Harga hewan kurban di Jalur Gaza melonjak tajam pada Idul Adha tahun ini, seiring perang yang berkepanjangan, hancurnya peternakan, dan terhentinya arus impor ternak. Seekor hewan kurban kini dijual di kisaran US$ 6.000-7.000 atau sekitar Rp 106 juta-Rp 124 juta, jauh di atas harga sebelum perang yang hanya sekitar US$ 500. Kondisi itu membuat banyak warga Palestina tidak lagi mampu membeli hewan kurban, meski tradisi tersebut menjadi bagian penting dari perayaan Idul Adha. Situasi ini juga menunjukkan semakin dalamnya krisis kemanusiaan yang melanda Gaza.
Juru Bicara Kementerian Pertanian yang dikelola Hamas, Raafat Asaliya, mengatakan Gaza Timur biasanya mengimpor 10.000 hingga 20.000 anak sapi dan 30.000 hingga 40.000 domba setiap tahun menjelang Idul Adha. Namun, perang yang terus berlangsung telah merusak banyak peternakan, kandang, dan gudang pakan, sehingga pasokan ternak nyaris berhenti total. Asaliya menyebut penutupan perlintasan membuat impor terhenti sepenuhnya, sementara masyarakat juga kehilangan daya beli. Ia menegaskan, warga Gaza sudah hampir tiga tahun tidak merasakan perayaan Idul Adha yang semarak.
Kurban Gaza dan harga melonjak
Raafat Asaliya menjelaskan bahwa lonjakan harga terjadi karena pasokan ternak di Gaza nyaris hilang. Sebelum perang, kebutuhan menjelang Idul Adha masih dapat dipenuhi melalui impor dari luar wilayah. Kini, jalur masuk tertutup dan distribusi pakan ikut terganggu. Akibatnya, hewan kurban yang tersedia menjadi sangat terbatas dan mahal.
Pedagang ternak, Salah Afana, membenarkan bahwa harga hewan kurban telah naik berkali-kali lipat sejak perang dimulai. Ia menilai permintaan juga hampir tidak ada karena kemiskinan meluas di tengah kondisi perang. Banyak keluarga tidak lagi memprioritaskan pembelian ternak untuk kurban karena kebutuhan dasar jauh lebih mendesak. Dalam keadaan seperti ini, pasar ternak di Gaza praktis kehilangan fungsinya.
Afana menambahkan bahwa banyak hewan mati akibat serangan udara, kekurangan pakan, dan runtuhnya layanan veteriner. Pada saat yang sama, tidak ada ternak baru yang masuk karena penutupan perlintasan masih berlangsung. Kombinasi faktor itu membuat stok hewan kurban semakin menipis dari waktu ke waktu. Harga pun terdorong naik tanpa ada tanda akan kembali normal dalam waktu dekat.
Kurban Gaza hilang dari tradisi
Bagi warga Gaza, Idul Adha kini lebih sering menjadi pengingat atas kehilangan dan penderitaan. Ahmed Nashwan mengatakan ia tidak lagi pergi bersama saudara dan putra-putranya ke pasar ternak selama tiga tahun berturut-turut. Padahal, kegiatan itu selama ini menjadi salah satu tradisi paling ikonik dalam persiapan kurban. Ia menyebut kebiasaan keluarga untuk memilih hewan kurban kini hanya tinggal kenangan.
Nashwan menjelaskan bahwa keluarganya biasanya berkumpul untuk memilih hewan kurban, menyiapkan hari raya, lalu membagikan daging kepada kerabat dan keluarga miskin. Tradisi itu dulu memperkuat kebersamaan sekaligus membantu warga yang membutuhkan. Namun, perang membuat suasana tersebut lenyap dari kehidupan sehari-hari. Ia menyebut Idul Adha sekarang datang tanpa kegembiraan yang pernah ada sebelumnya.
Kondisi serupa juga dirasakan Mohammed al-Hissi, seorang ayah empat anak dari Gaza City. Ia mengatakan hewan kurban kini hampir mustahil diperoleh karena kelangkaan parah dan harga yang melonjak. Menurut dia, anak-anaknya dulu selalu bangun pagi, memakai pakaian baru, dan ikut berkunjung ke rumah kerabat setelah daging dibagikan. Kini, semua itu tergantikan oleh rasa cemas dan beban hidup yang semakin berat.
Krisis Gaza tekan keluarga
Al-Hissi menilai perang telah mengubah Idul Adha menjadi momen yang sarat kesedihan. Ia mengatakan sebagian besar keluarga tidak lagi memikirkan pembelian hewan kurban karena harga terlalu tinggi. Di sisi lain, banyak warga kehilangan pendapatan, rumah, dan akses terhadap kebutuhan pokok. Situasi tersebut membuat perayaan keagamaan sulit dijalankan secara layak.
Krisis kemanusiaan di Gaza juga mempersempit kemampuan masyarakat untuk menjaga tradisi sosial yang melekat pada Idul Adha. Pembagian daging kepada kerabat dan keluarga miskin yang dahulu menjadi bagian penting perayaan, kini hampir tidak mungkin dilakukan. Warga yang masih bertahan lebih banyak fokus pada kebutuhan makan, tempat tinggal, dan keselamatan. Dalam kondisi itu, kurban berubah dari ibadah yang penuh makna menjadi kemewahan yang sulit dijangkau.
Pernyataan para pedagang dan warga menunjukkan bahwa perang telah memukul sektor peternakan sekaligus daya beli masyarakat. Penutupan perlintasan, kerusakan infrastruktur, dan kelangkaan pakan saling memperburuk keadaan. Tanpa akses impor dan pemulihan ekonomi, harga hewan kurban kemungkinan tetap tinggi. Bagi warga Gaza, Idul Adha pun kembali hadir di tengah rasa kehilangan yang belum juga berakhir.
Idul Adha Gaza tanpa harapan
Situasi di Gaza memperlihatkan bagaimana perang dapat mengubah tradisi keagamaan menjadi beban ekonomi yang nyaris mustahil dipenuhi. Idul Adha yang biasanya identik dengan kebersamaan, kini berlangsung dalam suasana serba terbatas. Warga harus menghadapi pilihan sulit antara kebutuhan hidup dan menjalankan ibadah kurban. Dalam banyak keluarga, pilihan itu sudah tidak lagi tersedia.
Lonjakan harga hewan kurban menjadi salah satu indikator paling nyata dari rusaknya rantai pasok di wilayah konflik. Ketika impor terhenti dan peternakan hancur, pasar kehilangan kemampuan untuk menstabilkan harga. Pada saat yang sama, permintaan anjlok karena daya beli masyarakat jatuh. Kondisi ini membuat pasar ternak Gaza berada dalam krisis berkepanjangan.
Dengan perang yang belum usai, warga Gaza diperkirakan masih akan menghadapi Idul Adha tanpa kurban untuk waktu yang belum dapat dipastikan. Bagi banyak keluarga, yang tersisa hanyalah kenangan atas perayaan yang pernah meriah. Mereka kini hidup di tengah keterbatasan, kehilangan, dan ketidakpastian masa depan. Di tengah keadaan itu, harapan untuk kembali merayakan Idul Adha secara layak masih terasa jauh.
