IHSG Anjlok 3,54 Persen, Saham Emiten dan Dividen Jadi Sorotan

Forex & Saham Kevin S. Pratama 24 Mei 2026 22:29 WIB 5
IHSG Anjlok 3,54 Persen, Saham Emiten dan Dividen Jadi Sorotan

Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG ditutup melemah 3,54 persen ke level 6.094,94 pada perdagangan Kamis, 21 Mei. Tekanan jual investor asing menjadi salah satu pemicu utama koreksi, dengan nilai jual bersih mencapai Rp508,11 miliar di pasar reguler dan Rp544,89 miliar di seluruh pasar.

Meski bursa domestik tertekan, sejumlah saham masih menjadi penopang indeks, termasuk Amman Mineral Internasional, Indofood Sukses Makmur, dan Sumber Alfaria Trijaya. Di sisi lain, tekanan terbesar datang dari Astra International, Bumi Resources Minerals, dan Bayan Resources, sementara seluruh sektor Bursa Efek Indonesia ditutup di zona merah.

IHSG Tertekan oleh Aksi Jual

Pelemahan IHSG terjadi di tengah sikap hati-hati pelaku pasar terhadap berbagai sentimen global dan domestik. Indeks sektor energi menjadi yang paling dalam terkoreksi, dengan penurunan 6,91 persen.

Selain itu, indeks ETF EIDO dan MSCI Indonesia juga ikut turun masing-masing 3,04 persen dan 2,56 persen. Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa tekanan tidak hanya terjadi pada saham-saham individu, tetapi juga pada minat terhadap pasar Indonesia secara umum.

Di pasar global, bursa saham Amerika Serikat justru bergerak menguat pada penutupan perdagangan sebelumnya. Dow Jones naik 0,55 persen, S&P 500 bertambah 0,17 persen, dan Nasdaq menguat tipis 0,09 persen.

Sentimen Global Menahan Pasar

Perbedaan arah antara bursa global dan pasar domestik menunjukkan adanya tekanan yang lebih spesifik terhadap Indonesia. Salah satu perhatian utama datang dari pandangan S&P Global Ratings mengenai risiko fiskal dan kebijakan pengendalian ekspor.

Pelaku pasar menilai isu tersebut dapat berdampak pada neraca pembayaran dan stabilitas makroekonomi nasional. Dalam situasi seperti ini, investor cenderung mengurangi eksposur terhadap aset berisiko.

Pergerakan IHSG juga menunjukkan bahwa kekuatan sentimen eksternal masih cukup dominan. Meskipun demikian, saham-saham dengan fundamental kuat tetap berpeluang menjadi penopang saat pasar mulai stabil.

Emiten Kejar Target Bisnis

Widodo Makmur Perkasa menargetkan pendapatan kuartal I-2026 sebesar Rp2,10 triliun, atau tumbuh 108,20 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Untuk mencapai target itu, perseroan meningkatkan kapasitas rumah potong ayam hingga 12 ribu ekor per jam.

Perseroan juga memperluas bisnis ayam petelur dengan target populasi mencapai 1 juta ekor pada 2028, dari 350 ribu ekor tahun ini. Pada lini sapi, perusahaan membidik kenaikan bobot harian minimal 1,60 kilogram per hari dan ekspansi feedlot ke sejumlah wilayah baru.

Sementara itu, Carsurin membidik pendapatan 2026 sebesar Rp618,16 miliar, naik 22,41 persen dari target 2025. Segmen inspeksi diproyeksikan menjadi kontributor utama, dengan laba bersih ditargetkan naik menjadi Rp17,52 miliar.

Dividen CPIN Jadi Sorotan

Charoen Pokphand Indonesia menetapkan dividen tunai Rp180 per saham untuk tahun buku 2025, dengan total nilai mencapai Rp2,95 triliun. Jumlah tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan dividen tahun sebelumnya yang hanya Rp30 per saham.

Rasio pembayaran dividen CPIN tercatat 52,29 persen dari laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp5,64 triliun. Sepanjang 2025, perseroan membukukan penjualan Rp70,70 triliun dan laba bersih Rp5,64 triliun, naik masing-masing 4,78 persen dan 52,07 persen.

Pada penutupan perdagangan Kamis, saham CPIN berada di level Rp4.270 per saham. Cum date dividen dijadwalkan pada 2 Juni 2026 untuk pasar reguler dan negosiasi, sedangkan pembayaran dividen akan dilakukan pada 12 Juni 2026.

Sejumlah saham lain juga masuk dalam rekomendasi perdagangan harian, termasuk INDF, CPIN, KJEN, WIIM, dan HMSP. Namun, keputusan investasi tetap perlu disesuaikan dengan profil risiko masing-masing investor serta tujuan keuangan pribadi.

Tag Terkait
#IHSG#saham#dividen

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!