PT Pertamina (Persero) memperkuat komitmennya dalam mendorong pengembangan UMKM melalui Program Pertapreneur Aggregator dengan menggandeng PT Agrominafiber Java Indonesia dan Rutan Kelas IIB Kebumen. Kolaborasi ini mengolah limbah pelepah pisang menjadi serat alami bernilai ekonomi, sekaligus membuka ruang keterampilan produktif bagi warga binaan.
Program tersebut telah menunjukkan hasil awal, mulai dari penyaluran sekitar satu ton bahan baku dalam sepekan hingga target pasokan 30 persen kebutuhan produksi perusahaan dari hasil olahan warga binaan. Pendampingan juga ditinjau langsung oleh Asesor Pertapreneur Aggregator Pertamina untuk memastikan program berjalan sesuai standar, berkelanjutan, dan memberi dampak sosial jangka panjang.
Pertapreneur Aggregator dan UMKM
Program Pertapreneur Aggregator menjadi salah satu instrumen Pertamina dalam memperluas peran UMKM binaan agar tidak hanya tumbuh di sisi usaha, tetapi juga memberi manfaat sosial yang nyata. Skema ini mendorong terciptanya rantai nilai yang melibatkan pelaku usaha kecil, mitra industri, dan lembaga pemasyarakatan.
Dalam implementasinya, PT Agrominafiber Java Indonesia memanfaatkan pelepah pisang sebagai bahan baku utama untuk produk serat alami. Direktur perusahaan, Novita, menilai bahan tersebut memiliki potensi besar untuk industri kerajinan dan material berkelanjutan yang diminati pasar ekspor.
Novita juga menegaskan bahwa keterlibatan warga binaan dalam proses produksi memberi nilai tambah yang lebih luas. Menurut dia, partisipasi langsung dalam rantai produksi akan membekali mereka dengan keterampilan yang relevan dan bernilai ekonomi.
Produksi Serat Pelepah Pisang
Kerja sama Agrominafiber dengan Rutan Kebumen dimulai dari pelatihan awal yang langsung diikuti oleh produksi nyata. Dalam waktu satu minggu, perusahaan telah menyalurkan sekitar satu ton bahan baku ke fasilitas rutan untuk diolah.
Ke depan, sekitar 30 persen kebutuhan bahan baku perusahaan yang mencapai 15 ton direncanakan berasal dari hasil produksi warga binaan. Target ini menunjukkan bahwa kolaborasi tersebut tidak berhenti pada pembinaan, melainkan diarahkan menjadi kemitraan usaha yang produktif.
Dari hasil pelatihan awal, warga binaan disebut sudah mampu menghasilkan serat pelepah pisang dengan kualitas yang terus meningkat. Target produksi ditetapkan sekitar tiga ton per bulan, dengan sekitar 60 persen produk telah memenuhi standar kualitas perusahaan.
Pendampingan dan Kualitas
Selama proses pendampingan, tim Agrominafiber memberikan bimbingan langsung kepada warga binaan. Materi yang diberikan mencakup teknik produksi, peningkatan kerapian produk, dan pengelolaan bahan baku berbasis prinsip zero waste.
Pendekatan tersebut dinilai penting agar hasil produksi lebih seragam dan sesuai kebutuhan pasar. Dengan sistem pendampingan yang terukur, kualitas produk diharapkan meningkat secara bertahap tanpa mengabaikan efisiensi bahan baku.
Asesor Pertapreneur Aggregator Pertamina, Bima, menyebut sinergi ini memiliki potensi besar karena hasilnya dapat terlihat relatif cepat. Ia menegaskan fokus pendampingan berikutnya ada pada kualitas dan ketepatan waktu produksi.
Dampak Sosial Berkelanjutan
Kepala Rutan Kelas IIB Kebumen, Pramu Sapta, menyampaikan respons awal terhadap kerja sama ini cukup positif. Menurut dia, laporan dari jajaran menunjukkan perkembangan yang baik meski program belum genap sebulan berjalan.
Pramu menilai keterlibatan Asesor Pertapreneur Aggregator Pertamina memperkuat arah program agar tidak berhenti pada pelatihan semata. Ia berharap keterampilan yang diperoleh warga binaan dapat menjadi bekal saat kembali ke masyarakat setelah menjalani masa pidana.
Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero), Muhammad Baron, menyebut program ini sebagai hasil sinergi yang dapat menjadi contoh pengembangan UMKM berbasis agregasi. Dengan pendampingan intensif selama enam bulan ke depan, Pertamina menargetkan model ini mampu menghadirkan daya saing bisnis sekaligus dampak sosial yang berkelanjutan.
