Ferry Maryadi merayakan Idul Adha bersama keluarga dengan suasana yang sederhana dan hangat. Ia menjalani salat Id berjemaah, menyembelih hewan kurban, serta menyebut perayaan tahun ini berlangsung seperti kebanyakan masyarakat pada umumnya. Momen itu ia sampaikan saat ditemui di Studio Arisan Trans 7, Warung Buncit, Jakarta Selatan, pada Jumat, 29 Mei 2026. Bagi Ferry, Idul Adha bukan hanya tradisi, tetapi juga ruang untuk mengajarkan nilai kebersamaan kepada anak-anaknya.
Ferry juga menceritakan pengalaman putra bungsunya, Abay, yang mulai belajar membeli hewan kurban dengan uang sendiri. Anak berusia 11 tahun itu menggunakan tabungan dari hadiah Lebaran hingga uang khitan yang selama ini disimpan. Ferry menilai langkah tersebut penting agar sang anak memahami makna kurban secara bertahap. Tahun ini, keluarga Ferry dan Deswita Maharani turut berkurban sapi sebagai bentuk rasa syukur atas rezeki yang diterima.
Kurban Keluarga Ferry
Ferry Maryadi menyebut perayaan Idul Adha di keluarganya berjalan sederhana. Ia bersama keluarga melaksanakan salat Id pada pagi hari. Setelah itu, mereka melanjutkan dengan penyembelihan hewan kurban. Menurut Ferry, rangkaian tersebut menjadi bagian dari kebiasaan yang dijalani banyak keluarga di Indonesia.
Ia menegaskan bahwa tidak ada yang berlebihan dalam perayaan tahun ini. Semua dilakukan secara wajar, tanpa kemeriahan khusus. Ferry menilai kesederhanaan justru membuat momen Idul Adha terasa lebih bermakna. Kebersamaan keluarga menjadi hal utama yang ingin dijaga dalam perayaan tersebut.
Ferry juga menceritakan suasana di lokasi ketika dirinya berbicara kepada awak media. Ia tampak rileks dan menjawab pertanyaan dengan santai. Momen tersebut menunjukkan bahwa perayaan Idul Adha tetap bisa dijalani secara hangat meski tanpa persiapan yang rumit. Bagi dirinya, yang terpenting adalah rasa syukur dan kebersamaan.
Ia mengatakan bahwa keluarga kecilnya selalu berusaha menjaga tradisi keagamaan dengan baik. Salat Id dan kurban menjadi bagian dari pendidikan spiritual di rumah. Ferry berharap anak-anaknya dapat tumbuh dengan pemahaman yang benar tentang nilai berbagi. Karena itu, Idul Adha selalu menjadi waktu yang istimewa bagi keluarganya.
Abay Belajar Berkurban
Ferry mengungkapkan bahwa putra bungsunya, Abay, mulai belajar berkurban pada tahun ini. Menurutnya, sang anak ingin membeli hewan kurban dengan uang sendiri. Keinginan itu muncul dari rasa ingin tahu dan dorongan untuk ikut merasakan proses berkurban. Ferry menyebut hal tersebut sebagai langkah awal yang baik bagi anak seusia Abay.
Uang yang digunakan Abay berasal dari tabungan pribadinya. Sebagian besar dana itu dikumpulkan dari hadiah saat Lebaran Idul Fitri dan uang khitan. Ferry mengatakan bahwa anaknya memang terbiasa menyimpan uang jajannya sendiri. Kebiasaan itu kemudian dimanfaatkan untuk membeli hewan kurban.
Ferry mengaku sengaja membiarkan Abay belajar dari proses paling sederhana terlebih dahulu. Ia menilai kambing adalah pilihan yang tepat untuk tahap awal. Dengan cara itu, Abay bisa memahami bahwa kurban bukan sekadar membeli hewan. Ada nilai tanggung jawab dan niat ibadah yang harus dikenali sejak dini.
Menurut Ferry, pengalaman tersebut menjadi pelajaran penting bagi sang anak. Abay belajar bahwa berkurban membutuhkan persiapan dan pengorbanan pribadi. Ferry berharap pengalaman ini bisa membentuk karakter anaknya menjadi lebih peka. Ia juga ingin Abay memahami bahwa ibadah tidak selalu harus menunggu dewasa untuk dimaknai.
Pertanyaan Abay Soal Kurban
Meski sudah mulai belajar, Abay disebut masih banyak bertanya soal konsep kurban. Ferry mengatakan hal itu wajar karena anaknya baru berusia 11 tahun. Pada usia tersebut, pemahaman tentang ibadah memang belum sepenuhnya terbentuk. Karena itu, Ferry mencoba menjelaskan semuanya dengan bahasa yang sederhana.
Abay disebut penasaran dengan pembagian daging kurban. Ia juga bertanya mengapa hewan kurban tidak bisa dipotong sendiri. Ferry menilai pertanyaan seperti itu muncul karena rasa ingin tahu yang besar. Baginya, hal tersebut justru menunjukkan bahwa Abay sedang belajar memahami nilai ibadah.
Ferry tidak keberatan menjawab pertanyaan putranya satu per satu. Ia menganggap proses tanya jawab sebagai bagian dari pendidikan di rumah. Lewat cara itu, Abay perlahan mengenal bahwa kurban memiliki aturan dan tata cara tersendiri. Ferry ingin anaknya memahami makna ibadah, bukan hanya melihat hasil akhirnya.
Ia juga menegaskan bahwa setiap anak memiliki tahap belajar yang berbeda. Tidak semua nilai keagamaan langsung bisa dipahami dalam satu waktu. Karena itu, Ferry memilih untuk sabar menjelaskan dan mendampingi. Ia percaya pendekatan seperti ini akan lebih mudah diterima oleh anak seusia Abay.
Syukur dan Rezeki Sapi
Selain Abay, Ferry dan Deswita Maharani juga ikut berkurban pada tahun ini. Keluarga mereka kembali mendapat rezeki untuk menyembelih sapi. Ferry menyampaikan rasa syukur atas kesempatan tersebut. Ia menilai rezeki yang diterima harus dimanfaatkan untuk berbagi kepada sesama.
Menurut Ferry, kurban sapi menjadi bentuk kebahagiaan tersendiri bagi keluarganya. Hewan tersebut disiapkan sebagai bagian dari ibadah Idul Adha. Ia merasa bersyukur karena keluarga masih diberi kemampuan untuk berkurban. Hal itu, kata dia, bukan semata soal kemampuan materi, tetapi juga keberkahan.
Ferry mengaitkan kurban dengan rasa cukup dalam hidup. Ia menilai momen Idul Adha mengingatkan keluarga untuk lebih banyak berbagi. Dengan berkurban, seseorang tidak hanya menjalankan ibadah, tetapi juga membantu orang lain. Nilai itu ingin terus ia tanamkan di lingkungan keluarganya.
Di akhir keterangannya, Ferry menutup dengan rasa syukur sederhana. Ia mengatakan bahwa keberadaan rezeki untuk sapi patut disambut dengan baik. Bagi dirinya, Idul Adha tahun ini menjadi pengingat bahwa kebersamaan keluarga dan kepedulian sosial selalu berjalan beriringan. Momen tersebut pun menjadi pengalaman penting bagi Ferry, Deswita, dan anak-anak mereka.
