Holywings Dihadapkan Opsi Ganti Nama

Ekonomi Bisnis Dimas Rayyanza 02 Juni 2026 01:47 WIB 3
Holywings Dihadapkan Opsi Ganti Nama

Holywings menghadapi tekanan besar setelah 12 outletnya di Jakarta ditutup akibat persoalan izin usaha. Di saat bersamaan, perusahaan ini juga terseret polemik promo minuman alkohol gratis bagi pelanggan bernama Muhammad dan Maria, yang memicu sorotan publik lebih luas.

Situasi tersebut membuat banyak pihak mempertanyakan langkah terbaik untuk menyelamatkan citra merek Holywings. Praktisi pemasaran menilai, perusahaan perlu berhitung secara matang sebelum memutuskan apakah akan melakukan rebranding atau mengganti nama sepenuhnya.

Reputasi Holywings Tertekan

Praktisi dan konsultan marketing dari Inventure, Yuswohady, menilai reputasi Holywings saat ini sedang terpukul. Ia menyebut masalah promo yang dikaitkan dengan isu suku, agama, ras, dan antargolongan telah memperburuk persepsi publik.

Menurut dia, penutupan outlet karena urusan perizinan juga menambah beban citra perusahaan. Kondisi itu membuat brand Holywings tidak hanya menghadapi kritik, tetapi juga pertanyaan soal kepatuhan terhadap aturan.

Yuswohady menilai, ketika sebuah usaha sampai dilarang karena persoalan izin, dampaknya tidak hanya terasa secara operasional. Dari sisi merek, situasi tersebut bisa menggerus kepercayaan konsumen dan memperlemah posisi perusahaan di pasar.

Opsi Rebranding Masih Terbuka

Yuswohady mengatakan ada dua opsi yang bisa dipertimbangkan Holywings untuk memulihkan kondisi merek. Opsi pertama adalah rebranding, jika nama besar perusahaan masih dianggap memiliki nilai di mata publik.

Ia menilai, rebranding dapat dilakukan tanpa menghapus identitas utama secara total. Salah satu caranya adalah tetap menampilkan nama Holywings sebagai bagian dari identitas baru, misalnya dengan format tambahan tertentu.

Dengan pendekatan itu, menurut dia, nilai merek yang sudah terbentuk masih bisa dipertahankan. Langkah ini juga dinilai lebih aman dibanding memutus seluruh keterkaitan dengan nama lama secara mendadak.

Ganti Nama Punya Risiko

Opsi lain yang bisa ditempuh adalah mengganti nama baru secara penuh. Namun, langkah tersebut bukan tanpa risiko karena membangun merek dari nol membutuhkan waktu, biaya, dan strategi yang tidak sederhana.

Yuswohady menekankan perlunya riset untuk mengetahui apakah nama Holywings sudah terlalu rusak di mata masyarakat. Jika hasil riset menunjukkan citra merek sudah tidak layak dipertahankan, maka perubahan nama bisa menjadi pilihan yang lebih masuk akal.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa nama baru tidak otomatis membawa kesuksesan. Dalam membangun brand, ada banyak faktor penentu selain strategi, termasuk momentum pasar dan keberuntungan.

Keputusan Harus Berdasar Riset

Menurut Yuswohady, keputusan mengganti nama tidak boleh diambil hanya karena tekanan sesaat. Perusahaan perlu menimbang apakah reputasi lama masih bisa diselamatkan atau justru sudah terlalu berat untuk dipertahankan.

Jika nama Holywings masih memiliki ekuitas merek yang kuat, rebranding dinilai lebih efisien dibanding mengganti identitas sepenuhnya. Sebaliknya, jika citra merek sudah jatuh terlalu dalam, opsi nama baru mungkin menjadi jalan terakhir.

Ia menegaskan bahwa proses tersebut harus didukung kajian pasar yang memadai. Tanpa riset yang kuat, perusahaan berisiko memulai ulang perjalanan merek dari awal tanpa jaminan hasil yang lebih baik.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!