Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG ditutup melemah pada akhir perdagangan sesi I, Kamis (21/5), setelah sempat bergerak menguat di awal sesi. Berdasarkan data RTI Business, IHSG turun 2,76 persen ke level 6.144,35, dari posisi tertinggi intraday di 6.378,81.
Perdagangan sesi I mencatat volume 19,91 miliar saham, dengan nilai transaksi Rp9,78 triliun dan frekuensi 1.285.918 kali. Tekanan jual meluas, tercermin dari 601 saham melemah, sementara hanya 118 saham menguat dan 94 saham stagnan.
IHSG Tertekan di Sesi I
Pergerakan IHSG pada sesi pagi menunjukkan volatilitas yang tinggi, karena indeks sempat bertahan di zona hijau sebelum berbalik arah. Pelemahan yang terjadi cukup dalam, sehingga membuat indeks kembali turun ke area 6.100-an. Kondisi ini menandakan sentimen pasar masih rapuh di tengah tekanan jual yang kuat.
Penurunan tersebut juga memperpanjang kinerja negatif IHSG sepanjang tahun berjalan. Hingga periode ini, indeks saham Garuda tercatat melemah 28,94 persen secara year to date. Angka tersebut menunjukkan tantangan yang masih dihadapi pasar saham domestik.
Selain pelemahan indeks utama, tekanan juga terlihat dari dominasi saham yang bergerak turun. Banyak emiten melemah bersamaan, sehingga minat beli belum cukup kuat untuk menahan koreksi. Situasi ini membuat pelaku pasar cenderung berhati-hati dalam mengambil posisi.
Volume Transaksi Tetap Tinggi
Meski IHSG terkoreksi, aktivitas perdagangan tetap terjaga pada level yang cukup besar. Sepanjang sesi I, volume transaksi mencapai 19,91 miliar saham dengan nilai Rp9,78 triliun. Frekuensi transaksi yang menembus lebih dari 1,28 juta kali menunjukkan pasar tetap aktif bergerak.
Tingginya aktivitas tersebut mengindikasikan minat pelaku pasar belum hilang, meski arah pergerakan indeks masih tertekan. Kondisi ini lazim terjadi saat investor melakukan aksi ambil untung atau merespons sentimen tertentu. Namun, tekanan jual yang dominan membuat pasar belum mampu pulih secara meyakinkan.
Data perdagangan juga memperlihatkan ketimpangan yang cukup lebar antara saham penguat dan saham pelemah. Hanya sebagian kecil emiten yang mampu bertahan di zona hijau, sementara mayoritas berada di area merah. Pola ini mempertegas bahwa tekanan pada IHSG terjadi secara menyeluruh.
Sejumlah Saham Kena ARB
Di tengah pelemahan pasar, beberapa saham bahkan meluncur hingga menyentuh auto reject bawah atau ARB. PT LCK Global Kedaton Tbk atau LCKM turun 14,95 persen ke harga Rp165 per saham. PT Cakra Buana Resources Energi Tbk atau CBRE juga terkoreksi 14,72 persen ke level Rp695 per saham.
Tekanan jual berlanjut pada saham milik Prajogo Pangestu, PT Chandra Asri Pacific Tbk atau TPIA. Saham tersebut melemah 14,65 persen ke harga Rp2.270 per saham. Koreksi tajam ini menambah daftar emiten yang terseret sentimen negatif pada sesi perdagangan.
Selain itu, saham PT Bumi Resources Minerals Tbk atau BMRS turun 14,39 persen ke Rp565 per saham. Saham PT Bukit Uluwatu Villa Tbk atau BUVA juga melemah 13,50 persen ke level Rp705 per saham. Deretan ARB tersebut memperlihatkan tekanan besar pada sejumlah saham individual di tengah pasar yang melemah.
Sentimen Pasar Masih Rapuh
Dominasi saham yang melemah menunjukkan pasar masih sensitif terhadap perubahan sentimen jangka pendek. Saat tekanan jual meningkat, indeks acuan mudah bergerak turun meski sempat mendapat dorongan di awal perdagangan. Pola seperti ini menandakan pelaku pasar belum sepenuhnya percaya diri.
Dalam kondisi seperti itu, investor cenderung fokus pada saham yang memiliki fundamental kuat dan likuiditas tinggi. Mereka juga biasanya menunggu kepastian arah pasar sebelum menambah eksposur. Strategi tersebut dianggap lebih aman ketika volatilitas masih tinggi.
Ke depan, pergerakan IHSG akan sangat bergantung pada respons investor terhadap dinamika domestik maupun global. Jika tekanan jual mereda, peluang rebound masih terbuka dalam perdagangan berikutnya. Namun, selama aksi jual tetap dominan, indeks berisiko bergerak dalam tekanan.
