Presenter dan ahli ular Heru Gundul mengalami insiden serius saat mengevakuasi seekor ular kobra yang berada di lubang pinggir jalan. Dalam proses penanganan, ular tersebut menyerang dan bisa kobra mengenai matanya. Peristiwa itu terekam dalam video yang kemudian ia unggah ke akun media sosial pribadinya.
Heru sempat diingatkan oleh orang yang memvideokan aksinya agar memakai kacamata pelindung. Namun, pria kelahiran Metro, Lampung, 8 Maret 1973 itu tetap melanjutkan evakuasi tanpa perlindungan mata. Meski terserang, ia berhasil mengamankan ular tersebut sebelum segera membilas wajahnya dengan air mengalir.
Bisa kobra di mata
Dalam video kronologi yang diunggahnya, Heru mengungkapkan bahwa matanya tersembur bisa kobra saat ular itu menyerang. Ia menuturkan, serangan terjadi ketika proses evakuasi berlangsung di lokasi yang kerap dilewati warga. Kondisi itu membuatnya refleks menutup mata dengan tangan.
Heru menyebut bisa ular sempat mengenai bagian mata dan memicu rasa perih serta gangguan penglihatan sementara. Ia mengatakan penanganan awal menjadi langkah penting agar dampak bisa tidak semakin parah. Setelah kejadian, ia langsung mencari sumber air terdekat untuk membersihkan mata.
“Mataku lur kesembur lur,” ujarnya dalam video yang beredar. Ungkapan itu menggambarkan betapa cepatnya serangan ular terjadi saat proses penangkapan berlangsung. Meski begitu, ia tetap menuntaskan evakuasi ular kobra tersebut.
Heru kemudian menegaskan bahwa insiden itu menjadi pengingat pentingnya keselamatan dalam penanganan satwa berbisa. Ia mengakui kelalaian karena tidak memperhatikan perlindungan diri secara maksimal. Menurutnya, kejadian seperti ini tidak layak ditiru oleh masyarakat.
Penanganan awal dilakukan
Usai ular berhasil diamankan, Heru langsung berlari ke keran air untuk mencuci muka dan membasuh matanya. Ia menyebut tindakan itu dilakukan agar bisa segera keluar dari area mata. Penanganan cepat tersebut dinilai membantu mengurangi dampak paparan bisa.
Dalam video lain, Heru meminta doa agar kondisinya segera pulih. Ia menjelaskan bahwa bisanya sudah keluar, namun saraf-saraf di sekitar mata sempat terdampak. Karena itu, ia tetap memantau kondisi matanya sambil menjalani pemulihan.
Heru juga menyampaikan bahwa matanya tidak sampai 24 jam tidak bisa melek. Ia menilai respons cepat saat kejadian membantu mempercepat pemulihan. Meski demikian, ia mengaku sempat merasakan panas dan perih yang cukup mengganggu.
Menurut penuturannya, penanganan dengan air mengalir menjadi langkah pertama yang tepat setelah terkena bisa kobra. Ia menegaskan bahwa tindakan itu dilakukan sebelum kondisi memburuk. Setelah itu, ia tinggal menjalani proses pemulihan secara bertahap.
Kondisi mata berangsur pulih
Heru kemudian mengabarkan bahwa matanya sudah bisa kembali terbuka. Ia menyebut pada hari sebelumnya matanya sempat tidak bisa melek selama sekitar 18 jam. Kondisi itu membuatnya harus beristirahat dan membatasi aktivitas.
Dalam unggahannya, Heru mengatakan mata yang semula lengket kini mulai membaik. Ia juga menyebut rasa panas, gatal, dan perih yang sempat dirasakan sudah berkurang. Perubahan tersebut menjadi sinyal positif bagi proses penyembuhan.
Ia menampilkan kondisi matanya yang tampak lebih baik dibanding sebelumnya. Bengkak yang sempat muncul juga dikabarkan mulai mereda. Heru bersyukur karena penglihatannya kembali normal secara bertahap.
Ucapan syukur turut ia sampaikan kepada para pengikutnya yang memberi doa dan dukungan. Ia menegaskan bahwa kondisi kini jauh lebih baik dibanding saat pertama terkena bisa. Heru berharap pengalaman ini menjadi pelajaran bagi siapa pun yang bekerja dekat dengan hewan berbisa.
Pesan keamanan untuk publik
Heru menekankan pentingnya mengutamakan keselamatan saat berhadapan dengan ular kobra. Ia menyebut perlindungan mata dan prosedur penanganan yang benar harus menjadi prioritas. Menurutnya, satu kelalaian kecil dapat berakibat serius.
Ia juga mengingatkan bahwa lokasi evakuasi ular berada di area yang sering dilewati warga. Karena itu, penanganan satwa berbisa perlu dilakukan dengan sangat hati-hati. Kesadaran terhadap risiko menjadi bagian penting dalam setiap operasi penyelamatan.
Dalam pesannya, Heru menyinggung bahwa keberuntungan bukan alasan untuk mengabaikan keamanan. Ia menilai setiap aksi penanganan ular harus dilakukan secara terukur dan tidak impulsif. Prinsip safety first perlu diterapkan pada setiap situasi lapangan.
Pengalaman ini kembali menegaskan bahwa bisa kobra dapat membahayakan mata dan saraf bila terkena langsung. Masyarakat diminta tidak mencoba menangani ular berbisa tanpa kemampuan dan perlengkapan yang memadai. Jika menemukan ular di permukiman, langkah paling aman adalah menghubungi pihak yang berkompeten.
