IHSG Melemah, Emiten Siapkan Buyback Saham

Forex & Saham Kevin S. Pratama 25 Mei 2026 19:58 WIB 2
IHSG Melemah, Emiten Siapkan Buyback Saham

Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG ditutup melemah 3,46 persen ke level 6.370,68 pada perdagangan Selasa, 19 Mei, di tengah tekanan pada mayoritas sektor dan pelemahan bursa global. Meski pasar berada di zona merah, investor asing masih mencatatkan beli bersih di pasar reguler dan seluruh pasar, sementara sejumlah emiten mengumumkan aksi korporasi baru.

Sentimen eksternal, arah suku bunga Bank Indonesia, serta pergerakan harga minyak menjadi perhatian utama pelaku pasar. Di sisi lain, saham-saham seperti SRAJ, AMRT, dan BRIS masih mampu mencatat penguatan, meski tekanan besar juga menimpa emiten lain seperti DSSA, MORA, dan BBCA.

IHSG dan Tekanan Global

Pergerakan IHSG pada penutupan perdagangan mencerminkan aksi jual yang meluas di hampir seluruh sektor. Hanya sektor kesehatan yang mampu bertahan dengan kenaikan tipis 0,55 persen. Sebaliknya, sektor basic industry menjadi penekan terbesar dengan koreksi 7,30 persen. Kondisi ini menunjukkan sentimen domestik masih rapuh di tengah risiko eksternal yang tinggi.

Tekanan pasar juga datang dari bursa Amerika Serikat yang kompak melemah pada perdagangan sebelumnya. Dow Jones turun 0,65 persen, S&P 500 terkoreksi 0,67 persen, dan Nasdaq melemah 0,84 persen. Pelemahan tersebut ikut memicu sikap hati-hati investor di pasar saham Indonesia. Arus modal asing tetap masuk, tetapi belum cukup kuat untuk menahan koreksi indeks.

Selain pasar global, pelaku pasar juga menanti keputusan suku bunga Bank Indonesia untuk Mei 2026. Konsensus memperkirakan BI Rate naik menjadi 5,00 persen dari 4,75 persen. Ekspektasi itu muncul seiring tekanan terhadap rupiah yang berada di kisaran Rp17.705 per dolar AS. Kombinasi faktor tersebut membuat investor cenderung selektif dalam mengambil posisi.

Saham Yang Tetap Menguat

Di tengah pelemahan indeks, beberapa saham justru mampu mencatat kinerja positif. Sejahteraraya Anugrahjaya Tbk atau SRAJ naik 9,06 persen, disusul Sumber Alfaria Trijaya Tbk atau AMRT yang menguat 2,12 persen. Bank Syariah Indonesia Tbk atau BRIS juga bertambah 4,12 persen. Penguatan ini menunjukkan minat beli tetap muncul pada saham tertentu yang dinilai defensif atau memiliki katalis spesifik.

Kenaikan pada saham-saham tersebut memberikan sinyal bahwa rotasi sektor masih terjadi di pasar. Investor tampak memilih saham dengan fundamental relatif kuat di tengah tekanan indeks yang lebih luas. Saham ritel dan kesehatan menjadi pilihan ketika volatilitas meningkat. Pola ini juga memperlihatkan bahwa aksi jual tidak merata di seluruh emiten.

Meski demikian, penguatan pada beberapa saham belum cukup mengangkat IHSG ke zona hijau. Tekanan pada saham berkapitalisasi besar masih membebani indeks secara keseluruhan. Pada saat bersamaan, pelaku pasar menimbang peluang masuk secara bertahap pada saham yang masih memiliki prospek bisnis. Pendekatan selektif menjadi strategi yang paling banyak dipertimbangkan saat ini.

Aksi Buyback Emiten

Delta Dunia Makmur Tbk atau DOID mengumumkan rencana pembelian kembali saham dengan nilai maksimal US$6 juta atau sekitar Rp104,25 miliar. Dana buyback akan bersumber dari kas internal perseroan. Perseroan menargetkan pembelian hingga 320,77 juta saham atau setara 4,36 persen dari modal ditempatkan dan disetor penuh. Langkah ini akan dibahas dalam RUPS pada 24 Juni 2026.

Pelaksanaan buyback DOID akan dilakukan bertahap selama maksimal 12 bulan setelah memperoleh persetujuan pemegang saham. Batas akhir pelaksanaan ditetapkan pada Juni 2027. Hingga akhir Desember 2025, posisi kas perseroan tercatat sebesar US$210,26 juta. Setelah aksi tersebut, jumlah saham beredar diproyeksikan turun menjadi 7,03 miliar lembar.

Estika Tata Tiara Tbk atau BEEF juga menyiapkan buyback saham dengan nilai maksimal Rp100 miliar. Perseroan menargetkan pembelian kembali sekitar 333,33 juta saham atau setara 4,10 persen dari total saham beredar. Harga maksimal yang disiapkan adalah Rp300,60 per saham, dengan pelaksanaan melalui BCA Sekuritas mulai 19 Mei 2026 hingga 18 Mei 2027. Aksi korporasi ini mencerminkan upaya emiten menjaga kepercayaan pasar dan mendukung valuasi saham.

Fokus Investor Saham

Selain aksi korporasi, investor juga mencermati kinerja emiten yang terdampak tekanan biaya. ABM Investama Tbk atau ABMM membukukan laba bersih kuartal I-2026 sebesar US$14,88 juta, turun 30,39 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Pendapatan perseroan ikut menyusut menjadi US$222,65 juta dari US$250,02 juta. Manajemen menyebut lonjakan harga bahan bakar minyak menjadi salah satu faktor yang menekan operasional.

Harga minyak pada kuartal I-2026 tercatat mencapai US$101,38 per barel, jauh lebih tinggi dibanding posisi akhir 2025 sebesar US$57,42 per barel. Kondisi ini menambah beban biaya bagi perusahaan yang bergerak di sektor terkait energi dan pertambangan. ABMM juga masih fokus menyelesaikan perizinan proyek PT Piranti Jaya Utama di Kalimantan Tengah. Perusahaan menargetkan proyek tersebut mulai beroperasi pada akhir 2026.

Dari sisi rekomendasi, sejumlah saham seperti TLKM, ASPR, MYOR, SMIL, dan AMRT masuk radar analis dengan strategi beli bertahap. Namun, keputusan investasi tetap perlu disesuaikan dengan profil risiko masing-masing investor. Volatilitas pasar yang tinggi membuat disiplin pada batas risiko menjadi penting. Dengan kombinasi sentimen global, arah suku bunga, dan aksi emiten, pasar saham diperkirakan masih bergerak dinamis dalam waktu dekat.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!