Harga Hewan Kurban di Gaza Melonjak Akibat Perang

Lifestyle Clara Monica 31 Mei 2026 08:32 WIB 3
Harga Hewan Kurban di Gaza Melonjak Akibat Perang

Harga hewan kurban di Jalur Gaza melonjak tajam hingga menembus US$ 6.000-7.000 atau sekitar Rp 106 juta-Rp 124 juta per ekor, jauh di atas harga sebelum perang yang hanya sekitar US$ 500. Kondisi itu terjadi di tengah pasokan ternak yang nyaris terputus, kerusakan peternakan, serta penutupan perlintasan yang membuat impor berhenti total.

Juru Bicara Kementerian Pertanian yang dikelola Hamas, Raafat Asaliya, mengatakan Gaza Timur sebelumnya rutin menerima 10.000 hingga 20.000 anak sapi dan 30.000 hingga 40.000 domba menjelang Idul Adha. Namun, perang yang berlangsung hampir tiga tahun telah mengubah tradisi itu menjadi pengalaman yang sarat penderitaan bagi banyak keluarga Palestina.

Harga kurban melonjak di Gaza

Raafat Asaliya menyebut harga hewan kurban telah naik berkali-kali lipat sejak perang pecah. Kenaikan itu dipicu oleh hancurnya banyak peternakan, kandang, dan gudang pakan.

Penutupan perlintasan juga membuat tidak ada lagi ternak yang masuk ke Gaza. Dalam situasi itu, pasokan yang terbatas berhadapan dengan kondisi ekonomi warga yang terus memburuk.

Asaliya mengatakan masyarakat Gaza sudah tidak lagi merasakan kemeriahan Idul Adha seperti sebelumnya. Ia menilai belum ada kepastian kapan tradisi kurban bisa kembali dijalankan secara normal.

Pasokan ternak terhenti total

Pedagang ternak Salah Afana membenarkan bahwa harga hewan kurban meningkat drastis sejak perang dimulai. Menurut dia, permintaan pun hampir tidak ada lagi karena kemiskinan yang meluas.

Ia menambahkan bahwa banyak hewan mati akibat serangan udara, kekurangan pakan, dan kolapsnya layanan veteriner. Kondisi itu membuat stok ternak di Gaza semakin menipis dari waktu ke waktu.

Afana menyebut penutupan perlintasan menjadi faktor utama yang menghentikan arus masuk ternak. Akibatnya, pasar hewan kurban yang biasanya ramai menjelang Idul Adha kini nyaris lumpuh.

Tradisi kurban berubah pilu

Bagi Ahmed Nashwan, Idul Adha kini lebih banyak mengingatkan pada penderitaan daripada kebahagiaan. Untuk tahun ketiga berturut-turut, ia tidak pergi bersama saudara dan anak-anaknya ke pasar ternak.

Ia mengatakan keluarga biasanya berkumpul untuk memilih hewan kurban sebelum membagikan daging kepada kerabat dan keluarga miskin. Tradisi itu kini sulit dilakukan karena perang telah mengubah hampir seluruh aspek kehidupan warga.

Menurut Nashwan, hari raya yang dulu identik dengan kebersamaan kini dipenuhi kesedihan. Ia menilai warga Gaza tidak lagi memiliki ruang untuk merayakan Idul Adha seperti sebelum konflik berkepanjangan.

Warga hadapi krisis kemanusiaan

Mohammed al-Hissi, seorang ayah empat anak dari Gaza City, mengatakan hewan kurban kini hampir mustahil diperoleh. Ia menilai kelangkaan parah dan lonjakan harga membuat banyak keluarga tidak mampu membeli apa pun.

Ia mengingat Idul Adha sebagai masa paling membahagiakan bagi keluarganya. Anak-anaknya biasanya mengenakan pakaian baru, lalu ikut berkunjung ke rumah kerabat setelah daging kurban dibagikan.

Namun, menurut al-Hissi, semua itu telah berubah akibat perang dan memburuknya kondisi kemanusiaan di Gaza. Banyak keluarga kini kehilangan pendapatan, rumah, dan kemampuan dasar untuk bertahan hidup.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!