Holywings Didorong Rebranding di Tengah Masalah Izin

Ekonomi Bisnis Kevin S. Pratama 27 Mei 2026 18:51 WIB 2
Holywings Didorong Rebranding di Tengah Masalah Izin

Bisnis Holywings tengah berada dalam tekanan setelah 12 outletnya di Jakarta ditutup karena persoalan izin usaha. Di saat yang sama, perusahaan juga masih menghadapi sorotan publik akibat promo minuman alkohol gratis yang dikaitkan dengan nama Muhammad dan Maria.

Situasi ini memunculkan pertanyaan, apakah Holywings perlu mengganti nama untuk memulihkan reputasi. Praktisi pemasaran menilai, langkah yang diambil harus berbasis riset karena dampaknya akan menentukan arah brand ke depan.

Rebranding Holywings Jadi Sorotan

Praktisi dan konsultan pemasaran dari Inventure, Yuswohady, menilai reputasi Holywings sudah terpukul oleh polemik yang berbau SARA. Menurut dia, masalah tersebut telah merusak citra merek di mata publik.

Penutupan 12 outlet di Jakarta juga memperburuk posisi brand di tengah sorotan yang sudah tinggi. Kondisi itu membuat persepsi masyarakat terhadap Holywings menjadi semakin negatif.

Yuswohady mengatakan, ketika sebuah usaha sampai dilarang karena persoalan perizinan, citra merek ikut terdampak. Dalam pandangannya, keadaan tersebut tidak mencerminkan reputasi yang baik bagi sebuah perusahaan.

Ia menegaskan, masalah yang menimpa Holywings bukan hanya soal operasional, tetapi juga soal kepercayaan publik. Karena itu, pemulihan brand menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditunda.

Opsi Mempertahankan Nama Lama

Menurut Yuswohady, salah satu opsi yang bisa ditempuh adalah melakukan rebranding tanpa menghapus nama lama sepenuhnya. Strategi ini dinilai tepat jika nama Holywings masih memiliki kekuatan di pasar.

Ia mencontohkan format penamaan seperti “by Holywings” atau variasi lain yang tetap menampilkan identitas utama. Cara ini dapat menjaga keberlanjutan ekuitas merek yang sudah dibangun sebelumnya.

Namun, opsi tersebut hanya relevan bila nama Holywings masih dianggap punya nilai positif. Jika citra merek sudah terlanjur rusak berat, langkah itu dinilai tidak lagi efektif.

Yuswohady menyebut, mengganti nama secara total justru berisiko menghilangkan nilai yang sudah terbangun. Dalam dunia pemasaran, nama yang kuat tidak mudah dibentuk kembali dari awal.

Risiko Ganti Nama Total

Opsi lain yang bisa dipilih adalah mengganti nama baru sepenuhnya. Langkah ini biasanya diambil jika merek lama dinilai sudah terlalu buruk di mata masyarakat.

Meski demikian, keputusan tersebut tidak ringan karena membangun brand baru memerlukan waktu dan biaya besar. Perusahaan harus memulai proses pengenalan dari nol di hadapan konsumen.

Menurut Yuswohady, sebelum memutuskan pergantian nama, perlu ada riset yang menilai seberapa jauh kerusakan citra Holywings. Hasil riset akan menjadi dasar apakah nama lama masih layak dipertahankan atau tidak.

Ia menambahkan, perubahan total tanpa pijakan yang kuat justru dapat membuat perusahaan kehilangan arah. Brand yang sukses tidak hanya bergantung pada strategi, tetapi juga faktor keberuntungan dan momentum pasar.

Riset Jadi Penentu Arah

Dalam situasi seperti ini, riset pasar menjadi kunci utama sebelum perusahaan mengambil keputusan. Holywings perlu memahami apakah publik masih memberi ruang bagi perbaikan nama lama.

Jika hasil riset menunjukkan citra merek sudah sangat buruk, maka ganti nama bisa menjadi pilihan terakhir. Namun, bila masih ada peluang pemulihan, rebranding bertahap dinilai lebih aman.

Yuswohady menilai, keputusan yang terburu-buru justru dapat memperbesar kerugian brand. Perusahaan perlu menimbang antara mempertahankan nilai historis dan membangun kepercayaan baru.

Pada akhirnya, masa depan Holywings akan sangat ditentukan oleh ketepatan strategi pemulihan merek. Di tengah tekanan perizinan dan polemik publik, langkah yang paling rasional adalah memilih opsi yang paling sesuai dengan hasil riset.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!