Sarden Kalengan Disorot, Real Food Tetap Dianggap Terbaik

Lifestyle Clara Monica 27 Mei 2026 04:42 WIB 2
Sarden Kalengan Disorot, Real Food Tetap Dianggap Terbaik

Sarden kalengan belakangan ramai dibicarakan karena dianggap bukan Ultra Processed Food atau UPF. Di tengah perdebatan itu, praktisi kesehatan dr Aru Ariadno, SpPD-KGEH menegaskan bahwa real food tetap menjadi pilihan paling sehat.

Pernyataan tersebut disampaikan dr Aru dalam perbincangan dengan detikcom pada Kamis, 21 Mei 2026. Ia menilai, makanan olahan tetap menyimpan risiko karena proses pembuatannya tidak selalu diketahui secara utuh oleh konsumen.

Sarden Kalengan dan Kesehatan

Menurut dr Aru, makanan yang paling baik bagi tubuh tetaplah real food. Ia menilai sarden kalengan dan berbagai makanan olahan lain tidak bisa langsung disamakan dengan pilihan yang sepenuhnya aman.

Ia menjelaskan bahwa proses pembuatan makanan olahan kerap melibatkan campuran bahan tambahan. Konsumen, kata dia, tidak selalu mengetahui detail keamanan dari setiap komponen yang digunakan.

Meski ada aturan yang mengawasi industri pangan, potensi penyimpangan tetap mungkin terjadi. Kondisi itu, menurutnya, dapat berdampak pada kesehatan jika berlangsung terus-menerus.

Real Food Lebih Diutamakan

Dr Aru menegaskan bahwa real food sebaiknya menjadi acuan utama dalam pola makan harian. Ia menilai makanan segar dan minim proses lebih mudah dikendalikan dari sisi bahan maupun kualitas.

Dalam pandangannya, makanan alami memberi ketenangan karena asal-usulnya lebih jelas. Hal itu berbeda dengan makanan olahan yang sering kali memiliki tahapan produksi lebih panjang.

Karena itu, ia mendorong masyarakat untuk lebih sering memilih bahan pangan segar. Pilihan tersebut dinilai lebih selaras dengan upaya menjaga kesehatan jangka panjang.

Risiko Makanan Olahan

Ia mengaitkan meningkatnya konsumsi makanan olahan dengan tren penyakit metabolik yang makin banyak ditemui. Menurutnya, angka kejadian penyakit saat ini cenderung lebih tinggi dibandingkan generasi sebelumnya.

Dr Aru menyebut, banyak orang berusia sekitar 30 tahun sudah mengalami masalah metabolik. Kondisi itu termasuk hipertensi dan diabetes yang kini juga muncul pada usia lebih muda.

Ia menilai, lonjakan kasus pada anak muda menjadi tanda bahwa pola makan perlu dievaluasi. Bagi dia, kebiasaan konsumsi makanan olahan harus dibarengi dengan kesadaran risiko kesehatan.

Praktis Namun Tetap Waspada

Di sisi lain, dr Aru mengakui bahwa tidak semua orang mudah mengandalkan real food setiap hari. Kesibukan membuat banyak orang kesulitan belanja dan memasak secara rutin.

Dalam kondisi seperti itu, makanan olahan sering menjadi pilihan praktis yang sulit dihindari. Ia memahami bahwa kebutuhan kecepatan dalam aktivitas harian kerap memengaruhi pola makan masyarakat.

Namun, ia menekankan pentingnya tetap waspada dalam memilih makanan yang dikonsumsi. Jika memang harus praktis, konsumen disarankan tetap memperhatikan kandungan dan frekuensi konsumsinya.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!