Gangguan sistem imigrasi Malaysia kembali terjadi dan melumpuhkan sejumlah pos pemeriksaan di seluruh negeri pada Kamis pagi waktu setempat. Insiden ini paling terasa di perbatasan darat Johor-Singapura, yang menjadi jalur tersibuk bagi pekerja dan pelancong setiap hari.
Selama beberapa jam, petugas terpaksa melayani warga Malaysia dan pelancong asing secara manual karena sistem berbasis komputer tidak berfungsi. Kondisi tersebut memicu antrean panjang, kemacetan lalu lintas, serta keluhan dari para pekerja yang terlambat menuju Singapura.
Gangguan Imigrasi Malaysia
Gangguan itu terjadi pada saat banyak warga Malaysia berangkat kerja ke Singapura. Menurut laporan media lokal, sistem mulai bermasalah sejak pagi buta dan berdampak pada proses pemeriksaan di jalur darat. Petugas kemudian mengalihkan pelayanan ke loket manual agar arus perlintasan tetap berjalan. Situasi tersebut membuat proses imigrasi jauh lebih lambat dari biasanya.
Seorang pejabat Kementerian Dalam Negeri Malaysia menyebut antrean panjang terjadi di kedua pos pemeriksaan darat Johor. Ia mengatakan seluruh personel harus dikerahkan kembali untuk mengoperasikan loket manual di aula bus, jalur sepeda motor, dan jalur kendaraan. Selain gerbang otomatis, sistem pengenalan wajah juga ikut terganggu. Hal itu memperburuk situasi di lapangan dan menambah waktu tunggu pengguna perbatasan.
Gangguan terjadi pada jam puncak ketika ribuan pekerja menuju Singapura. Banyak pelancong mengaku kecewa karena keterlambatan itu berdampak langsung pada jadwal kerja mereka. Foto dan video kemacetan kemudian menyebar luas di media sosial. Kondisi tersebut memperlihatkan betapa rapuhnya layanan perlintasan saat sistem digital tidak berfungsi.
Dampak Imigrasi Malaysia
Keluhan paling keras datang dari para pekerja komuter yang bergantung pada kelancaran pos pemeriksaan setiap pagi. Salah satunya adalah M Satish, warga Malaysia yang bekerja di sektor kesehatan, keselamatan, dan lingkungan di Singapura. Ia tiba di KSAB sekitar pukul 7.30 pagi dan mendapati suasana yang kacau. Proses imigrasi yang biasanya kurang dari 10 menit berubah menjadi hampir 40 menit.
Satish mengatakan ia beruntung berangkat lebih awal dari rumah. Jika tidak, ia yakin akan terlambat masuk kerja di negara tetangga. Ia juga menilai pemadaman listrik turut memperparah kemacetan di area perbatasan. Menurutnya, gangguan seperti ini menciptakan ketidakpastian bagi banyak pekerja harian.
Keluhan serupa datang dari pelancong lain yang terjebak dalam antrean panjang. Mereka harus menunggu lebih lama di tengah kondisi lalu lintas yang padat dan ruang perlintasan yang penuh sesak. Situasi itu menunjukkan betapa pentingnya keandalan sistem pada jalur lintas batas. Bagi banyak orang, keterlambatan beberapa menit saja dapat mengganggu seluruh agenda kerja hari itu.
Sistem Imigrasi Malaysia
Direktur Jenderal Departemen Imigrasi Malaysia, Zakaria Shaaban, menjelaskan bahwa gangguan terjadi sekitar pukul 5 pagi dan berlangsung hingga pukul 8.45 pagi. Menurut dia, penyebabnya adalah masalah teknis pada pusat data Sistem Imigrasi Malaysia atau MyIMMs. Sistem tersebut kemudian kembali online setelah dilakukan pekerjaan perbaikan. Zakaria menegaskan insiden itu bukan akibat peretasan.
Ia juga menyebut MyIMMs sudah berusia sekitar 30 tahun. Karena faktor usia, masalah teknis seperti ini dinilai memang bisa terjadi. Gangguan yang terjadi pada Kamis pagi pun disebut sebagai insiden besar kedua dalam waktu kurang lebih sebulan. Sebelumnya, gangguan serupa sempat membuat ribuan pelancong terlantar selama sekitar dua jam pada 23 April.
Malaysia memiliki 56 titik masuk melalui laut, 30 melalui darat, dan 28 bandara. Gangguan kali ini memengaruhi sebagian besar dari 114 pos pemeriksaan imigrasi di seluruh negeri. Untuk menjaga ketertiban, pemerintah mengerahkan personel keamanan tambahan di sejumlah titik. Langkah itu diambil agar arus lalu lintas manusia dan kendaraan tidak semakin kacau.
Masa Depan Imigrasi Malaysia
Pemerintah Malaysia sebenarnya telah menyiapkan sistem baru bernama Sistem Imigrasi Terpadu Nasional atau NIISe. Platform ini dirancang untuk memodernisasi pengendalian perbatasan dan mengintegrasikan verifikasi paspor, pemeriksaan visa, serta data pelancong dalam satu sistem. Target penggantian MyIMMs dijadwalkan pada 2028. Kehadiran NIISe diharapkan membuat layanan perbatasan lebih cepat dan stabil.
Meski begitu, pihak berwenang mengakui gangguan serupa masih mungkin terjadi sebelum sistem baru beroperasi penuh. Vendor NIISe telah diminta menyiapkan rencana mitigasi menjelang pengoperasian Sistem Transit Cepat atau RTS Johor Bahru-Singapura tahun depan. Langkah ini dinilai penting karena jalur tersebut diperkirakan akan menambah volume pergerakan orang di perbatasan. Tanpa kesiapan teknis yang matang, risiko gangguan bisa kembali muncul.
Zakaria menegaskan pihaknya akan bertahan hingga NIISe siap digunakan sepenuhnya. Pernyataan itu mencerminkan tekanan besar untuk menjaga kelancaran layanan di salah satu jalur perbatasan tersibuk di kawasan. Bagi para pekerja lintas negara, kepastian sistem menjadi kebutuhan utama setiap hari. Karena itu, modernisasi infrastruktur imigrasi akan menjadi kunci agar gangguan serupa tidak terus berulang.
