Holywings Hadapi Krisis Reputasi, Perlukah Ganti Nama?

Ekonomi Bisnis Dimas Rayyanza 31 Mei 2026 04:17 WIB 2
Holywings Hadapi Krisis Reputasi, Perlukah Ganti Nama?

Bisnis Holywings tengah menghadapi tekanan besar setelah 12 outletnya di Jakarta ditutup akibat persoalan izin usaha. Kondisi ini datang bersamaan dengan polemik promo minuman alkohol gratis bagi pelanggan bernama Muhammad dan Maria, yang memicu sorotan publik lebih luas. Di tengah krisis tersebut, pertanyaan mengenai perlu tidaknya Holywings mengganti nama kembali mengemuka.

Praktisi dan konsultan marketing Inventure, Yuswohady, menilai reputasi Holywings sudah terpukul karena isu yang dikaitkan dengan suku, agama, ras, dan antargolongan. Ia menyebut penutupan outlet justru memperburuk citra merek, karena persoalan izin dapat memberi kesan buruk terhadap kepatuhan perusahaan. Menurutnya, keputusan untuk bertahan dengan nama lama atau melakukan perubahan harus didasarkan pada evaluasi merek yang sangat hati-hati.

Holywings dan Krisis Reputasi

Yuswohady menilai masalah Holywings bukan hanya berkaitan dengan operasional, tetapi juga menyentuh aspek reputasi perusahaan. Saat sebuah usaha ditutup karena masalah perizinan, dampaknya tidak berhenti pada layanan yang terhenti, tetapi juga pada persepsi publik terhadap brand.

Ia menjelaskan, citra merek yang terganggu akan memengaruhi kepercayaan konsumen dalam jangka panjang. Dalam kasus Holywings, polemik promo yang dianggap sensitif menambah beban reputasi yang sudah lebih dulu terkikis.

Karena itu, perusahaan dinilai tidak bisa hanya mengandalkan popularitas merek untuk memulihkan kondisi bisnis. Langkah pemulihan perlu disusun dengan mempertimbangkan seberapa jauh kerusakan brand telah terjadi di mata masyarakat.

Opsi Rebranding Untuk Holywings

Menurut Yuswohady, salah satu opsi yang bisa ditempuh adalah rebranding. Langkah ini dinilai relevan apabila nama merek masih memiliki kekuatan dan peluang untuk dipertahankan di pasar.

Rebranding tidak selalu berarti menghapus identitas lama sepenuhnya. Dalam skema tertentu, nama Holywings masih dapat dipertahankan dengan pendekatan seperti penggunaan label tambahan, misalnya dengan format nama baru yang tetap memunculkan identitas lama.

Strategi seperti itu dianggap dapat menjaga modal merek yang sudah terbangun. Namun, keberhasilannya tetap bergantung pada penerimaan publik dan kemampuan perusahaan mengembalikan kepercayaan konsumen.

Risiko Ganti Nama Baru

Opsi lain yang terbuka adalah mengganti nama secara total. Menurut Yuswohady, langkah ini tidak sederhana karena membangun merek baru dari awal membutuhkan biaya, waktu, dan strategi yang matang.

Perusahaan juga harus memastikan apakah nama lama sudah terlalu buruk di mata publik untuk dipertahankan. Jika hasil riset menunjukkan reputasi Holywings sudah tidak layak dipakai, maka perubahan total bisa menjadi pilihan terakhir.

Meski demikian, pergantian nama membawa konsekuensi besar karena seluruh proses branding harus dimulai dari nol. Dalam bisnis, keberhasilan merek tidak hanya ditentukan oleh strategi, tetapi juga oleh faktor keberuntungan dan momentum pasar.

Langkah yang Perlu Dipertimbangkan

Yuswohady menekankan pentingnya riset sebelum perusahaan mengambil keputusan final. Evaluasi itu perlu melihat apakah publik masih memiliki asosiasi positif terhadap nama Holywings atau justru sebaliknya.

Jika nama lama masih memiliki nilai, rebranding dengan mempertahankan unsur Holywings dinilai lebih rasional. Sebaliknya, jika citra sudah rusak berat, maka ganti nama total bisa menjadi jalan yang harus ditempuh meski risikonya besar.

Dalam situasi seperti ini, perusahaan perlu menimbang antara mempertahankan aset merek dan memulai identitas baru. Keputusan yang diambil akan sangat menentukan arah pemulihan bisnis Holywings ke depan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!