Kasus dugaan penggelapan yang menimpa selebgram Fujianti Utami Putri atau Fuji memasuki babak baru setelah mantan admin media sosialnya ditetapkan sebagai tersangka. Fuji mengaku mengalami kerugian besar, baik dari sisi keuangan maupun aset kerja, dalam perkara yang kini ditangani Polres Metro Jakarta Selatan. Ia menyebut kerugian itu berasal dari dana kerja sama iklan yang tidak disetorkan serta sejumlah barang elektronik yang ikut hilang. Penetapan tersangka dilakukan pada 26 Mei 2026 setelah penyidik menilai bukti yang ada sudah lengkap.
Di hadapan penyidik dan awak media, Fuji menyebut nilai kerugian yang dialaminya mencapai sekitar Rp 1 miliar. Dana tersebut merupakan akumulasi dari uang kerja sama dengan berbagai merek yang diduga tidak masuk ke rekening manajemen. Selain itu, ia juga menyebut adanya barang miliknya yang turut digelapkan, termasuk laptop yang dipakai untuk bekerja. Kasus ini menambah panjang daftar persoalan yang timbul dari relasi kerja yang semula dibangun atas dasar kepercayaan.
Fuji Bongkar Kerugian Besar
Fuji menegaskan bahwa kerugian yang dialaminya bukan perkara kecil, karena jumlahnya telah berada di kisaran miliaran rupiah. Ia menyampaikan hal itu saat ditemui di Polres Metro Jakarta Selatan pada Selasa, 26 Mei 2026. Menurutnya, dana yang hilang berasal dari hasil kerja sama dengan sejumlah brand yang tidak pernah masuk sebagaimana mestinya. Situasi tersebut membuatnya harus menanggung dampak keuangan yang tidak ringan.
Selain uang, Fuji juga mengaku kehilangan aset kerja yang seharusnya masih berada dalam pengelolaannya. Salah satu barang yang disebut hilang adalah laptop, yang digunakan untuk mendukung aktivitas profesionalnya. Ia menilai kehilangan tersebut memperburuk keadaan karena berkaitan langsung dengan pekerjaan sehari-hari. Karena itu, kasus ini tidak hanya berdampak pada keuangan, tetapi juga pada kelancaran aktivitas bisnisnya.
Fuji menyebut nominal kerugian yang ia alami merupakan akumulasi dari dana yang tidak disetorkan selama masa kerja mantan adminnya. Ia mengungkapkan bahwa jumlah tersebut cukup besar untuk menimbulkan rasa kecewa yang mendalam. Menurut pengakuannya, kepercayaan yang diberikan selama ini justru disalahgunakan. Hal itu membuat kasus ini terasa lebih berat dibanding sekadar kehilangan materi.
Dalam keterangannya, Fuji menolak meremehkan nilai kerugian yang ditimbulkan oleh perbuatan tersangka. Ia menegaskan bahwa jumlah tersebut mencerminkan skala penyimpangan yang terjadi selama hubungan kerja berlangsung. Karena itu, ia berharap proses hukum berjalan secara tegas dan transparan. Baginya, pemulihan bukan hanya soal uang, tetapi juga soal keadilan.
Fuji Kecewa Kepercayaan Disalahgunakan
Fuji mengaku sangat kecewa karena mantan adminnya diduga memanfaatkan kepercayaan yang diberikan selama sekitar satu setengah tahun bekerja. Ia merasa perlakuan tersebut tidak hanya merugikan secara materi, tetapi juga melukai secara emosional. Dalam pandangannya, tindakan itu menunjukkan sikap yang tidak menghargai hubungan kerja. Rasa kesal yang muncul pun disebutnya belum sepenuhnya mereda.
Ia bahkan menegaskan bahwa perasaan sakit hati yang dirasakan lebih besar dibandingkan nilai kerugian yang tercatat. Fuji menilai persoalan ini tidak bisa dipandang semata sebagai kehilangan uang atau barang. Ada unsur pengkhianatan yang membuatnya sulit menerima kejadian tersebut. Karena itu, ia menyebut dirinya belum benar-benar ikhlas.
Fuji juga menyinggung soal tindakan tersangka yang diduga merusak data kerja dengan menghapus ribuan riwayat pesan singkat dengan klien. Menurut dugaan penyidik, langkah itu dilakukan untuk menghilangkan jejak dari perbuatan yang dilakukan. Jika benar, tindakan tersebut memperlihatkan upaya menyamarkan aliran dana dan aktivitas kerja yang terkait dengan kasus. Hal ini turut memperkuat konstruksi perkara yang tengah disidik.
