Dari Karyawan Pabrik ke Bisnis Jajanan Betawi Bernilai Jutaan

Ekonomi Bisnis Dimas Rayyanza 31 Mei 2026 13:38 WIB 2
Dari Karyawan Pabrik ke Bisnis Jajanan Betawi Bernilai Jutaan

Aisah, mantan karyawan pabrik, memulai langkah kecilnya pada 2018 dengan berjualan camilan untuk menambah penghasilan. Dari usaha sampingan itu, ia kemudian membangun merek jajanan khas Betawi bernama Betawi Punya Gaye yang kini menghasilkan omzet jutaan rupiah setiap bulan.

Perjalanan bisnis Aisah tidak selalu mulus karena penjualan keripik sempat tersendat saat pandemi COVID-19. Namun, perempuan yang hampir 20 tahun bekerja di pabrik itu memilih beralih haluan, memperdalam produk tradisional, dan menguatkan usahanya lewat pendampingan, pelatihan, serta pendaftaran HAKI.

Kisah Betawi Punya Gaye

Aisah awalnya berjualan keripik pedas saat masih bekerja di pabrik spidol. Produk itu ia bawa ke tempat kerja, ditawarkan ke teman, lalu dititipkan di warung sekitar tempat tinggalnya. Dari cara sederhana itu, ia mulai melihat peluang usaha yang menjanjikan.

Pendapatan dari jualan awalnya berada di kisaran Rp1 juta hingga Rp2 juta per bulan. Angka tersebut cukup membantu kebutuhan keluarga dan menjadi modal untuk mengembangkan usaha kecilnya. Saat itu, Aisah masih menjalankan bisnis di sela kesibukan sebagai pekerja pabrik.

Situasi berubah ketika warung-warung banyak yang tutup dan penjualan keripik ikut menurun. Kondisi pandemi COVID-19 membuat usaha tersebut mandek dan Aisah harus mencari arah baru. Ia tidak ingin berhenti, meski tekanan ekonomi semakin berat.

Keputusan besar pun diambil ketika ia mengundurkan diri dari pabrik setelah hampir dua dekade bekerja. Menurut Aisah, saat itu ia ingin fokus penuh pada usaha agar bisa berkembang lebih serius. Langkah tersebut menjadi titik balik yang mengubah bisnis sampingannya menjadi sumber penghasilan utama.

Berubah ke Jajanan Tradisional

Setelah meninggalkan usaha keripik, Aisah memilih produk yang lebih dekat dengan akar budaya Betawi. Ia mulai memproduksi kembang goyang, biji ketapang, kacang bawang, dan aneka camilan jadul lainnya. Pilihan itu dinilai lebih kuat karena punya ciri khas yang membedakannya dari banyak penjual lain.

Aisah mengaku mengenal dunia membuat kue sejak kecil karena sering membantu orang tua. Pengalaman itu membuatnya lebih mudah bereksperimen dengan resep camilan tradisional. Ia kemudian mengolah bahan dan takaran secara autodidak sampai menemukan rasa yang dianggap pas.

Produk-produk tersebut dipasarkan dengan identitas Betawi Punya Gaye. Nama itu dipilih setelah nama awal, Camilan 19, dinilai terlalu umum dan kurang kuat secara merek. Dengan identitas baru, Aisah ingin usahanya lebih mudah dikenali konsumen.

Kehadiran merek yang lebih khas juga membuat produk Aisah punya nilai cerita yang kuat. Ia tidak hanya menjual makanan ringan, tetapi juga menghadirkan nuansa budaya Betawi dalam setiap kemasan. Strategi ini membantu produknya menonjol di tengah persaingan camilan rumahan.

Naik Kelas Lewat HAKI

Pada 2020, Aisah mulai menekuni usahanya secara serius dengan bergabung ke Jakpreneur. Program tersebut memberinya akses untuk belajar, membangun jejaring, dan memperkuat struktur usaha. Waktu luangnya kemudian banyak dipakai untuk mengikuti berbagai pelatihan yang mendukung bisnisnya.

Salah satu langkah penting yang ia ikuti adalah bimtek pembuatan Hak Kekayaan Intelektual dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Dari proses itu, Aisah memahami pentingnya perlindungan merek dalam usaha. Ia tidak ingin nama yang sudah dibangun dengan susah payah dipakai pihak lain.

Dengan pendampingan tersebut, ia akhirnya memilih nama Betawi Punya Gaye sebagai merek dagang. Identitas ini bukan hanya soal branding, tetapi juga bentuk komitmen menjaga orisinalitas produk. Bagi Aisah, legalitas menjadi fondasi agar usaha bisa naik kelas.

Langkah mendaftarkan HAKI juga menunjukkan keseriusannya dalam mengembangkan bisnis jangka panjang. Di level UMKM, perlindungan merek dapat membantu memperluas pasar dan meningkatkan kepercayaan konsumen. Aisah pun menjadikan aspek ini sebagai salah satu pijakan utama usahanya.

Omzet dan Peluang Bisnis

Transformasi usaha Aisah akhirnya membuahkan hasil yang lebih stabil. Dari bisnis camilan tradisional, ia berhasil mencatat omzet jutaan rupiah setiap bulan. Capaian itu menjadi bukti bahwa produk lokal tetap memiliki pasar yang besar jika dikelola dengan tepat.

Keberhasilan tersebut juga dipengaruhi oleh konsistensi dalam menjaga kualitas rasa. Aisah berupaya mempertahankan karakter camilan Betawi agar tetap relevan bagi pembeli lama maupun generasi baru. Di sisi lain, kemasan dan nama merek turut memperkuat daya tarik produk.

Kisah Aisah menunjukkan bahwa usaha kecil dapat tumbuh ketika pelaku mau beradaptasi dengan kondisi pasar. Saat produk lama tak lagi laris, ia tidak ragu mengganti arah bisnis dan mencoba peluang baru. Keberanian itu menjadi kunci dalam mempertahankan keberlangsungan usaha.

Dari seorang karyawan pabrik menjadi pemilik usaha camilan tradisional, Aisah membuktikan perubahan besar bisa dimulai dari langkah sederhana. Bisnis Betawi Punya Gaye kini tidak hanya memberi penghasilan, tetapi juga membawa nilai budaya ke pasar yang lebih luas. Perjalanan ini menjadi contoh bahwa ketekunan, inovasi, dan legalitas dapat mendorong UMKM tumbuh lebih kuat.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!