Gula Berlebih: Dampak Kesehatan dan Cara Mengonsumsinya

Lifestyle Anindya Kirana Putri 13 Mei 2026 13:01 WIB 10
Gula Berlebih: Dampak Kesehatan dan Cara Mengonsumsinya

Konsumsi gula tambahan dalam jumlah berlebih berisiko merusak kesehatan tubuh secara menyeluruh.

Pakar gizi menegaskan gula berlebih bisa meningkatkan berat badan, risiko penyakit jantung, dan masalah kulit.

Pedoman gizi global merekomendasikan pembatasan gula menjadi kurang dari 10 persen dari total kalori harian untuk pencegahan dampak negatif.

Mengutip Health Line, sejumlah efek kesehatan dapat muncul jika gula dikonsumsi berlebihan.

Efek tersebut meliputi kenaikan berat badan tanpa disadari, peningkatan risiko penyakit jantung, dan jerawat.

Penelitian juga mengaitkan gula tinggi dengan diabetes tipe 2, gangguan suasana hati, serta penuaan kulit akibat pembentukan AGE.

Batas asupan gula

Pedoman gizi merekomendasikan asupan gula tambahan kurang dari 10 persen dari total kalori harian.

Pembatasan ini bertujuan mencegah lonjakan kalori yang tidak terhitung dan dampak metabolik jangka panjang.

Penerapan batas ini dikaitkan dengan upaya menjaga berat badan, kesehatan jantung, dan kesejahteraan umum.

Minuman manis seperti soda, jus kemasan, dan teh manis menjadi sumber fruktosa tinggi yang dapat meningkatkan rasa lapar.

Akibatnya kalori dari minuman sering tidak terhitung sehingga berkontribusi pada kenaikan berat badan.

Kebiasaan ini juga membuat energi harian tidak stabil karena naik turun gula darah.

Selain berat badan, gula berlebih terkait risiko penyakit jantung dan diabetes tipe 2.

Konsumsi gula yang berlebihan juga dapat memperburuk kondisi kulit, memicu jerawat, dan peradangan.

Efeknya bisa muncul secara bertahap meski tampak sepele pada hari-hari awal.

Dampak jangka panjang

Gula berlebih dapat meningkatkan risiko aterosklerosis akibat penumpukan lemak pada pembuluh darah.

Kondisi ini menjadi faktor utama penyakit jantung koroner dan serangan jantung.

Pola makan kaya gula juga dapat membebani metabolisme lemak dan gula darah.

Penelitian menunjukkan hubungan kuat antara asupan gula tinggi dan risiko diabetes tipe 2.

Kenyamanan energi yang tidak stabil juga dapat mengganggu aktivitas sehari-hari.

Faktor risiko ini dipicu oleh peningkatan berat badan dan akumulasi lemak perut.

Selain itu gula tinggi berperan dalam isu kesehatan kulit, suasana hati, dan penuaan kulit.

Kenaikan gula darah dapat memicu peradangan yang memperburuk jerawat dan kerutan.

Beberapa studi juga mengaitkan gula dengan depresi dan gangguan mood pada jangka panjang.

Strategi konsumsi bijak

Langkah praktis meliputi membatasi minuman manis, membaca label gula, dan mengganti camilan tinggi gula dengan pilihan sehat.

Pilih gula tambahan rendah kalori seperti pemanis alami atau susu tanpa gula sebagai alternatif.

Kebiasaan membawa botol minuman air putih juga membantu mengurangi dorongan untuk minum gula.

Coba perlahan mengurangi asupan gula harian dengan fase-fase bertahap hingga batas aman.

Gabungkan sumber gula dari buah utuh yang mengandung serat untuk kenyang lebih lama.

Pemanis alami seperti madu bisa digunakan sesekali dalam takaran wajar sesuai pedoman.

Pola makan seimbang, dengan cukup serat, protein, dan lemak sehat, menjadi fondasi pencegahan efek gula.

Aktivitas fisik rutin juga dikaitkan dengan peningkatan sensitivitas insulin dan manajemen gula darah.

Konsistensi pola makan sehat diyakini mendukung kesejahteraan jangka panjang dan mengurangi risiko masalah gula.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!