IHSG Anjlok 3,54%, Asing Jual Bersih Rp508,11 Miliar

Forex & Saham Gilang Nabaris 25 Mei 2026 02:17 WIB 6
IHSG Anjlok 3,54%, Asing Jual Bersih Rp508,11 Miliar

Indeks Harga Saham Gabungan, atau IHSG, ditutup melemah tajam 3,54 persen ke level 6.094,94 pada perdagangan Kamis, 21 Mei. Tekanan datang dari aksi jual investor asing yang membukukan jual bersih Rp508,11 miliar di pasar reguler dan Rp544,89 miliar di seluruh pasar.

Di tengah pelemahan itu, sejumlah saham masih menjadi penopang indeks, antara lain Amman Mineral Internasional, Indofood Sukses Makmur, dan Sumber Alfaria Trijaya. Namun, tekanan terbesar berasal dari Astra International, Bumi Resources Minerals, dan Bayan Resources, sementara seluruh sektor di Bursa Efek Indonesia berada di zona merah.

IHSG Melemah di Tengah Tekanan

Pergerakan IHSG pada perdagangan Kamis menunjukkan dominasi sentimen negatif di pasar domestik. Penurunan indeks terjadi seiring meningkatnya aksi ambil untung dan kekhawatiran terhadap arus dana asing. Kondisi ini membuat minat beli investor cenderung tertahan sepanjang sesi perdagangan. Pada penutupan, tekanan jual semakin kuat dan menahan peluang pemulihan indeks.

Sektor energi menjadi penekan utama dengan pelemahan 6,91 persen. Di sisi lain, sektor lain juga ikut terkoreksi sehingga tidak ada penyangga yang cukup kuat untuk menahan penurunan indeks. Saham-saham berkapitalisasi besar ikut memberi kontribusi negatif terhadap laju IHSG. Situasi tersebut memperlihatkan bahwa pasar masih sensitif terhadap perubahan sentimen global maupun domestik.

Secara teknikal, pelemahan tajam seperti ini biasanya mencerminkan meningkatnya kehati-hatian pelaku pasar. Investor cenderung menunggu kepastian arah pasar sebelum kembali masuk dengan volume besar. Dalam kondisi seperti itu, volatilitas pada saham-saham likuid berpotensi tetap tinggi. Risiko koreksi lanjutan masih perlu dicermati apabila tekanan jual belum mereda.

Meski demikian, koreksi tajam juga dapat membuka ruang selektif bagi investor jangka panjang. Saham-saham dengan fundamental kuat biasanya kembali diburu ketika valuasi dinilai menarik. Namun, keputusan akumulasi tetap perlu disesuaikan dengan profil risiko masing-masing investor. Pasar pada tahap ini membutuhkan disiplin dan strategi yang lebih terukur.

Sentimen Asing dan Global

Tekanan pada pasar saham domestik tidak lepas dari arus keluar dana asing yang cukup besar. Jual bersih di pasar reguler mencapai Rp508,11 miliar, sedangkan di seluruh pasar mencapai Rp544,89 miliar. Angka tersebut memperlihatkan sikap hati-hati investor global terhadap aset berisiko di Indonesia. Aliran dana keluar ini turut memperberat pelemahan indeks harian.

Selain itu, perhatian pelaku pasar tertuju pada pandangan S&P Global Ratings terkait risiko fiskal Indonesia. Lembaga tersebut juga menyoroti kebijakan pengendalian ekspor yang dinilai berpotensi memengaruhi neraca pembayaran. Isu ini memunculkan kekhawatiran atas stabilitas makroekonomi nasional dalam jangka menengah. Akibatnya, pelaku pasar cenderung mengambil posisi defensif.

Tekanan juga terlihat pada indeks ETF EIDO dan MSCI Indonesia yang masing-masing turun 3,04 persen dan 2,56 persen. Pergerakan itu mengindikasikan bahwa minat investor terhadap pasar saham Indonesia ikut melemah di level global. Ketika indeks representatif terkoreksi, persepsi risiko terhadap pasar domestik biasanya ikut meningkat. Hal ini menjadi sinyal bahwa sentimen eksternal masih dominan.

