IHSG Melemah Hampir 2% Saat Bursa Asia Menguat

Forex & Saham Fajar Nugraha Utama 27 Mei 2026 12:36 WIB 2
IHSG Melemah Hampir 2% Saat Bursa Asia Menguat

Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG melemah hampir 2 persen pada sesi awal perdagangan, Kamis, 21 Mei 2026. Berdasarkan data RTI Business, indeks saham domestik itu turun 1,94 persen ke level 6.196,80 setelah sempat dibuka menguat di 6.378,81. Pelemahan terjadi saat mayoritas bursa Asia justru bergerak naik, menyusul pengumuman Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait tahap akhir negosiasi perang dengan Iran.

Pergerakan berlawanan itu menunjukkan sentimen pasar regional masih sangat dipengaruhi perkembangan geopolitik global. Harapan meredanya konflik AS-Iran dinilai dapat menekan harga minyak dunia dan mendorong minat investor pada aset berisiko. Kondisi tersebut membuat bursa Asia tampil lebih kuat, sementara IHSG tertekan pada awal perdagangan.

IHSG Tertekan di Awal

IHSG langsung bergerak melemah pada awal sesi perdagangan di Bursa Efek Indonesia. Penurunan itu membawa indeks ke level 6.196,80 atau terkoreksi 1,94 persen.

Padahal, pada pembukaan perdagangan IHSG sempat menguat hingga 6.378,81. Perubahan arah yang cepat ini menandakan tekanan jual datang sesaat setelah pasar dibuka.

Pergerakan indeks domestik tersebut menjadi sorotan karena terjadi di tengah sentimen regional yang positif. Kondisi ini memperlihatkan bahwa pasar saham Indonesia belum sepenuhnya mengikuti arah bursa Asia.

Investor tampak mencermati berbagai faktor, mulai dari isu global hingga prospek ekonomi jangka pendek. Dalam situasi seperti ini, volatilitas pasar cenderung meningkat pada perdagangan intraday.

Bursa Asia Bergerak Menguat

Mayoritas bursa saham Asia-Pasifik dibuka lebih tinggi pada perdagangan Kamis ini. Penguatan tersebut sejalan dengan kenaikan Wall Street pada perdagangan sebelumnya.

Sentimen positif muncul setelah Donald Trump menyebut negosiasi dengan Iran telah memasuki tahap akhir. Pernyataan itu dinilai menambah harapan pasar terhadap meredanya ketegangan di Timur Tengah.

Optimisme investor kemudian mengalir ke sejumlah indeks utama di kawasan. Pasar menilai peluang damai dapat mengurangi risiko gangguan pasokan energi global.

Selain faktor geopolitik, data perdagangan terbaru dari Jepang juga ikut memberi dorongan. Kombinasi sentimen tersebut membuat pasar Asia tampil lebih kuat dibandingkan IHSG.

Penguatan Dipicu Harapan Damai

Harapan akan tercapainya kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran menjadi pemicu utama penguatan pasar. Investor menilai perkembangan ini berpotensi menekan harga minyak dunia.

Jika harga minyak turun, tekanan inflasi global dapat mereda dalam jangka pendek. Situasi itu biasanya dipandang positif bagi pasar saham karena meningkatkan ruang bagi pertumbuhan ekonomi.

Pasar juga membaca sinyal tersebut sebagai pengurang risiko geopolitik yang selama ini membayangi. Dengan risiko yang lebih rendah, pelaku pasar cenderung kembali masuk ke aset berisiko.

Meski demikian, respons tiap bursa tetap berbeda, tergantung pada struktur sektoral dan arus dana masing-masing pasar. IHSG menjadi salah satu indeks yang belum mampu memanfaatkan sentimen positif tersebut secara penuh.

Pergerakan Indeks Kawasan

Di Jepang, indeks Nikkei 225 pada pembukaan perdagangan naik 3,54 persen. Kenaikan itu terjadi setelah rilis data perdagangan terbaru yang memperkuat sentimen positif pasar.

Di Korea Selatan, indeks Kospi memperpanjang penguatan hingga 7 persen pada awal sesi. Sementara itu, Kosdaq juga naik 4,88 persen dan menambah optimisme di bursa setempat.

Australia turut mencatat penguatan melalui indeks S&P/ASX 200 yang naik 1,62 persen. Dari China, indeks CSI 300 menguat 1,67 persen, sedangkan Hang Seng Hong Kong naik 0,24 persen.

Pergerakan tersebut menunjukkan bursa Asia cenderung merespons positif perkembangan global terkini. Dalam konteks ini, pelemahan IHSG menjadi anomali di tengah penguatan kawasan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!