Happy Salma Soroti Perimenopause dan Brain Fog

Lifestyle Clara Monica 29 Mei 2026 01:23 WIB 3
Happy Salma Soroti Perimenopause dan Brain Fog

Perimenopause sering datang tanpa disadari, padahal fase transisi menuju menopause ini dapat memengaruhi kondisi fisik dan emosional perempuan secara signifikan. Pengalaman itu juga dirasakan aktris Happy Salma, yang kini semakin memahami tubuhnya seiring bertambahnya usia.

Dalam usia 46 tahun, Happy mengaku dulu belum benar-benar memahami tahapan perimenopause, termasuk perubahan yang mungkin muncul pada tubuh dan pikiran. Ia menilai menopause adalah fase yang tidak terhindarkan, sehingga pemahaman sejak dini menjadi penting agar perempuan dapat menghadapinya dengan lebih siap.

Perimenopause dan Perubahan Tubuh

Happy Salma menyebut perimenopause dapat dimulai sejak usia 30-an. Menurutnya, banyak perempuan belum menyadari bahwa perubahan ini sudah berlangsung cukup awal. Kondisi tersebut membuat pengetahuan tentang kesehatan reproduksi menjadi sangat penting.

Ia menjelaskan bahwa perubahan pada fase ini tidak hanya terasa secara fisik, tetapi juga emosional. Sensitivitas yang meningkat kerap membuat perempuan lebih mudah bereaksi terhadap hal-hal kecil. Karena itu, perimenopause sering menjadi masa yang membingungkan jika tidak dipahami dengan baik.

Bintang film Pangku itu menuturkan, dulu PMS hanya membuat dirinya lebih sensitif. Namun kini ia merasakan tingkat sensitivitas yang jauh lebih tinggi. Perubahan itu membuatnya lebih peka terhadap kondisi tubuh dan suasana hati.

Happy juga menilai pengalaman setiap perempuan bisa berbeda dalam menghadapi perimenopause. Ada yang merasakan gejala ringan, ada pula yang mengalami perubahan cukup besar. Perbedaan ini membuat informasi yang akurat menjadi semakin dibutuhkan.

Brain Fog dan Dampaknya

Salah satu perubahan yang dirasakan Happy adalah penurunan daya ingat yang ia sebut sebagai brain fog. Kondisi ini membuat seseorang lebih mudah lupa dan sulit berkonsentrasi. Dalam aktivitas sehari-hari, situasi tersebut dapat terasa sangat mengganggu.

Brain fog merupakan gangguan kognitif ringan yang kerap muncul pada fase perimenopause. Salah satu pemicunya adalah fluktuasi hormon, terutama estrogen yang berperan dalam fungsi otak. Saat kadar hormon berubah, kemampuan berpikir bisa terasa tidak sejelas biasanya.

Happy mengaku pekerjaan yang menuntut hafalan kini terasa lebih menantang. Ia sering mengalami lupa saat menghafal naskah, sesuatu yang sebelumnya tidak terlalu ia rasakan. Kondisi ini membuatnya harus lebih berhati-hati dalam menjalani rutinitas kerja.

Perubahan fokus juga dapat memengaruhi cara seseorang mengambil keputusan. Aktivitas yang membutuhkan konsentrasi tinggi, seperti bekerja di depan kamera atau mengatur jadwal, bisa terasa lebih berat. Karena itu, memahami gejala brain fog menjadi langkah awal untuk mencari cara penanganan yang tepat.

Menerima Perubahan dengan Bijak

Meski mengalami berbagai perubahan, Happy menegaskan bahwa perimenopause bukan fase yang perlu ditakuti. Ia justru melihatnya sebagai masa refleksi diri. Menurutnya, fase ini dapat membantu perempuan lebih memahami kebutuhan tubuh dan pikirannya.

Baginya, perimenopause adalah kesempatan untuk lebih mengenal diri sendiri. Ia menilai momen tersebut dapat menjadi pintu untuk meningkatkan kualitas hidup. Sikap menerima membuat prosesnya terasa lebih tenang dan terarah.

Happy juga menyebut fase ini bisa menjadi waktu untuk lebih menghargai hidup. Ia merasa perempuan dapat menjadi lebih romantis kepada Sang Pencipta dan lebih menghormati dirinya sendiri. Dari situ, muncul dorongan untuk menjalani hidup dengan lebih sadar.

Ia bahkan menggambarkan perimenopause sebagai kesempatan kedua untuk glowing dari dalam. Dengan pemahaman yang lebih baik, perempuan dapat menemukan ketenangan baru dalam dirinya. Hal itu, menurutnya, justru dapat membawa kebahagiaan yang lebih matang.

Mencari Informasi dan Dukungan

Happy menilai pemahaman menjadi kunci utama dalam menghadapi perimenopause. Karena itu, ia kini lebih aktif mencari informasi mengenai perubahan yang terjadi pada tubuhnya. Langkah ini membantunya lebih siap saat menghadapi gejala yang muncul.

Selain mencari pengetahuan, ia juga mencoba terapi regulasi stres seperti Mindlift by Exomind. Upaya tersebut dilakukan untuk membantu menjaga keseimbangan fisik dan emosional. Dengan demikian, ia dapat tetap menjalani aktivitas sehari-hari secara lebih nyaman.

Menurut Happy, perempuan sebaiknya tidak menunggu sampai gejala terasa berat sebelum mulai memahami perimenopause. Edukasi sejak awal dapat membantu mengurangi kebingungan dan kekhawatiran. Dukungan dari lingkungan sekitar juga berperan penting dalam proses ini.

Ia berharap semakin banyak perempuan berani membicarakan perubahan yang mereka alami. Percakapan terbuka dapat membantu menghapus stigma dan menumbuhkan kesadaran. Dengan begitu, perimenopause dapat dipandang sebagai fase hidup yang wajar dan dapat dijalani dengan lebih sehat.

dr. Arini Astasari, SpDVE, FINSDV, serta sejumlah figur publik seperti Happy Salma dan desainer interior Yuni Jie turut menjadi sorotan dalam pembahasan ini. Pengalaman mereka menunjukkan bahwa kesehatan perempuan perlu dibicarakan secara terbuka dan informatif. Kesadaran yang lebih besar diharapkan dapat membantu perempuan menghadapi perimenopause dengan lebih percaya diri.

Dengan informasi yang tepat, perempuan dapat memahami bahwa perubahan pada tubuh bukanlah sesuatu yang harus ditakuti. Setiap fase kehidupan membawa tantangan sekaligus pelajaran yang berharga. Perimenopause pun dapat dijalani sebagai bagian dari perjalanan hidup yang lebih sadar dan bermakna.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!