Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG kembali tertekan pada perdagangan Jumat, 22 Mei 2026, dan sempat bergerak di kisaran 5.000-an seperti masa pandemi COVID-19. Berdasarkan data RTI pada pukul 09.05 WIB, IHSG berada di level 6.047 atau melemah 47 poin, setara 0,78 persen.
IHSG dibuka pada level 6.065, lalu bergerak fluktuatif dengan rentang terendah 5.966 dan tertinggi 6.074. Kondisi ini menunjukkan tekanan jual masih mendominasi pasar pada awal perdagangan hari ini.
IHSG Terkoreksi Pagi Ini
Pergerakan IHSG pada sesi pagi berlangsung volatil sejak pembukaan perdagangan. Indeks sempat menguat tipis sebelum berbalik melemah cukup dalam.
Tekanan tersebut membuat IHSG turun ke bawah level 6.000 untuk sementara waktu. Pergerakan itu menjadi perhatian pelaku pasar karena terjadi di tengah sentimen yang belum sepenuhnya pulih.
Secara intraday, indeks mencatat rentang perdagangan yang cukup lebar. Hal ini menandakan pasar masih mencari arah yang lebih jelas.
Bandingkan Dengan Masa Pandemi
Kondisi IHSG saat ini mengingatkan kembali pada fase awal pandemi COVID-19. Kala itu, pasar modal Indonesia mengalami tekanan besar akibat kepanikan global dan ketidakpastian ekonomi.
Setelah Presiden Joko Widodo mengumumkan dua kasus positif pertama pada 2 Maret 2020, IHSG ditutup turun 91 poin atau 1,67 persen ke level 5.361. Sejak saat itu, tekanan terhadap pasar saham kian dalam seiring bertambahnya jumlah kasus.
Pada 9 Maret 2020, IHSG bahkan terkoreksi 6,5 persen ke level 5.136. Penurunan setajam itu tergolong jarang terjadi dan umumnya hanya muncul saat kondisi ekonomi sangat serius.
Transaksi Masih Cukup Aktif
Meski melemah, perdagangan pagi ini masih mencatat aktivitas yang cukup besar. Nilai transaksi indeks mencapai Rp1,67 triliun dengan volume 3,60 miliar lembar saham.
Frekuensi transaksi juga terpantau tinggi, yakni sebanyak 178.693 kali. Data tersebut menunjukkan minat pelaku pasar tetap ada, meski arah perdagangan cenderung negatif.
Dari total saham yang diperdagangkan, sebanyak 129 saham menguat, 418 saham melemah, dan 155 saham stagnan. Komposisi ini memperlihatkan tekanan jual masih lebih dominan dibandingkan minat beli.
Tekanan Berlanjut Sepanjang Tahun
Selain melemah harian, IHSG juga tercatat turun 20,01 poin secara bulanan. Dalam periode yang lebih panjang, indeks terkoreksi 25,38 persen secara tiga bulanan.
Sepanjang 2026, IHSG sudah melemah 30,07 persen. Penurunan beruntun ini menjadi sinyal bahwa pasar masih menghadapi tekanan yang cukup berat.
Dalam situasi seperti ini, pelaku pasar cenderung bersikap lebih hati-hati. Investor biasanya menunggu kepastian sentimen sebelum kembali masuk secara agresif ke pasar saham.
