumnya sebesar Rp38,46 miliar. Untuk menopang target itu, perseroan menuntaskan pembangunan gudang pusat di Bekasi yang progresnya telah mencapai 95 persen.

Perseroan berharap fasilitas baru tersebut dapat meningkatkan kapasitas hingga tiga kali lipat. SDPC juga menyiapkan ekspansi cabang di Kupang dan Kendari dengan estimasi kontribusi pendapatan masing-masing sekitar Rp5 miliar per bulan.

Dari sektor konsumer, PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk atau SMAR menetapkan dividen tunai tahun buku 2025 sebesar Rp270 per saham. Total nilai dividen mencapai Rp775,49 miliar, setara 30 persen laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk.

SMAR membukukan pendapatan Rp86,95 triliun pada 2025, tumbuh 10,29 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Laba bersih perseroan juga melonjak lebih dari dua kali lipat menjadi Rp2,58 triliun, dengan cum date dividen pada 4 Juni dan pembayaran pada 18 Juni 2026.

Rekomendasi Saham Hari Ini

Sejumlah saham juga masuk pantauan untuk perdagangan hari ini, terutama dari sektor perbankan, energi, konsumsi, dan infrastruktur. Rekomendasi tersebut bersifat informatif dan disusun dengan mempertimbangkan area beli, target harga, serta batas rugi.

KodeArea BeliTarget ProfitStop Loss
BRIS1905-19151935-19901805
INDF6850-69256975-70506525
PGAS1865-18751900-19251760
SSIA1685-17001725-17701590
ISAT2130-21602190-22402020

BRIS menjadi salah satu pilihan karena masih didukung minat beli di sektor perbankan syariah. INDF dan PGAS ikut masuk daftar karena dinilai memiliki katalis teknikal yang menarik dalam jangka pendek.

Adapun SSIA dan ISAT direkomendasikan dengan mempertimbangkan peluang pergerakan harga yang masih cukup aktif. Meski begitu, investor tetap perlu menyesuaikan keputusan dengan profil risiko masing-masing dan kondisi pasar terkini.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!