IHSG Melemah 2,76 Persen ke Level 6.144,35

Forex & Saham Kevin S. Pratama 27 Mei 2026 02:03 WIB 2
IHSG Melemah 2,76 Persen ke Level 6.144,35

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah tajam pada penutupan perdagangan sesi I, Kamis (21/5), setelah sempat bergerak menguat di awal sesi. Berdasarkan data RTI Business, IHSG turun 2,76 persen ke level 6.144,35, dari posisi intraday di 6.378,81. Tekanan jual yang kuat membuat indeks saham domestik kembali tertekan hingga ke level 6.100-an.

Sepanjang sesi I, perdagangan di Bursa Efek Indonesia mencatat volume 19,91 miliar saham dengan nilai transaksi Rp9,78 triliun. Total frekuensi perdagangan mencapai 1.285.918 kali, menunjukkan aktivitas pasar tetap tinggi meski indeks melemah. Sementara itu, 118 saham menguat, 601 saham melemah, dan 94 saham stagnan.

Tekanan IHSG Meningkat

Pergerakan IHSG pada sesi I menunjukkan volatilitas yang cukup tinggi sejak pembukaan perdagangan. Indeks sempat menanjak ke level 6.378,81, namun kemudian berbalik arah dan masuk zona merah. Koreksi tersebut menandakan dominasi tekanan jual di hampir seluruh sektor.

Penurunan IHSG sebesar 2,76 persen membuat pasar kembali mencatat pelemahan yang signifikan dalam perdagangan intraday. Kondisi ini juga menambah tekanan terhadap indeks yang sepanjang tahun berjalan sudah melemah 28,94 persen. Pelemahan beruntun tersebut menjadi perhatian pelaku pasar yang mencermati arah kebijakan dan sentimen eksternal.

Di tengah kondisi itu, investor cenderung mengambil sikap hati-hati dan membatasi transaksi pada saham-saham yang dianggap berisiko tinggi. Pola seperti ini membuat pergerakan indeks sulit bertahan di zona hijau. Tekanan pada saham-saham berkapitalisasi besar turut memperdalam koreksi IHSG.

Aktivitas Perdagangan Tetap Ramai

Meski indeks turun, nilai transaksi di pasar saham masih terjaga di level tinggi. Tercatat transaksi mencapai Rp9,78 triliun dengan volume hampir 20 miliar saham pada sesi I. Angka tersebut menunjukkan minat pelaku pasar belum surut sepenuhnya.

Frekuensi perdagangan yang mencapai 1.285.918 kali menegaskan tingginya perputaran saham di Bursa Efek Indonesia. Aktivitas ini umumnya mencerminkan respons cepat investor terhadap perubahan harga yang terjadi intraday. Dalam kondisi pasar seperti ini, volatilitas menjadi faktor utama yang memengaruhi keputusan transaksi.

Dominasi saham melemah juga terlihat dari komposisi pergerakan emiten di lantai bursa. Jumlah saham yang turun jauh lebih banyak dibandingkan saham yang menguat. Ketidakseimbangan tersebut memperlihatkan tekanan jual masih menjadi pengendali utama pasar pada sesi tersebut.

Sejumlah Saham Terseret ARB

Beberapa saham mengalami penurunan hingga menyentuh Auto Reject Bawah atau ARB. PT LCK Global Kedaton Tbk (LCKM) turun 14,95 persen ke harga Rp165 per saham. Penurunan serupa juga dialami oleh PT Cakra Buana Resources Energi Tbk (CBRE) yang melemah 14,72 persen ke Rp695 per saham.

Saham PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) milik Prajogo Pangestu ikut terkoreksi 14,65 persen menjadi Rp2.270 per saham. Di sisi lain, PT Bumi Resources Minerals Tbk (BMRS) milik Bakrie Grup turun 14,39 persen ke level Rp565 per saham. Kondisi ini menunjukkan tekanan jual tidak hanya menimpa saham kecil, tetapi juga emiten yang cukup dikenal pasar.

PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA) milik Hapsoro juga tidak luput dari pelemahan, dengan koreksi 13,50 persen ke Rp705 per saham. Daftar saham yang masuk ARB mencerminkan sentimen negatif yang meluas di pasar. Dalam situasi seperti ini, investor biasanya menunggu stabilisasi harga sebelum kembali masuk.

Prospek Pasar Masih Rentan

Pelemahan IHSG pada sesi I menjadi sinyal bahwa pasar masih berada dalam fase rentan. Selama tekanan jual belum mereda, indeks berpotensi bergerak liar dalam rentang yang sempit. Pelaku pasar akan sangat memperhatikan aliran dana asing dan sentimen global pada perdagangan berikutnya.

Di tengah koreksi tersebut, sektor-sektor yang sebelumnya menopang penguatan masih belum mampu menahan laju penurunan indeks. Pergerakan saham unggulan yang ikut melemah membuat pemulihan IHSG menjadi lebih berat. Investor dinilai perlu mencermati saham dengan fundamental kuat dan likuiditas baik.

Dengan pelemahan tahunan yang masih dalam di angka 28,94 persen, IHSG membutuhkan katalis positif untuk membalikkan tren. Data perdagangan sesi I memperlihatkan bahwa tekanan jual masih dominan di pasar. Arah pergerakan pada sesi berikutnya akan menjadi penentu apakah indeks mampu bangkit atau justru kembali tertekan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!