Happy Salma Soroti Perimenopause dan Brain Fog

Lifestyle Clara Monica 23 Mei 2026 18:42 WIB 5
Happy Salma Soroti Perimenopause dan Brain Fog

Perimenopause kerap datang tanpa disadari, padahal fase transisi menuju menopause ini dapat memengaruhi fisik dan emosi secara signifikan. Hal itu juga dirasakan oleh Happy Salma, yang kini semakin memahami perubahan tubuhnya seiring bertambahnya usia. Di usia 46 tahun, ia menilai pengetahuan tentang perimenopause perlu dipahami lebih awal agar perempuan tidak terkejut saat mengalaminya.

Menurut Happy, banyak perempuan, termasuk dirinya dan dua kakaknya, dahulu tidak benar-benar memahami tahapan perimenopause. Ia menyebut perubahan tubuh pada fase ini bisa muncul perlahan, tetapi dampaknya cukup terasa dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, ia menilai menopause bukan sesuatu yang perlu dihindari, melainkan dipahami dengan lebih jernih.

Perimenopause dan perubahan tubuh

Happy Salma menjelaskan bahwa perimenopause bahkan dapat dimulai sejak usia 30-an. Fase ini merupakan masa transisi menuju menopause yang ditandai oleh perubahan hormon secara bertahap. Dampaknya tidak hanya terasa pada kondisi fisik, tetapi juga pada stabilitas emosi.

Ia menyebut sensitivitas tubuh dan perasaan dapat meningkat pada masa ini. Jika dulu gejala pramenstruasi hanya membuat lebih peka, kini respons emosional bisa terasa jauh lebih kuat. Perubahan tersebut membuat perempuan perlu lebih mengenali sinyal tubuhnya sendiri.

Menurut pengakuannya, pemahaman tentang fase ini sangat penting karena menopausе adalah proses alami yang tidak dapat dihindari. Dengan informasi yang cukup, perempuan dapat mempersiapkan diri menghadapi perubahan yang mungkin muncul. Hal itu juga membantu mengurangi kecemasan berlebihan saat tubuh mulai menunjukkan tanda-tanda perimenopause.

Brain fog dan konsentrasi

Happy juga merasakan perubahan pada daya ingat yang ia sebut sebagai brain fog. Kondisi ini merupakan gangguan kognitif ringan yang membuat seseorang lebih mudah lupa dan sulit berkonsentrasi. Pada masa perimenopause, gejala tersebut kerap dirasakan lebih nyata dibanding sebelumnya.

Ia mengatakan pekerjaan yang menuntut hafalan kini terasa lebih menantang. Dalam rutinitasnya sebagai aktris, kemampuan mengingat naskah menjadi bagian penting dari pekerjaan. Namun, brain fog membuat proses itu tidak selalu berjalan semudah dulu.

Secara medis, brain fog pada fase perimenopause umumnya dipicu oleh fluktuasi hormon, terutama estrogen. Hormon ini memiliki peran penting dalam fungsi otak dan kemampuan berpikir. Akibatnya, aktivitas harian seperti fokus bekerja dan mengambil keputusan bisa terasa lebih berat.

Perimenopause bukan untuk ditakuti

Meski mengalami berbagai perubahan, Happy menegaskan bahwa perimenopause bukan fase yang perlu ditakuti. Ia justru melihatnya sebagai kesempatan untuk melakukan refleksi diri. Menurutnya, masa ini dapat menjadi ruang untuk memahami kebutuhan tubuh dan batin secara lebih mendalam.

Ia menyebut perimenopause sebagai momen untuk lebih mengenal diri sendiri. Dalam pandangannya, fase ini dapat mendorong kualitas hidup yang lebih baik jika dijalani dengan sikap terbuka. Perempuan, kata dia, bisa belajar memberi perhatian yang lebih serius pada kesehatan dan kesejahteraan diri.

Happy juga menilai banyak perempuan justru bisa merasa lebih bahagia pada usia ini. Hal itu terjadi ketika seseorang lebih memahami dirinya, lebih banyak berdialog dengan batin, dan tidak lagi mengabaikan kebutuhan emosionalnya. Ia menyebut kondisi tersebut sebagai peluang untuk lebih menghargai hidup.

Informasi dan dukungan penting

Menurut Happy, pemahaman adalah kunci utama dalam menghadapi perimenopause. Ia mengaku kini lebih aktif mencari informasi agar tidak salah menyikapi perubahan yang muncul. Langkah itu membantunya merasa lebih tenang dan siap menjalani fase kehidupan berikutnya.

Selain mencari informasi, ia juga mencoba terapi regulasi stres seperti Mindlift by Exomind. Upaya ini dipilih untuk membantu menjaga keseimbangan emosi dan kenyamanan tubuh. Baginya, dukungan yang tepat dapat membuat perjalanan perimenopause terasa lebih ringan.

Pengalaman Happy menunjukkan bahwa perimenopause membutuhkan perhatian yang lebih serius dari perempuan maupun lingkungan sekitarnya. Edukasi yang tepat dapat membantu mengurangi stigma, sekaligus membuka ruang diskusi yang lebih sehat. Dengan begitu, perempuan bisa menjalani fase ini dengan lebih percaya diri dan berdaya.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!