Harga Pangan Idul Adha Naik, Cabai Rawit Tembus Rp75.450

Ekonomi Bisnis Gilang Nabaris 31 Mei 2026 01:30 WIB 2
Harga Pangan Idul Adha Naik, Cabai Rawit Tembus Rp75.450

Sejumlah harga pangan mengalami kenaikan pada Hari Raya Idul Adha yang jatuh pada Rabu, 27 Mei 2026, berdasarkan pemantauan Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Bank Indonesia. Kenaikan paling menonjol terjadi pada cabai rawit merah yang menembus Rp75.450 per kilogram. Selain itu, cabai merah besar, cabai merah keriting, bawang merah, bawang putih, telur ayam ras, dan minyak goreng juga kompak naik. Kondisi ini menunjukkan tekanan harga pangan masih terasa di pasar menjelang dan saat hari besar keagamaan.

Di sisi lain, beberapa komoditas justru terkoreksi, terutama beras dan cabai rawit hijau. Beras medium dan beras kualitas super tercatat turun tipis, sedangkan cabai rawit hijau merosot hampir 10 persen. Meski begitu, harga daging ayam ras dan gula pasir premium masih berada di jalur kenaikan. Pergerakan yang beragam ini mencerminkan dinamika pasokan dan permintaan yang berbeda pada tiap komoditas.

Harga pangan cabai melonjak

Cabai menjadi komoditas yang paling menonjol pada perdagangan hari raya kali ini. Cabai rawit merah tercatat di level Rp75.450 per kilogram, naik 3,85 persen dari hari sebelumnya. Cabai merah besar berada pada Rp64.100 per kilogram, sementara cabai merah keriting mencapai Rp61.350 per kilogram. Kenaikan masing-masing komoditas tersebut tercatat sebesar 15,39 persen dan 14,67 persen.

Berbeda dengan dua jenis cabai utama itu, cabai rawit hijau justru bergerak turun. Harganya berada di posisi Rp48.700 per kilogram, melemah 9,48 persen dibandingkan hari sebelumnya. Koreksi ini menjadi satu-satunya penurunan yang cukup tajam di kelompok cabai. Kondisi tersebut memperlihatkan perbedaan pasokan antarjenis cabai di pasar.

Pergerakan harga cabai pada momen Idul Adha biasanya dipengaruhi lonjakan permintaan rumah tangga dan pedagang. Saat permintaan naik lebih cepat daripada pasokan, harga cenderung terdorong ke atas. Dalam kondisi seperti ini, komoditas cabai sering menjadi salah satu pemicu utama inflasi pangan. Karena itu, stabilitas distribusi menjadi faktor penting untuk meredam kenaikan lebih lanjut.

Bawang dan telur ikut naik

Selain cabai, kelompok bawang juga mengalami kenaikan harga pada hari yang sama. Bawang merah ukuran sedang naik 3,02 persen menjadi Rp49.400 per kilogram. Bawang putih ukuran sedang turut meningkat 2,98 persen ke level Rp39.750 per kilogram. Kenaikan ini menambah daftar komoditas dapur yang lebih mahal pada momentum Idul Adha.

Telur ayam ras segar masih berada pada level Rp30.550 per kilogram, dengan kenaikan tipis 0,16 persen. Meski kenaikannya kecil, harga tersebut tetap menunjukkan kecenderungan menguat. Daging ayam ras segar juga bergerak naik cukup tinggi, yakni 11,07 persen menjadi Rp42.650 per kilogram. Kenaikan pada protein hewani ini berpotensi menambah biaya konsumsi rumah tangga.

Lonjakan pada bawang, telur, dan daging ayam biasanya saling berkaitan dengan tingginya kebutuhan konsumsi saat hari besar. Pedagang eceran dan rumah tangga cenderung menambah pembelian untuk persiapan hidangan. Jika pasokan dari sentra produksi tidak mengikuti laju permintaan, harga mudah terkerek. Situasi ini memperlihatkan pentingnya pengawasan distribusi pangan secara berkelanjutan.

Minyak goreng dan beras

Minyak goreng juga tercatat mengalami kenaikan pada pemantauan harga hari ini. Minyak goreng curah naik 1,95 persen menjadi Rp20.950 per kilogram. Minyak goreng kemasan bermerek 1 menguat 2,51 persen ke Rp24.500 per kilogram. Sementara itu, minyak goreng bermerek 2 naik 1,08 persen menjadi Rp23.300 per kilogram.

Di kelompok beras, justru terlihat penurunan pada seluruh jenis yang dipantau. Beras medium I turun 0,93 persen menjadi Rp16.000 per kilogram, sedangkan beras medium II terkoreksi 2,5 persen ke Rp15.600 per kilogram. Beras kualitas super I dan super II masing-masing melemah menjadi Rp17.050 dan Rp16.600 per kilogram. Koreksi beras ini menjadi penyeimbang di tengah kenaikan komoditas dapur lainnya.

Gula pasir kualitas premium turut naik 1,24 persen menjadi Rp20.450 per kilogram. Sebaliknya, gula pasir lokal tercatat di Rp19.150 per kilogram tanpa perubahan yang dijelaskan dalam data. Pola ini memperlihatkan bahwa tidak semua komoditas pokok bergerak seragam. Meski begitu, tekanan harga pada komoditas olahan tetap perlu dicermati karena dapat berdampak pada belanja rumah tangga.

Daging sapi masih terkoreksi

Untuk komoditas daging sapi, data PIHPS menunjukkan tren penurunan pada dua jenis kualitas. Daging sapi kualitas 1 berada di Rp143.800 per kilogram, turun 2,9 persen. Daging sapi kualitas 2 tercatat di Rp136.700 per kilogram, melemah 1,9 persen. Penurunan ini menjadi sinyal bahwa pasokan sapi relatif lebih terkendali dibanding sejumlah komoditas lain.

Meski daging sapi turun, tekanan harga pada komoditas ayam dan cabai tetap menahan laju stabilitas pangan. Rumah tangga berpenghasilan menengah ke bawah biasanya paling sensitif terhadap perubahan harga harian. Ketika beberapa bahan pokok naik bersamaan, biaya konsumsi dapat meningkat cukup signifikan. Dalam kondisi demikian, konsumen cenderung menyesuaikan menu belanja agar pengeluaran tetap terkendali.

Data harga pada 27 Mei 2026 ini menunjukkan bahwa pasar pangan bergerak dinamis saat Hari Raya Idul Adha. Kenaikan pada cabai, bawang, telur, ayam, dan minyak goreng menjadi sorotan utama. Sementara itu, penurunan pada beras dan daging sapi memberi sedikit ruang perbaikan. Pemerintah dan pelaku pasar perlu menjaga kelancaran pasokan agar lonjakan harga tidak meluas.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!