Harga perabot di Pasar Jatinegara, Jakarta Timur, naik tajam dalam satu bulan terakhir dan memukul pedagang maupun pembeli. Kenaikan paling tinggi terjadi pada produk berbahan plastik, sementara sejumlah barang berbahan aluminium dan perabot lain ikut terdongkrak. Pedagang menyebut lonjakan ini sebagai yang paling tinggi selama mereka berjualan, dengan faktor biaya produksi, bahan baku, dan pelemahan nilai tukar rupiah ikut berperan.
Seorang pedagang perabot, Anggi, mengatakan perubahan harga terasa pada hampir seluruh jenis barang, meski tingkat kenaikannya berbeda-beda. Dari gelas plastik hingga box plastik, harga jual kini melonjak jauh dari posisi sebelumnya dan membuat perputaran stok menjadi lebih berat.
Harga Perabot Naik Drastis
Anggi mengaku kenaikan harga sudah berlangsung sekitar sebulan terakhir. Menurut dia, kenaikan itu tidak hanya terjadi pada satu jenis barang, melainkan merata di sejumlah produk perabot.
Ia mencontohkan panci aluminium yang sebelumnya dijual Rp100.000 kini naik menjadi Rp135.000. Gelas biasa yang semula Rp30.000 juga berubah menjadi Rp40.000.
Lonjakan lebih tinggi terjadi pada barang berbahan plastik. Gelas plastik yang dulu Rp10.000 kini mencapai Rp25.000, sedangkan box plastik naik dari Rp80.000 menjadi sekitar Rp120.000 hingga Rp130.000.
Toples kerupuk yang sebelumnya dijual Rp10.000 kini dipasarkan Rp20.000. Menurut Anggi, kenaikan semacam ini membuat harga jual di kiosnya harus disesuaikan cepat agar tidak merugi.
Plastik Jadi Paling Mahal
Anggi menilai barang plastik menjadi kategori yang paling terdampak dalam kenaikan kali ini. Ia menyebut perubahan harga pada produk tersebut bahkan mencapai lebih dari dua kali lipat.
Menurut dia, kondisi ini berbeda dengan pola kenaikan harga pada tahun-tahun sebelumnya. Saat itu, kenaikan biasanya hanya sekitar Rp3.000 hingga Rp5.000 dan kemudian kembali turun.
Ia menegaskan, kenaikan kali ini bukan sekadar penyesuaian biasa. “Ini bukan sekadar naik lagi, tapi sudah ganti harga,” ujarnya saat ditemui detikcom, Kamis (21/5/2026).
Barang berbahan plastik di pasaran juga cepat terserap konsumen sehingga perubahan harga langsung terasa. Hal itu membuat pedagang harus lebih berhati-hati dalam menentukan stok dan modal belanja.
Produksi Dalam Negeri Tertekan
Menurut Anggi, kenaikan tertinggi justru terjadi pada produk perabot buatan dalam negeri. Ia menyebut barang lokal mengalami lonjakan harga yang jauh lebih besar dibanding produk impor.
Dalam pengamatannya, produk impor dari China masih cenderung stabil. Kenaikan yang terjadi pada barang tersebut hanya sekitar Rp5.000 per produk.
Ia mencontohkan panci stainless impor dari China yang sebelumnya Rp100.000 kini hanya naik menjadi Rp105.000. Teko listrik yang semula Rp65.000 juga masih berada di kisaran Rp70.000.
Sebaliknya, produk aluminium buatan dalam negeri justru melonjak jauh. Anggi bahkan menyebut harganya kini lebih mahal daripada stainless steel impor.
Rantai Pasok Dan Dolar
Anggi menduga kenaikan harga dipicu oleh beberapa faktor yang saling berkaitan. Salah satunya adalah gangguan rantai pasok bahan baku impor yang membuat biaya produksi meningkat.
Ia juga menyoroti kenaikan biaya energi di dalam negeri yang ikut menekan produsen. Kondisi itu membuat ongkos produksi menjadi lebih tinggi dan berdampak langsung pada harga jual.
Selain itu, penguatan dolar AS dinilai berpotensi menambah beban biaya. Bahan baku impor yang dibeli dengan mata uang asing otomatis menjadi lebih mahal saat kurs bergerak naik.
Anggi mengatakan faktor perang, mahalnya BBM untuk pabrik, dan kenaikan harga plastik kresek juga ikut mendorong lonjakan harga. “Makanya barang plastik jauh naik harganya,” ujarnya, seraya menyebut dampaknya kini dirasakan hampir di seluruh lini usaha perabot.
