IHSG Melemah 1,94% di Awal Perdagangan, Bursa Asia Menguat

Forex & Saham Stanislaus Firstyan Gratia 27 Mei 2026 11:37 WIB 2
IHSG Melemah 1,94% di Awal Perdagangan, Bursa Asia Menguat

Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG melemah tajam pada awal perdagangan Kamis, 21 Mei 2026, seiring sentimen pasar regional bergerak positif. Berdasarkan data RTI Business, IHSG turun 1,94 persen ke level 6.196,80 setelah sempat dibuka menguat ke 6.378,81.

Pergerakan pasar domestik ini berlawanan dengan mayoritas bursa Asia yang justru menguat. Optimisme investor muncul setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyebut negosiasi tahap akhir terkait perang dengan Iran telah berlangsung.

IHSG Tertekan Sentimen Global

Tekanan pada IHSG terjadi di tengah respons pelaku pasar terhadap kabar dari Amerika Serikat. Pernyataan Trump memicu pergeseran ekspektasi investor terhadap arah pasar global, terutama aset berisiko.

Meski pembukaan sempat hijau, arah indeks berubah cepat pada sesi awal. Kondisi ini menunjukkan pelaku pasar di Indonesia masih berhati-hati membaca dampak perkembangan geopolitik dan sentimen eksternal.

Selain itu, pelemahan IHSG juga mencerminkan adanya aksi ambil untung setelah pembukaan yang lebih tinggi. Situasi tersebut membuat indeks bergerak berlawanan dengan pasar Asia yang lebih optimistis.

Bursa Asia Menguat Serentak

Pasar Asia-Pasifik dibuka lebih tinggi pada perdagangan Kamis, mengikuti penguatan Wall Street pada sesi sebelumnya. Penguatan itu terjadi setelah pernyataan Trump dinilai meningkatkan peluang meredanya ketegangan di Timur Tengah.

Indeks Nikkei 225 Jepang tercatat naik 3,54 persen pada pembukaan perdagangan. Kenaikan juga terlihat pada bursa Korea Selatan, dengan Kospi menguat hingga 7 persen dan Kosdaq naik 4,88 persen.

Di Australia, indeks S&P/ASX 200 bertambah 1,62 persen. Sementara itu, CSI 300 China naik 1,67 persen dan Hang Seng Hong Kong menguat 0,24 persen.

Harapan Damai Tekan Minyak

Optimisme pasar didorong oleh harapan bahwa pembicaraan AS dan Iran dapat membuka jalan menuju perdamaian. Jika ketegangan mereda, harga minyak dunia diperkirakan ikut turun karena risiko pasokan berkurang.

Penurunan harga minyak biasanya dipandang positif bagi pasar saham global. Biaya energi yang lebih rendah dapat membantu meredakan tekanan inflasi dan memperbaiki prospek pertumbuhan ekonomi.

Meski begitu, pelaku pasar tetap mencermati perkembangan negosiasi tersebut secara hati-hati. Setiap perubahan pernyataan dari Washington maupun Teheran berpotensi memicu volatilitas baru di bursa.

Prospek IHSG Masih Dinamis

Pergerakan IHSG dalam sesi berikutnya masih sangat bergantung pada respons investor terhadap sentimen global. Selain isu geopolitik, pasar juga akan memperhatikan arah arus modal asing dan pergerakan harga komoditas.

Jika sentimen eksternal membaik, peluang pemulihan indeks domestik tetap terbuka. Namun, tekanan bisa kembali muncul apabila pelaku pasar memilih menunggu kepastian lebih lanjut dari perkembangan negosiasi AS dan Iran.

Dalam kondisi seperti ini, volatilitas diperkirakan masih tinggi pada perdagangan saham di Indonesia. Investor disarankan mencermati dukungan teknikal dan sentimen global sebelum mengambil keputusan transaksi.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!