Holywings Tertekan, Pakar Marketing Soroti Opsi Ganti Nama

Ekonomi Bisnis Gilang Nabaris 30 Mei 2026 02:44 WIB 9
Holywings Tertekan, Pakar Marketing Soroti Opsi Ganti Nama

Bisnis Holywings tengah berada dalam tekanan setelah 12 outlet di Jakarta ditutup karena persoalan izin usaha. Di saat yang sama, perusahaan ini juga masih menghadapi dampak polemik promo minuman alkohol gratis bagi pelanggan bernama Muhammad dan Maria.

Situasi tersebut memunculkan pertanyaan, apakah Holywings perlu mengganti nama untuk memulihkan citra. Praktisi dan konsultan marketing Inventure, Yuswohady, menilai keputusan itu harus didasarkan pada kondisi reputasi merek yang sebenarnya.

Reputasi Holywings Tertekan

Yuswohady menyebut reputasi Holywings sedang terpukul akibat promo yang dikaitkan dengan unsur suku, agama, ras, dan antargolongan. Menurut dia, penutupan outlet di Jakarta ikut memperburuk citra merek di mata publik.

Ia menilai persoalan perizinan bukan hanya soal operasional, tetapi juga berpengaruh langsung terhadap persepsi konsumen. Ketika sebuah usaha sampai dilarang beroperasi karena izin, citra merek ikut terdorong ke sisi negatif.

Dalam pandangan Yuswohady, kondisi ini membuat Holywings harus berhati-hati dalam mengambil langkah berikutnya. Keputusan yang terburu-buru justru berisiko menambah kerusakan brand yang sudah terlanjur tertekan.

Opsi Rebranding Masih Terbuka

Menurut Yuswohady, salah satu jalan yang bisa ditempuh adalah rebranding jika merek masih memiliki kekuatan di pasar. Skema ini dapat dilakukan tanpa harus menghapus nama Holywings sepenuhnya.

Ia mencontohkan penggunaan nama baru yang tetap membawa identitas lama, seperti format “by Holywings”. Cara tersebut dinilai bisa menjaga keberadaan nama lama sambil memberi ruang pembaruan citra.

Namun, opsi ini hanya relevan jika brand Holywings masih memiliki nilai di mata konsumen. Jika merek masih dianggap kuat, maka penggantian total dinilai tidak perlu dilakukan secara ekstrem.

Ganti Nama Punya Risiko Besar

Opsi lain adalah mengganti nama sepenuhnya dengan brand baru. Langkah ini, kata Yuswohady, memiliki konsekuensi besar karena membangun merek dari nol bukan perkara mudah.

Ia menekankan perlunya riset untuk menilai apakah nama Holywings sudah terlalu buruk di masyarakat. Jika hasil riset menunjukkan nama lama tidak lagi layak dipakai, maka pergantian total bisa menjadi pilihan terakhir.

Meski begitu, memulai dari awal tidak otomatis menjamin keberhasilan. Kesuksesan brand, menurut dia, tidak hanya ditentukan strategi, tetapi juga faktor keberuntungan dan momentum pasar.

Riset Menentukan Langkah Berikut

Yuswohady menilai keputusan akhir sebaiknya didasarkan pada riset yang objektif. Perusahaan perlu mengetahui sejauh mana kerusakan reputasi yang sudah terjadi dan bagaimana respons publik terhadap merek tersebut.

Jika brand masih punya modal kepercayaan, rebranding ringan bisa menjadi pilihan yang lebih aman. Sebaliknya, jika nama lama sudah terlalu identik dengan sentimen negatif, maka ganti nama total dapat dipertimbangkan.

Dalam kondisi seperti ini, perusahaan dituntut membaca situasi dengan cermat agar tidak salah langkah. Bagi Holywings, kejelian menentukan arah pemulihan merek akan sangat menentukan masa depan bisnisnya.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!