Pedagang Sate Madura Naik Kelas di Mayestik

Lifestyle Anindya Kirana Putri 31 Mei 2026 13:36 WIB 3
Pedagang Sate Madura Naik Kelas di Mayestik

Aroma daging ayam dan kambing khas Madura tercium kuat dari sebuah ruko dua lantai di Jalan Kyai Maja, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Suasana itu menjadi penanda perubahan besar bagi Mochamad Haidir, pedagang satai berusia 30 tahun, yang kini usahanya naik kelas di kawasan Mayestik. Dari gerobak keliling hingga menempati lokasi strategis, perjalanan usahanya menunjukkan ketekunan yang tidak instan.

Haidir memulai usaha pada 2013 dengan berjualan di atas trotoar, menghadapi penertiban hingga gesekan dengan sesama pedagang. Setelah bertahun-tahun bertahan, ia melihat peluang besar di kawasan perkantoran yang ramai, lalu memutuskan mempertahankan lapaknya di lokasi tersebut. Perjalanannya sempat terhenti oleh pandemi, namun peluang baru akhirnya datang saat sebuah ruko kosong di depan lapaknya ditawarkan untuk disewa.

Sate Madura di Mayestik

Nama Sate Ayam Barokah Mayestik perlahan dikenal para pelanggan yang melintas di kawasan itu. Haidir rutin mengibaskan kipas bambu agar bara arang tetap menyala dan aroma sate tetap menggoda. Aktivitasnya yang tekun menjadi pemandangan khas bagi warga dan pekerja di sekitar Mayestik.

Usaha yang dirintis dari bawah itu awalnya hanya mengandalkan gerobak satai keliling. Pada masa awal, ia harus berhadapan dengan dinamika dagang di jalanan, termasuk penertiban dan penolakan dari pihak lain. Kondisi tersebut membuat Haidir belajar bertahan sekaligus membaca potensi pasar di lokasi yang lebih ramai.

Mayestik dipilih bukan tanpa alasan, karena kawasan tersebut dikelilingi area perkantoran dan pusat aktivitas warga. Situasi ini membuat permintaan terhadap makanan cepat saji dan kuliner malam relatif tinggi. Bagi Haidir, lokasi menjadi salah satu kunci utama keberlangsungan usaha sate Madura yang dijalankannya.

Di tengah persaingan kuliner yang ketat, konsistensi menjadi modal utama agar usahanya tetap dikenal. Haidir menjaga cita rasa dan pelayanan agar pelanggan datang kembali. Strategi sederhana itu membuat lapaknya bertahan dan terus menarik perhatian pembeli baru.

Perjuangan Usaha Kuliner

Jalan usaha Haidir tidak selalu mulus, terutama saat pandemi COVID-19 melanda. Penjualan yang sepi membuatnya sempat stres dan berpikir untuk menyerah. Bahkan, ia pernah menawarkan lapaknya kepada orang lain karena merasa lelah menghadapi situasi tersebut.

Haidir mengaku pernah menilai usahanya layak dihargai Rp150 juta. Namun, ada pihak yang menawar jauh di bawah harapan, yakni sekitar Rp50 juta. Perbedaan nilai itu membuat transaksi batal dan pada akhirnya menjadi keputusan yang menyelamatkan peluang bisnisnya.

Masa sulit tersebut memperlihatkan bahwa usaha kecil juga rentan terhadap guncangan ekonomi. Bagi pedagang kuliner seperti Haidir, ketahanan modal dan kesabaran menjadi faktor penting. Saat permintaan kembali pulih, nilai usaha yang sempat diragukan justru terbukti masih memiliki prospek.

Pengalaman itu menjadi pelajaran berharga dalam menjalankan bisnis makanan. Haidir memahami bahwa keputusan tergesa-gesa bisa menghilangkan potensi jangka panjang. Karena itu, ia memilih bertahan sambil menunggu momentum yang lebih baik.

Momentum Ruko Baru

Titik balik datang pada akhir 2025 ketika sebuah ruko kosong tepat di depan lapak lamanya ditawarkan untuk disewa. Kesempatan itu langsung dibaca Haidir sebagai langkah untuk meningkatkan kualitas usaha. Ia kemudian memutuskan pindah ke tempat yang lebih strategis tanpa menunggu terlalu lama.

Keputusan tersebut memperlihatkan keberanian mengambil peluang saat kondisi mendukung. Ruko baru memberi ruang usaha yang lebih nyaman bagi pelanggan dan lebih terlihat dari jalan utama. Dalam bisnis kuliner, visibilitas lokasi kerap menjadi pembeda antara bertahan dan berkembang.

Dengan tempat yang lebih representatif, Haidir berharap usahanya dapat menjangkau lebih banyak pembeli. Kenyamanan pelanggan, kebersihan area, dan kemudahan akses menjadi nilai tambah yang sulit diabaikan. Semua faktor itu berpotensi memperkuat posisi Sate Ayam Barokah Mayestik di tengah persaingan kuliner Jakarta Selatan.

Pergeseran dari gerobak ke ruko juga menandai transformasi penting dalam perjalanan usahanya. Dari usaha kecil yang sempat hampir berhenti, kini ia memasuki fase baru yang lebih mapan. Perubahan ini menjadi bukti bahwa konsistensi dapat membuka pintu kemajuan.

Konsistensi Menjadi Kunci

Perjalanan Haidir menunjukkan bahwa usaha kuliner tidak hanya ditentukan oleh rasa, tetapi juga ketekunan dalam menghadapi tekanan. Ia bertahan ketika harus berjualan di trotoar, saat persaingan sesama pedagang memanas, hingga ketika pandemi menekan omzet. Dalam setiap fase, ia tetap menjaga satu hal yang paling penting, yaitu keberlanjutan usaha.

Kisah ini juga menggambarkan bagaimana lokasi strategis dapat mengubah nasib sebuah bisnis. Kawasan Mayestik yang ramai menjadi modal tambahan bagi pedagang sate seperti Haidir untuk memperluas jangkauan pelanggan. Ketika kesempatan datang, kesiapan mengambil langkah menjadi penentu hasil akhir.

Bagi pelaku usaha kecil, pengalaman Haidir memberi pesan bahwa tantangan bukan akhir dari perjalanan bisnis. Penolakan, sepi pembeli, dan tekanan pasar dapat menjadi proses pembelajaran yang membentuk ketahanan. Dari situ, peluang baru justru bisa lahir pada waktu yang tidak terduga.

Saat aroma sate kembali memenuhi kawasan Kyai Maja, kisah Haidir menjadi contoh bahwa kerja keras dan keberanian beradaptasi dapat membawa perubahan nyata. Usaha yang dimulai dari gerobak sederhana kini berdiri lebih percaya diri di ruko strategis. Perjalanan itu memperlihatkan bahwa dalam dunia kuliner, konsistensi sering kali lebih berharga daripada langkah yang serba cepat.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!