Happy Salma Ungkap Perimenopause dan Brain Fog di Usia 46

Lifestyle Nadia Safira Putri 25 Mei 2026 10:03 WIB 5
Happy Salma Ungkap Perimenopause dan Brain Fog di Usia 46

Perimenopause kerap datang tanpa disadari dan membawa perubahan fisik sekaligus emosional yang signifikan. Hal itu juga dialami aktris Happy Salma, yang kini semakin memahami tubuhnya seiring bertambahnya usia. Pada usia 46 tahun, ia menilai menopause sebagai fase alami yang perlu dipahami, bukan ditakuti.

Happy mengaku dulu belum benar-benar mengerti tahapan perimenopause, meski melihat saudara perempuannya lebih dahulu mengalaminya. Ia menyebut perubahan ini bisa muncul sejak usia 30-an dan memengaruhi banyak sisi kehidupan. Menurut dia, pemahaman menjadi kunci agar perempuan dapat menghadapi fase tersebut dengan lebih siap.

Perimenopause dan Perubahan Tubuh

Happy menjelaskan bahwa perimenopause bukan hanya soal perubahan fisik, tetapi juga berkaitan dengan kondisi emosional. Ia merasakan sensasi yang berbeda dibanding masa sebelumnya, termasuk saat PMS yang kini terasa lebih intens. Perubahan itu membuatnya semakin peka terhadap sinyal tubuh.

Fase ini, menurutnya, sering kali tidak disadari karena gejalanya datang perlahan. Banyak perempuan baru memahami setelah mengalami perubahan yang cukup mengganggu dalam keseharian. Karena itu, informasi mengenai perimenopause menjadi penting untuk diketahui sejak dini.

Ia menilai perimenopause adalah bagian dari proses alamiah yang akan dialami banyak perempuan. Dengan pengetahuan yang cukup, seseorang bisa lebih tenang dalam menyikapi perubahan yang muncul. Sikap itu membantu menjaga keseimbangan fisik dan mental secara bersamaan.

Brain Fog dan Fokus

Selain perubahan emosi, Happy juga merasakan gangguan pada daya ingat yang ia sebut sebagai brain fog. Kondisi ini membuatnya lebih mudah lupa dan sulit mempertahankan fokus saat bekerja. Sebagai aktris yang terbiasa menghafal naskah, hal itu menjadi tantangan baru.

Brain fog dalam fase perimenopause umumnya dipicu fluktuasi hormon, terutama estrogen. Hormon tersebut memiliki peran penting dalam fungsi otak, termasuk konsentrasi dan kemampuan berpikir jernih. Akibatnya, aktivitas yang menuntut ketelitian dapat terasa lebih berat.

Happy mengatakan ia kini lebih sering mengalami lupa saat menghafal dialog. Ia menilai perubahan tersebut sangat terasa dalam pekerjaan sehari-hari. Meski begitu, ia tetap berusaha menyesuaikan diri agar produktivitas tidak terganggu.

Refleksi dan Penerimaan Diri

Alih-alih menganggap perimenopause sebagai ancaman, Happy melihatnya sebagai fase refleksi diri. Ia percaya masa ini bisa menjadi kesempatan untuk lebih mengenal kebutuhan tubuh dan batin. Pandangan itu membuatnya lebih tenang dalam menjalani proses perubahan usia.

Baginya, perimenopause dapat menjadi momen untuk memperbaiki kualitas hidup secara menyeluruh. Ia menekankan pentingnya lebih menghargai diri sendiri dan kehidupan yang dijalani. Dari situ, ia merasa perempuan bisa menemukan makna baru dalam keseharian.

Happy juga menyebut fase ini sebagai kesempatan kedua untuk glowing dari dalam. Ia percaya banyak perempuan justru bisa merasa lebih bahagia karena lebih memahami diri sendiri. Proses dialog dan perenungan, menurut dia, menjadi bagian penting dari penerimaan diri.

Mencari Informasi dan Dukungan

Untuk menghadapi perimenopause, Happy mengaku kini lebih aktif mencari informasi yang relevan. Ia juga mencoba terapi regulasi stres seperti Mindlift by Exomind sebagai bagian dari upaya menjaga keseimbangan. Menurutnya, dukungan yang tepat dapat membantu perempuan melewati fase ini dengan lebih nyaman.

Ia menilai pengetahuan yang memadai akan membantu perempuan mengambil langkah yang lebih bijak. Dengan begitu, perubahan hormon tidak lagi dianggap sebagai sesuatu yang menakutkan. Sebaliknya, fase ini bisa dipahami sebagai proses alami yang perlu dikelola dengan baik.

Pesan utama yang ingin ia sampaikan adalah pentingnya keterbukaan terhadap perubahan tubuh. Perempuan perlu lebih peka pada sinyal yang muncul dan tidak ragu mencari bantuan bila diperlukan. Dengan pemahaman yang benar, perimenopause dapat dijalani secara lebih sehat dan bermakna.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!