Happy Salma Ungkap Perimenopause dan Brain Fog

Lifestyle Clara Monica 31 Mei 2026 06:25 WIB 2
Happy Salma Ungkap Perimenopause dan Brain Fog

Perimenopause kerap datang tanpa disadari, padahal fase transisi menuju menopause ini dapat memengaruhi kondisi fisik dan emosional perempuan. Hal itu juga dirasakan Happy Salma, yang kini semakin memahami tubuhnya seiring bertambahnya usia.

Aktris berusia 46 tahun itu mengaku dulu tidak banyak memahami tahapan perimenopause, termasuk perubahan tubuh yang menyertainya. Ia menilai menopause adalah fase yang tidak terhindarkan, sehingga pemahaman sejak dini menjadi penting.

Perimenopause dan Perubahan Tubuh

Happy Salma menjelaskan bahwa perimenopause bahkan dapat dimulai sejak usia 30-an. Fase ini tidak hanya memunculkan perubahan fisik, tetapi juga membawa dampak emosional yang cukup kuat.

Ia menuturkan, sensitivitas terhadap PMS kini terasa berbeda dibandingkan sebelumnya. Jika dulu kondisi itu hanya membuatnya lebih peka, kini reaksi emosional dapat dirasakan jauh lebih intens.

Perubahan tersebut membuatnya lebih menyadari bahwa tubuh perempuan mengalami siklus yang kompleks. Karena itu, pemahaman tentang tanda-tanda awal perimenopause dinilai penting agar tidak menimbulkan kebingungan.

Menurutnya, banyak perempuan baru memahami kondisi ini setelah mengalami langsung gejalanya. Situasi tersebut menunjukkan bahwa edukasi kesehatan reproduksi masih perlu diperkuat.

Brain Fog Saat Bekerja

Selain perubahan emosional, Happy juga merasakan penurunan daya ingat yang ia sebut sebagai brain fog. Kondisi ini membuat seseorang lebih mudah lupa, sulit berkonsentrasi, dan merasa tidak setajam biasanya saat berpikir.

Ia mengaku perubahan itu cukup terasa dalam kesehariannya sebagai aktris. Pekerjaan yang menuntut kemampuan menghafal naskah kini menjadi lebih menantang karena fokusnya kerap terpecah.

Pada fase perimenopause, brain fog umumnya dipicu oleh fluktuasi hormon, terutama estrogen. Hormon ini berperan penting dalam fungsi otak, sehingga perubahannya dapat berdampak pada kemampuan kognitif.

Akibatnya, aktivitas seperti menghafal, mengambil keputusan, hingga menjaga konsentrasi saat bekerja bisa terasa lebih berat. Kondisi ini menjadi pengingat bahwa perubahan hormon juga memengaruhi performa harian perempuan.

Perimenopause Bukan Ancaman

Meski menghadapi berbagai perubahan, Happy menegaskan bahwa perimenopause bukan fase yang perlu ditakuti. Ia justru memandangnya sebagai momen refleksi diri dan kesempatan untuk lebih mengenal tubuh sendiri.

Baginya, fase ini dapat menjadi titik balik untuk meningkatkan kualitas hidup. Ia menilai perempuan bisa belajar lebih mencintai diri, lebih menghargai waktu, dan lebih menyadari nilai hidup.

Happy melihat perimenopause sebagai peluang untuk memperdalam hubungan spiritual dan emosional. Ia menyebutnya sebagai kesempatan kedua untuk bersinar dari dalam.

Menurutnya, banyak perempuan justru bisa merasa lebih bahagia di usia ini karena lebih memahami diri sendiri. Kesadaran tersebut membuat proses menjalani hidup terasa lebih tenang dan terarah.

Informasi dan Dukungan

Happy menilai pemahaman menjadi kunci utama dalam menghadapi perimenopause. Karena itu, ia kini lebih aktif mencari informasi agar dapat mengenali perubahan yang terjadi pada tubuhnya.

Ia juga mencoba terapi regulasi stres, termasuk Mindlift by Exomind, sebagai bagian dari upaya menjaga kondisi mental. Langkah tersebut ditempuh untuk membantu dirinya tetap seimbang di tengah perubahan hormon.

Pendekatan seperti itu menunjukkan bahwa perawatan kesehatan pada fase perimenopause tidak hanya berfokus pada fisik. Kesehatan mental dan kenyamanan batin juga perlu mendapat perhatian yang sama besar.

Pengalaman Happy menjadi pengingat bahwa perempuan membutuhkan informasi yang jelas dan dukungan yang memadai. Dengan pengetahuan yang tepat, perimenopause dapat dijalani sebagai fase adaptasi yang lebih sehat dan manusiawi.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!