IHSG Melemah 0,82%, Sektor Keuangan Jadi Penopang

Forex & Saham Gilang Nabaris 28 Mei 2026 17:53 WIB 2
IHSG Melemah 0,82%, Sektor Keuangan Jadi Penopang

Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG berakhir di zona merah pada perdagangan Rabu, 20 Mei, setelah turun 0,82 persen ke level 6.318,50. Pelemahan ini terjadi ketika mayoritas sektor tertekan, terutama basic industry yang terkoreksi paling dalam sebesar 4,67 persen. Di sisi lain, sektor keuangan justru menjadi penopang utama pasar dengan kenaikan 1,21 persen. Sentimen domestik dan global turut mewarnai pergerakan pasar sepanjang sesi perdagangan.

Tekanan pada saham-saham grup petrokimia dan energi membuat laju indeks tidak mampu bertahan di area positif. Investor juga mencermati rencana pemerintah membentuk BUMN ekspor untuk sentralisasi ekspor CPO dan batu bara, yang dinilai memberi tekanan tambahan pada saham berbasis komoditas. Dari eksternal, pelaku pasar menunggu notulen rapat FOMC The Fed serta data neraca berjalan Indonesia kuartal I-2026. Bursa Amerika Serikat yang menguat pada perdagangan sebelumnya belum cukup mengangkat minat beli di pasar saham domestik.

IHSG Tertekan Sektor Industri

IHSG bergerak melemah sepanjang perdagangan dan ditutup di bawah level pembukaan. Tekanan terbesar datang dari sektor basic industry yang terkoreksi cukup dalam. Kondisi ini menunjukkan minat beli investor masih selektif. Sentimen negatif di saham komoditas ikut memperberat pergerakan indeks.

Sejumlah emiten berbasis petrokimia menjadi pemberat utama pelemahan pasar. Chandra Asri Pacific atau TPIA turun 14,74 persen, disusul Barito Pacific atau BRPT yang melemah 10,18 persen. Barito Renewables Energy atau BREN juga terkoreksi 7,62 persen. Penurunan tersebut memberi dampak signifikan terhadap arah IHSG.

Meski demikian, pelemahan indeks tidak merata di seluruh sektor. Sektor keuangan justru mencatat penguatan dan menjadi penyangga pasar. Kenaikan ini membantu menahan pelemahan indeks agar tidak lebih dalam. Pada saat yang sama, investor masih menilai arah kebijakan dan sentimen global berikutnya.

Keuangan Menopang Pergerakan Pasar

Sektor keuangan mencatat kenaikan 1,21 persen dan menjadi salah satu penahan tekanan pasar. Saham Bank Mandiri atau BMRI menguat 2,42 persen dan ikut mendukung pergerakan indeks. Penguatan ini menunjukkan minat investor terhadap saham perbankan masih terjaga. Saham-saham berfundamental kuat masih menjadi pilihan di tengah volatilitas pasar.

Di daftar penguatan, Mora Telematika Indonesia atau MORA memimpin setelah melesat 19,75 persen. Sinarmas Multiartha atau SMMA juga menguat 8,49 persen dan menjadi salah satu penopang di papan atas. Kenaikan keduanya mencerminkan respons positif pasar terhadap saham tertentu yang memiliki katalis tersendiri. Aktivitas perdagangan pada saham-saham tersebut berlangsung lebih agresif dibanding hari sebelumnya.

Pergerakan sektor keuangan memberi sinyal bahwa pasar belum sepenuhnya kehilangan arah. Investor cenderung beralih ke saham yang dinilai lebih defensif ketika tekanan datang dari komoditas. Pola seperti ini kerap muncul saat pasar menunggu kepastian data makro dan kebijakan bank sentral. Dengan demikian, rotasi sektor masih menjadi tema utama perdagangan.

Emiten Tampilkan Kinerja Bervariasi

Di sisi emiten, Indika Energy atau INDY membukukan laba bersih sebesar US$13,59 juta pada kuartal I-2026. Angka tersebut naik 33,88 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Pendapatan perusahaan tercatat tipis meningkat menjadi US$493,21 juta dari US$489,59 juta. Kenaikan laba ditopang oleh pendapatan investasi yang tumbuh kuat.

Pendapatan investasi INDY naik 73,51 persen menjadi US$5,47 juta. Kenaikan itu didorong peningkatan investasi pada Nanshan Aluminium International Holdings Ltd yang mencapai US$20,04 juta. Selain itu, total beban perusahaan turun 1,57 persen menjadi US$419,18 juta. Penurunan beban pokok terjadi karena persediaan batu bara yang meningkat selama periode berjalan.

Sementara itu, Cisadane Sawit Raya atau CSRA menargetkan volume pengolahan tandan buah segar sebesar 700 ribu ton tahun ini. Realisasi tahun lalu berada di level 500 ribu ton, sehingga target terbaru menunjukkan ambisi ekspansi yang lebih besar. Hingga kuartal I-2026, produksi TBS perseroan telah mencapai 18 persen dari target tahunan. Perseroan juga membidik pendapatan Rp2 triliun dari sebelumnya Rp1,89 triliun.

Buyback dan Sentimen Lanjutan

Bangun Kosambi Sukses atau CBDK menyiapkan dana maksimal Rp250 miliar untuk pembelian kembali saham. Perseroan akan menggunakan kas internal dengan posisi kas Rp2,75 triliun per kuartal I-2026. Aksi buyback dijadwalkan berlangsung pada 20 Mei hingga 19 Agustus 2026. Pelaksanaannya dilakukan melalui Ina Sekuritas Indonesia sesuai ketentuan POJK tentang saham treasuri.

Di tingkat pasar, investor asing mencatat jual bersih Rp130,88 miliar di pasar reguler. Namun secara keseluruhan, asing masih membukukan beli bersih Rp249,17 miliar di seluruh pasar. Data ini menunjukkan aliran dana asing masih bercampur antara aksi ambil untung dan akumulasi. Pergerakan tersebut mencerminkan sikap hati-hati menjelang rilis data penting.

Pelaku pasar juga menantikan notulen FOMC The Fed dan data neraca berjalan Indonesia kuartal I-2026. Neraca berjalan diproyeksikan mencatat defisit US$4,50 miliar, sehingga dapat memengaruhi persepsi investor terhadap kondisi eksternal. Dari pasar global, bursa Amerika Serikat ditutup menguat dengan Dow Jones naik 1,31 persen, S&P 500 naik 1,08 persen, dan Nasdaq naik 1,55 persen. Meski demikian, arah IHSG tetap bergantung pada respons investor terhadap sentimen domestik dan global pada perdagangan berikutnya.

Tag Terkait
#IHSG#saham#emiten

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!