Di tengah kondisi tersebut, bursa saham Amerika Serikat justru ditutup menguat. Dow Jones naik 0,55 persen, S&P 500 bertambah 0,17 persen, dan Nasdaq menguat tipis 0,09 persen. Kenaikan di Wall Street belum mampu mengimbangi tekanan di pasar Indonesia. Perbedaan arah ini menegaskan bahwa faktor lokal masih menjadi pemberat utama.

Kinerja Emiten Jadi Sorotan

Di tengah pelemahan pasar, sejumlah emiten tetap mencuri perhatian investor. Widodo Makmur Perkasa menargetkan pendapatan kuartal I-2026 sebesar Rp2,10 triliun, tumbuh 108,20 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Target itu didorong oleh ekspansi kapasitas dan penguatan bisnis unggas serta sapi. Perseroan berharap strategi tersebut mampu memperbaiki kinerja operasional secara bertahap.

Untuk mendukung target pendapatan, WMPP meningkatkan kapasitas rumah potong ayam hingga 12 ribu ekor per jam. Perseroan juga memperluas bisnis ayam petelur dengan target populasi 1 juta ekor pada 2028. Selain itu, perusahaan menargetkan kenaikan bobot harian sapi minimal 1,60 kilogram per hari. Ekspansi feedlot juga diarahkan ke Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, hingga Ibu Kota Nusantara.

Carsurin Tbk membidik pendapatan 2026 sebesar Rp618,16 miliar, naik 22,41 persen dari target tahun sebelumnya. Segmen inspeksi diperkirakan menjadi penyumbang utama dengan target pendapatan Rp491,11 miliar. Perseroan juga memproyeksikan laba bersih naik menjadi Rp17,52 miliar dengan margin 2,83 persen. Untuk memperluas layanan, CRSN telah mendirikan enam anak usaha baru.

Sementara itu, Charoen Pokphand Indonesia menetapkan dividen tunai Rp180 per saham untuk tahun buku 2025. Total dividen mencapai Rp2,95 triliun, jauh lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya Rp30 per saham. Perseroan juga mencatat kenaikan penjualan menjadi Rp70,70 triliun dan laba bersih Rp5,64 triliun. Kinerja ini memperkuat posisi CPIN sebagai salah satu emiten defensif di sektor konsumsi.

Rekomendasi Saham Pasar

Di tengah volatilitas pasar, sejumlah saham masuk dalam pantauan untuk perdagangan harian. Indofood Sukses Makmur direkomendasikan buy di kisaran 6.600 hingga 6.650 dengan target 6.800 hingga 6.900. Batas risiko atau stop loss berada di level 6.375. Saham ini dinilai masih memiliki daya tahan yang relatif baik di tengah tekanan pasar.

Charoen Pokphand Indonesia juga masuk radar beli dengan kisaran 4.180 hingga 4.200. Target kenaikan berada pada rentang 4.300 hingga 4.390, sedangkan stop loss ditempatkan di 4.010. Rekomendasi ini sejalan dengan kinerja keuangan perseroan yang solid dan kebijakan dividen yang menarik. Namun, investor tetap perlu memperhatikan pergerakan volume dan sentimen pasar.

Selain itu, KJEN direkomendasikan buy di level 161 hingga 163 dengan target 166 hingga 170. WIIM dapat dicermati pada kisaran 1.750 hingga 1.760, dengan target 1.810 hingga 1.840. HMSP juga masuk daftar pantauan di area 725 hingga 730 dengan target 755 hingga 770. Ketiga saham tersebut dapat menjadi opsi selektif bagi trader yang disiplin menerapkan manajemen risiko.

Meski terdapat sejumlah peluang, keputusan investasi tetap harus disesuaikan dengan tujuan dan profil risiko masing-masing investor. Volatilitas pasar masih berpotensi tinggi selama arus modal asing belum kembali stabil. Oleh karena itu, strategi bertahap dan disiplin pada level cut loss menjadi penting. Investor disarankan mencermati perkembangan sentimen global dan domestik sebelum mengambil posisi baru.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!