Meski demikian, Fuji memilih tetap menyampaikan pesan agar tersangka berhenti melakukan perbuatan serupa. Ia meminta agar penyimpangan dan tindakan yang merugikan pihak lain tidak diulangi lagi. Menurutnya, sudah cukup banyak kerugian yang dialami akibat perbuatan tersebut. Ia berharap ada efek jera dari proses hukum yang sedang berjalan.
Kasus Fuji Naik Penyidikan
Perseteruan antara Fuji dan mantan admin media sosialnya bermula dari temuan adanya aliran dana kerja sama iklan yang tidak masuk ke rekening manajemen. Temuan itu kemudian ditelusuri lebih jauh oleh pihak terkait hingga muncul dugaan penggelapan. Dari hasil pemeriksaan awal, perkara ini dinilai memiliki unsur pidana yang cukup kuat. Karena itu, penyidik melanjutkannya ke tahap yang lebih serius.
Polres Metro Jakarta Selatan kemudian meningkatkan penanganan kasus ini ke tahap penyidikan. Pada tahap tersebut, penyidik memeriksa bukti dan keterangan yang dianggap relevan dengan dugaan penggelapan. Setelah dinyatakan cukup, terlapor resmi ditetapkan sebagai tersangka pada 26 Mei 2026. Langkah ini menjadi penanda bahwa proses hukum mulai memasuki fase penentuan tanggung jawab pidana.
Tersangka diduga menggelapkan dana sekitar Rp 1 miliar serta mengambil aset berupa laptop dan sejumlah barang bermerek lainnya. Nilai tersebut berasal dari rangkaian transaksi yang tidak pernah disetorkan kepada pihak manajemen. Dugaan ini membuat perkara tidak hanya menyangkut uang, tetapi juga kepemilikan barang yang digunakan dalam aktivitas profesional. Penyidik kini menempatkan seluruh temuan itu sebagai bagian dari materi pemeriksaan.
Selain itu, tindakan penghapusan data percakapan dengan klien juga menjadi sorotan dalam perkara ini. Dugaan tersebut dinilai berkaitan dengan upaya menghilangkan jejak kejahatan agar aliran dana sulit ditelusuri. Jika terbukti, perbuatan itu dapat memperkuat posisi hukum tersangka dalam penyidikan. Kasus ini pun menjadi perhatian karena melibatkan kepercayaan dalam hubungan kerja digital.
Fuji Tunggu Proses Hukum
Fuji menyatakan bahwa dirinya kini memilih menunggu proses hukum berjalan sampai tuntas. Ia menilai status tersangka yang disematkan kepada mantan adminnya memang sudah sepatutnya terjadi. Namun, baginya, penetapan itu belum cukup untuk menghapus rasa kecewa yang terlanjur muncul. Karena itu, ia ingin melihat langkah lanjutan dari aparat penegak hukum.
Dalam pernyataannya, Fuji menyebut bahwa melihat langsung sosok yang diduga merugikannya justru memunculkan amarah yang sulit disembunyikan. Ia mengaku belum sepenuhnya bisa menerima perlakuan yang dialaminya. Rasa tidak terima itu muncul karena perbuatan tersangka dianggap tidak manusiawi. Menurutnya, kepercayaan yang disalahgunakan adalah luka yang paling sulit dipulihkan.
Kasus ini juga menjadi pengingat bahwa relasi kerja berbasis digital tetap memerlukan pengawasan yang ketat. Pengelolaan dana, data, dan aset harus dilakukan dengan mekanisme yang jelas agar tidak membuka celah penyimpangan. Kejadian yang menimpa Fuji menunjukkan bahwa kepercayaan tanpa kontrol bisa berujung pada persoalan serius. Hal itu menjadi pelajaran penting bagi publik figur maupun pelaku usaha lainnya.
Ke depan, publik menantikan kelanjutan penyidikan dan kemungkinan penambahan pasal jika ditemukan bukti baru. Sementara itu, Fuji berharap kejadian serupa tidak lagi menimpa dirinya maupun orang lain. Ia menutup penjelasannya dengan harapan agar pelaku benar-benar berhenti dan mempertanggungjawabkan perbuatannya. Proses hukum kini menjadi tumpuan utama untuk menjawab semua dugaan dalam kasus ini.
