Kisah Hikma Bangkit Lewat Salad Umma

Lifestyle Clara Monica 27 Mei 2026 03:23 WIB 2
Kisah Hikma Bangkit Lewat Salad Umma

Hikma Nurul Audhliya, perempuan 38 tahun asal Jakarta, berhasil memulai kembali hidupnya dari nol setelah usaha makeup artist yang dirintisnya terdampak pandemi. Ia kemudian membangun usaha kuliner sehat bernama Salad Umma, yang perlahan naik kelas berkat pelatihan, inovasi produk, dan dukungan pembiayaan Kredit Usaha Rakyat atau KUR dari PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk.

Kisah ini bermula ketika seluruh pesanan pernikahan yang menjadi sumber penghasilan utamanya dibatalkan serentak pada akhir 2020. Dari situ, Hikma harus menjual mobil, baju, hingga peralatan rias untuk menutup kewajiban kepada vendor, sebelum akhirnya menemukan peluang baru di sektor usaha makanan sehat.

Bangkit Lewat Salad Umma

Hikma sempat berada di titik terendah ketika seluruh jadwal acara pernikahan yang telah dipesan pelanggan dibatalkan akibat pandemi. Uang muka dari calon pengantin sudah diteruskan ke vendor dekorasi, tenda, dan bunga, sehingga ia harus menanggung kerugian besar. Dalam situasi itu, ia memilih menutup usaha sementara dan menjual aset yang masih bisa dilepas.

Perempuan ini mengaku kondisi saat itu membuatnya pasrah karena seluruh perlengkapan kerja ikut dijual untuk menutup kerugian. Ia bahkan melepas mobil dan perlengkapan makeup yang selama ini menjadi modal utama usahanya. Tekanan ekonomi tersebut mendorongnya mencari sumber penghasilan baru yang lebih memungkinkan dijalankan dari rumah.

Keputusan untuk bangkit tidak datang seketika, tetapi melalui proses panjang yang penuh pertimbangan. Hikma kemudian mencari jalan keluar dengan mengikuti program Kartu Prakerja dan mencoba berbagai kelas pelatihan. Dari proses itu, ia mulai melihat peluang usaha yang lebih sederhana, fleksibel, dan sesuai dengan kebutuhan pasar saat itu.

Pelatihan Jadi Titik Balik

Pada awalnya, Hikma memilih kelas makeup karena masih berharap industri pernikahan segera pulih. Namun, situasi yang belum membaik membuatnya mengubah arah dan mulai mempertimbangkan jenis usaha yang lebih praktis. Dari sana, ia melihat peluang pada produk makanan sehat yang bisa diproduksi dengan peralatan sederhana.

Pilihannya jatuh pada salad sayur karena tidak memerlukan kompor, minyak, atau gas. Menurutnya, usaha seperti itu lebih ringkas dijalankan dari dapur rumah dan tetap menjawab tren masyarakat yang ingin hidup sehat. Pertimbangan itulah yang membuatnya mantap memulai Salad Umma sebagai bisnis baru.

Dari Kartu Prakerja, Hikma memperoleh voucher pelatihan usaha senilai Rp 1 juta dan kemudian menerima dukungan dana Rp 600 ribu per bulan selama empat bulan, sehingga total modal yang ia kelola mencapai Rp 2,4 juta. Dana tersebut digunakan untuk membeli bahan baku serta perlengkapan bertahap, mulai dari chopper, blender, kemasan, hingga showcase. Dengan modal terbatas, ia membangun fondasi usaha sedikit demi sedikit tanpa harus mengeluarkan biaya besar di awal.

Modal Kecil Dari Rumah

Salad Umma pertama kali dirintis dari dapur rumah dengan konsep usaha yang sederhana namun terukur. Lokasi produksi yang dekat dengan kawasan indekost karyawan membuat produk ini memiliki pasar awal yang cukup jelas. Dari situ, Hikma mulai menawarkan salad sayur kepada konsumen di sekitar tempat tinggalnya.

Seiring waktu, ia mulai menerima pesanan yang lebih beragam dan melihat peluang untuk memperluas lini produk. Pada 2022, ia mendapat pesanan untuk acara ulang tahun dan dari pengalaman itu kemudian menghadirkan salad buah. Inovasi tersebut membuat pilihan menu Salad Umma semakin variatif dan lebih menarik bagi pelanggan.

Meski sudah aktif berjualan melalui pesanan online dan promosi di media sosial, omzet usahanya sempat naik turun. Hikma menyebut pendapatannya kadang hanya Rp 15 ribu per hari, namun di hari lain dapat mencapai Rp 100 ribu. Dalam momen tertentu, ia bahkan tidak menerima pesanan sama sekali.

Omzet Naik Berkat Dukungan

Perubahan besar mulai terasa ketika produk Salad Umma memperoleh sertifikasi halal. Pengakuan itu menambah kepercayaan pelanggan, terutama di tengah meningkatnya minat masyarakat terhadap makanan sehat dan terjamin. Setelah itu, usahanya juga ikut dalam kegiatan bazar yang digelar Jakpreneur.

Melalui bazar tersebut, Hikma mendapatkan jejaring usaha yang lebih luas dan membuka akses ke berbagai pesanan baru. Ia kemudian menerima permintaan rutin untuk rapat kementerian dan pemerintah daerah. Dari yang semula hanya mengandalkan penjualan harian, usahanya mulai masuk ke pasar yang lebih stabil.

Perkembangan itu membuat omzet harian Salad Umma meningkat tajam hingga bisa mencapai Rp 1 juta per hari. Dukungan pembiayaan KUR dari BRI turut membantu penguatan usaha, terutama ketika kebutuhan modal kerja semakin besar. Kisah Hikma menunjukkan bahwa ketekunan, pelatihan, dan akses pembiayaan dapat menjadi jalan pemulihan bagi pelaku usaha kecil.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!