FTSE Russell mengumumkan penghapusan empat saham Indonesia dari FTSE Global Equity Index Series (GEIS) dalam tinjauan kuartalan Juni 2026. Keputusan ini mencakup PT Dian Swastatika Sentosa Tbk, PT Daaz Bara Lestari Tbk, PT Hillcon Tbk, dan PT Mulia Industrindo Tbk. Pengumuman tersebut disampaikan pada Sabtu, 23 Mei 2026, melalui laporan resmi June 2026 Quarterly Review.
Perubahan ini akan berlaku setelah penutupan perdagangan 19 Juni 2026, tetapi masih dapat ditinjau ulang hingga 5 Juni 2026. FTSE Russell menyebut revisi final akan berlaku mulai Senin, 8 Juni 2026, kecuali ada kondisi luar biasa. Keputusan tersebut menjadi perhatian pelaku pasar karena menyangkut arus dana indeks dan sentimen terhadap emiten terkait.
Keputusan FTSE Russell
FTSE Russell menegaskan, pengeluaran saham dilakukan berdasarkan hasil evaluasi rutin atas indeks globalnya. Dalam laporan June 2026 Quarterly Review, lembaga itu menyampaikan perubahan pada komposisi GEIS untuk periode berikutnya.
Empat saham asal Indonesia masuk daftar yang dikeluarkan dari indeks. Langkah ini menunjukkan adanya penyesuaian kriteria yang tidak lagi dipenuhi oleh masing-masing emiten.
Untuk PT Dian Swastatika Sentosa Tbk, keputusan keluar dari kategori large cap berkaitan dengan struktur kepemilikan yang sangat terkonsentrasi. FTSE Russell menyebut DSSA gagal memenuhi ketentuan high shareholding concentration.
Sementara itu, PT Daaz Bara Lestari Tbk masuk kategori micro cap, namun dinilai tidak lolos karena free float berada di bawah ambang minimum. Kondisi tersebut membuat saham DAAZ tidak lagi memenuhi persyaratan indeks.
Alasan Penghapusan Saham
Dalam pengumuman resminya, FTSE Russell menggunakan istilah failed high shareholding concentration untuk menjelaskan kasus DSSA. Artinya, distribusi kepemilikan saham dianggap terlalu terpusat sehingga tidak sesuai dengan kriteria indeks.
Untuk DAAZ, persoalan utama terletak pada jumlah saham beredar di publik. Free float yang rendah membuat saham tersebut tidak cukup memenuhi syarat keterwakilan pasar.
Dua emiten lain, yakni PT Hillcon Tbk dan PT Mulia Industrindo Tbk, juga ikut terdampak dalam evaluasi ini. Keduanya dinyatakan tidak memenuhi kriteria atau failed surveillance stocks screen.
Istilah tersebut menunjukkan adanya temuan dalam proses pemantauan indeks yang membuat keduanya tidak lagi layak dipertahankan. Dengan demikian, keempat saham itu resmi masuk daftar pengeluaran dalam tinjauan terbaru FTSE Russell.
Jadwal Berlaku Revisi
FTSE Russell menetapkan keputusan ini efektif setelah penutupan perdagangan pada 19 Juni 2026. Namun, hasil tinjauan masih bisa berubah sebelum tenggat revisi pada 5 Juni 2026.
Perusahaan menekankan bahwa informasi yang tercantum dalam file lampiran masih dapat direvisi hingga batas waktu tersebut. Setelah melewati tahap itu, hasil tinjauan akan dianggap final mulai 8 Juni 2026.
Apabila ada perubahan setelah tanggal final, FTSE Russell hanya akan mempertimbangkannya dalam kondisi luar biasa. Ketentuan ini mengikuti kebijakan dan pedoman perhitungan ulang indeks yang berlaku.
Bagi investor, jadwal ini penting karena dapat memengaruhi strategi portofolio menjelang penyesuaian indeks. Saham yang keluar dari indeks berpotensi menghadapi tekanan likuiditas, terutama dari investor pasif yang mengikuti pergerakan benchmark.
Dampak Bagi Investor
Penghapusan saham dari indeks global kerap menjadi sinyal penting bagi pasar. Meski tidak selalu mencerminkan kinerja fundamental, keputusan ini dapat memengaruhi persepsi investor terhadap emiten terkait.
Dalam banyak kasus, saham yang keluar dari indeks berisiko mengalami penyesuaian harga menjelang tanggal efektif. Tekanan itu biasanya datang dari aksi jual rebalancing oleh manajer investasi dan reksa dana indeks.
Di sisi lain, emiten masih memiliki ruang untuk memperbaiki sejumlah parameter yang dinilai belum sesuai. Struktur kepemilikan, tingkat free float, dan kepatuhan terhadap pemantauan indeks menjadi aspek yang dapat diperbaiki ke depan.
Karena itu, pelaku pasar kini mencermati respons dari keempat emiten tersebut setelah pengumuman FTSE Russell. Reaksi investor pada perdagangan berikutnya akan menjadi indikator awal terhadap dampak keputusan ini.
