Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG berbalik arah pada perdagangan Rabu setelah pidato Presiden Prabowo Subianto mengenai tata kelola ekspor komoditas sumber daya alam. Pada pukul 11.19 WIB, indeks saham acuan itu melemah 2,25 persen ke level 6.227,41, setelah sebelumnya sempat menguat lebih dari 1 persen.
Pergerakan tersebut terjadi di tengah sentimen pasar yang merespons rencana pemerintah mengatur penjualan komoditas strategis melalui BUMN. Kondisi itu membuat mayoritas saham terkoreksi, sementara sektor basic industry menjadi penekan utama pasar.
IHSG Tertekan Sentimen Baru
Data RTI Business menunjukkan IHSG sempat berada di level 6.459,55 sebelum pidato Prabowo disampaikan. Setelah itu, indeks bergerak turun dan kehilangan momentum penguatan yang terbentuk pada awal sesi.
Sepanjang perdagangan, sebanyak 135 saham tercatat menguat, sedangkan 548 saham melemah. Adapun 127 saham lainnya stagnan, mencerminkan tekanan jual yang cukup luas di pasar.
Dalam tren yang lebih panjang, IHSG tercatat melemah hingga 27,64 persen sepanjang 2026. Pelemahan ini menunjukkan bahwa pasar masih menghadapi tekanan dari berbagai sentimen domestik maupun global.
Basic Industry Paling Tertekan
Sektor basic industry menjadi yang paling tertekan dengan penurunan 5,75 persen. Tekanan pada sektor ini ikut menyeret sejumlah saham berkapitalisasi besar di dalamnya.
PT Chandra Asri Pacific Tbk atau TPIA menjadi salah satu emiten yang mengalami tekanan paling dalam. Saham tersebut terkena auto reject bawah atau ARB 14,74 persen ke harga Rp2.660 per saham.
Selain itu, PT Barito Pacific Tbk atau BRPT melemah 7,31 persen. Sementara itu, PT Amman Mineral International Tbk atau AMMN turun 7,26 persen ke harga Rp2.950 per saham.
Isi Pidato Prabowo
Dalam Sidang Paripurna DPR RI, Prabowo menyampaikan bahwa pemerintah menerbitkan Peraturan Pemerintah tentang tata kelola ekspor komoditas SDA. Kebijakan itu ditujukan agar pengelolaan ekspor memberi dampak lebih besar bagi kesejahteraan rakyat.
Prabowo menegaskan bahwa penerbitan aturan tersebut merupakan langkah strategis untuk memperkuat tata kelola ekspor komoditas nasional. Ia juga menyebut seluruh penjualan ekspor SDA akan dikelola melalui BUMN.
Menurut penjelasannya, kebijakan itu akan mencakup komoditas strategis seperti minyak kelapa sawit, batu bara, hingga ferro alloy. Pemerintah menilai skema tersebut dapat meningkatkan kendali negara atas perdagangan komoditas penting.
Dampak ke Pasar Saham
Pengumuman kebijakan baru tersebut langsung memicu reaksi di pasar saham. Investor tampak menimbang dampak perubahan tata kelola ekspor terhadap prospek emiten berbasis komoditas.
Sentimen itu membuat volatilitas meningkat, terutama pada saham-saham yang memiliki eksposur besar terhadap perdagangan komoditas. Di sisi lain, pelaku pasar masih menunggu penjelasan teknis mengenai pelaksanaan aturan tersebut.
Dengan kondisi saat ini, pasar diperkirakan akan mencermati arah kebijakan pemerintah dalam beberapa waktu ke depan. Kepastian regulasi menjadi kunci agar pelaku usaha dan investor dapat menyesuaikan strategi secara lebih terukur.
