PT Global Digital Niaga Tbk atau Blibli membukukan pertumbuhan pendapatan neto konsolidasian sebesar 67 persen secara tahunan pada kuartal I-2026. Kenaikan ini didorong oleh kinerja seluruh segmen usaha, terutama institusi dan toko fisik, serta kontribusi penjualan smartphone yang lebih tinggi.
Pendapatan neto perseroan naik dari Rp4,694 triliun pada periode yang sama tahun lalu menjadi Rp7,835 triliun hingga Maret 2026. Manajemen menyebut awal 2026 dibuka dengan momentum yang solid, seiring penguatan profitabilitas, efisiensi operasional, dan perluasan ekosistem digital.
Blibli Catat Pendapatan Naik
CEO & Co-Founder Blibli, Kusumo Martanto, mengatakan hasil kuartal pertama mencerminkan kelanjutan eksekusi strategi yang konsisten. Menurut dia, perseroan berhasil menjaga pertumbuhan pendapatan dua digit sekaligus meningkatkan take rate dan marjin secara keseluruhan.
Ia menambahkan bahwa profitabilitas juga mengalami perbaikan signifikan pada periode tersebut. Kondisi itu, kata dia, menunjukkan fokus perusahaan pada eksekusi yang disiplin dan berkelanjutan.
Pertumbuhan pendapatan menjadi sinyal bahwa strategi omnichannel Blibli masih relevan di tengah persaingan ritel digital. Kinerja tersebut juga menunjukkan peran penting sinergi antara lini digital, institusi, dan toko fisik.
Take Rate Menguat Signifikan
Selain pendapatan, rasio take rate konsolidasian Blibli juga menunjukkan peningkatan pada kuartal I-2026. Rasio itu naik dari 9,0 persen menjadi 9,9 persen secara tahunan.
Kenaikan take rate terutama ditopang oleh segmen Ritel 1P dan Institusi. Pendorong utamanya adalah pertumbuhan Laba Bruto Sebelum Diskon atau Gross Profit Before Discount sebesar 21 persen secara tahunan.
Perbaikan take rate menandakan kemampuan perusahaan menjaga kualitas monetisasi transaksi. Dalam industri e-commerce, indikator ini kerap menjadi ukuran penting untuk menilai efisiensi pendapatan.
Efisiensi Biaya Membaik
Dari sisi pengeluaran, Blibli berhasil menekan beban operasional konsolidasian terhadap Total Nilai Transaksi atau TPV. Rasio tersebut turun dari 7,3 persen menjadi 6,4 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Perbaikan struktur biaya ini berdampak langsung pada peningkatan persentase EBITDA konsolidasian terhadap TPV. Perseroan mencatat kenaikan sebesar 200 basis poin secara tahunan.
Efisiensi yang lebih baik menunjukkan operasi bisnis Blibli semakin terkendali. Hal ini penting karena perusahaan e-commerce umumnya menghadapi tekanan biaya logistik, promosi, dan pengembangan platform.
Ekosistem Blibli Kian Meluas
Blibli juga memperdalam integrasi ekosistem digital melalui perluasan fitur Blibli Affiliate ke platform tiket.com. Langkah ini diharapkan memperbesar basis pengguna dan mendorong lebih banyak transaksi di masa mendatang.
Sinergi antarlayanan menjadi salah satu strategi utama perusahaan untuk memperkuat keterikatan pengguna. Dengan integrasi tersebut, Blibli berupaya membangun peluang lintas platform yang lebih luas.
Di saat yang sama, perluasan ekosistem diyakini memperkuat posisi Blibli di pasar digital Indonesia. Strategi ini memungkinkan perusahaan menjangkau konsumen dengan penawaran yang lebih terhubung dan bernilai tambah.
Toko Fisik Jadi Penopang
Pada lini bisnis fisik, Blibli menambah 35 toko baru sepanjang kuartal I-2026. Hingga akhir Maret 2026, perusahaan mengoperasikan 295 toko elektronik konsumen, 9 toko elektronik rumah tangga, dan 1 toko fesyen serta olahraga.
Perseroan juga mengelola 58 gerai supermarket premium dan 37 home and living experience centers. Ekspansi ini menunjukkan bahwa Blibli tetap serius mengembangkan kehadiran offline dalam strategi omnichannel.
Manajemen menilai pertumbuhan di berbagai kategori utama masih ditopang permintaan yang kuat. Dengan kombinasi bisnis digital dan fisik, Blibli berupaya menjaga pertumbuhan yang seimbang sekaligus meningkatkan kualitas skala usaha.
