Sarden Kalengan, Benarkah Termasuk UPF?

Lifestyle Nadia Safira Putri 26 Mei 2026 08:23 WIB 3
Sarden Kalengan, Benarkah Termasuk UPF?

Istilah ultra-processed food atau UPF belakangan ramai dibahas di media sosial, seiring meningkatnya perhatian masyarakat terhadap kualitas makanan harian. Di tengah perbincangan itu, sarden kalengan ikut terseret setelah muncul klaim bahwa produk tersebut belum tentu masuk kategori UPF. Pertanyaannya, apakah sarden kalengan benar-benar termasuk makanan ultra-proses atau justru hanya makanan olahan biasa.

Untuk menjawabnya, perlu dilihat terlebih dahulu cara klasifikasi makanan dalam sistem NOVA yang banyak digunakan dalam kajian gizi. Sistem ini membedakan makanan berdasarkan tingkat pemrosesan, bukan semata-mata apakah produk tersebut dikemas atau diawetkan. Dengan begitu, status sarden kalengan tidak bisa dipukul rata hanya karena berbentuk makanan kaleng.

UPF dan klasifikasi NOVA

UPF adalah istilah yang berasal dari klasifikasi NOVA, yaitu sistem pengelompokan makanan berdasarkan tingkat pemrosesan. Sistem ini dikembangkan oleh para ilmuwan dari University of Sao Paulo, Brazil. Tujuannya adalah membedakan makanan segar, olahan sederhana, dan produk industri dengan komposisi yang lebih kompleks.

Dalam klasifikasi tersebut, makanan dibagi ke dalam empat kelompok utama. Kelompok pertama adalah makanan tidak diproses atau diproses minimal, seperti buah, sayur, telur, susu, ikan segar, dan kacang-kacangan. Kelompok berikutnya mencakup bahan kuliner yang diproses, seperti garam, gula, mentega, dan minyak.

Kelompok ketiga adalah makanan olahan, yaitu produk yang dibuat dengan menambahkan garam, gula, atau minyak untuk memperpanjang daya simpan atau meningkatkan rasa. Contohnya antara lain ikan kalengan, keju, dan roti sederhana. Sementara itu, kelompok keempat adalah ultra-processed foods yang umumnya merupakan formulasi industri dengan banyak bahan tambahan.

Pada kelompok UPF, produk biasanya mengandung perisa, pewarna, pemanis, emulsifier, hingga pengawet tertentu. Contoh yang sering disebut adalah minuman manis kemasan, snack tinggi gula atau garam, mi instan tertentu, dan makanan siap santap tertentu. Karena itu, tidak semua makanan kemasan otomatis masuk kategori yang sama.

Sarden kalengan bukan otomatis UPF

Sarden kalengan kerap disangka UPF karena dikemas dalam kaleng dan tahan lama. Padahal, bentuk kemasan tidak menjadi satu-satunya penentu dalam klasifikasi NOVA. Yang lebih penting adalah komposisi bahan dan tingkat pemrosesannya.

Jika sarden kalengan hanya berisi ikan, air, garam, atau minyak dengan pemrosesan sederhana, maka produk tersebut lebih dekat ke kategori makanan olahan. Dalam banyak kasus, ikan kalengan diproses untuk pengawetan, bukan untuk menjadi formulasi industri yang kompleks. Karena itu, statusnya tidak serta-merta setara dengan minuman ringan atau makanan ringan ultra-proses.

Namun, label pada kemasan tetap perlu diperiksa dengan cermat. Bila suatu produk menambahkan banyak bahan tambahan, perisa, atau zat aditif dalam jumlah lebih kompleks, penilaiannya bisa berbeda. Konsumen perlu membaca daftar komposisi sebelum menyimpulkan kategori produk.

Kesalahpahaman tentang makanan kalengan sering muncul karena orang mengaitkannya dengan makanan instan yang minim nilai gizi. Dalam kenyataannya, tidak semua makanan olahan memiliki kualitas yang sama. Sarden kalengan dapat tetap menjadi pilihan praktis jika komposisinya sederhana dan dikonsumsi secara wajar.

Kenali perbedaan bahan tambahan

Perbedaan utama antara makanan olahan biasa dan UPF terletak pada jumlah serta fungsi bahan tambahannya. Makanan olahan umumnya dibuat untuk mempertahankan bahan pangan dasar dengan pemrosesan yang masih sederhana. Sementara itu, UPF lebih sering dirancang sebagai produk industri yang sangat dimodifikasi.

Bahan tambahan pada UPF bisa mencakup pemanis, perisa, pewarna, pengemulsi, dan pengawet tertentu. Komponen tersebut membuat produk lebih menarik, lebih tahan lama, dan lebih mudah dikonsumsi berulang. Meski begitu, keberadaan bahan tambahan saja tidak otomatis menjadikan semua produk masuk UPF.

Dalam konteks sarden kalengan, komposisi sederhana menjadi penanda penting. Jika bahan utamanya tetap ikan, ditambah sedikit garam atau minyak, maka produk tersebut masih dapat digolongkan sebagai makanan olahan. Penilaian ini berbeda bila produk sudah mengandung formulasi yang jauh lebih kompleks.

Masyarakat disarankan lebih kritis saat membaca label gizi dan daftar bahan. Langkah ini membantu membedakan produk yang hanya diawetkan dengan produk yang benar-benar ultra-proses. Dengan begitu, keputusan konsumsi bisa dibuat lebih tepat dan sesuai kebutuhan kesehatan.

Bijak memilih makanan kemasan

Perdebatan soal UPF menunjukkan bahwa literasi pangan masih perlu diperkuat di masyarakat. Banyak orang cenderung menganggap semua makanan kemasan sebagai pilihan yang tidak sehat. Padahal, kualitas produk sangat ditentukan oleh bahan, proses, dan frekuensi konsumsi.

Sarden kalengan, misalnya, bisa menjadi sumber protein yang praktis dan mudah disimpan. Selama komposisinya sederhana dan tidak berlebihan dalam kandungan natrium, produk ini dapat menjadi bagian dari menu harian. Tantangannya adalah menjaga porsi dan menyeimbangkannya dengan makanan segar.

Ahli gizi umumnya menilai pola makan secara keseluruhan, bukan hanya satu jenis makanan. Artinya, satu produk tidak bisa langsung diberi label baik atau buruk tanpa melihat konteksnya. Pendekatan seperti ini lebih membantu masyarakat mengambil keputusan yang realistis.

Di tengah ramainya pembahasan UPF, konsumen perlu lebih selektif dan tidak terpancing klaim yang beredar di media sosial. Memahami klasifikasi NOVA dapat membantu membedakan makanan olahan sederhana dari produk ultra-proses. Dengan pengetahuan tersebut, masyarakat bisa memilih makanan dengan lebih cermat dan proporsional.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!