Suplemen kolagen kembali ramai dibicarakan di industri kecantikan karena diklaim mampu membuat kulit tampak lebih muda, segar, halus, dan glowing. Di tengah popularitas itu, banyak orang bertanya apakah manfaat tersebut benar didukung bukti ilmiah.
Secara global, sekitar 60 juta orang disebut mengonsumsi suplemen kolagen setiap hari, menurut kutipan Allure. Kondisi itu mendorong pasar suplemen kolagen diperkirakan mencapai 2,6 miliar dolar AS atau sekitar Rp 43,57 triliun pada 2025.
Manfaat Kolagen untuk Kulit
Kolagen tersedia dalam berbagai bentuk di pasaran, mulai dari pil, bubuk seduh, hingga permen jeli. Produk ini dipasarkan dengan janji dapat mendukung kulit yang lebih kenyal dan tampak sehat.
Namun, sejumlah studi sebelumnya menunjukkan bahwa suplemen, termasuk kolagen, tidak selalu memberikan hasil yang konsisten. Karena harganya relatif mahal, sebagian kalangan menilai produk ini berpotensi menjadi pengeluaran yang kurang efisien.
Salah satu kajian yang kerap dijadikan rujukan adalah penelitian Johns Hopkins University pada 2013 berjudul Enough is Enough: Stop Wasting Money on Vitamin and Mineral Supplements. Meski begitu, temuan terbaru memberi gambaran yang lebih nuansa terkait efektivitas kolagen.
Bukti Ilmiah Kolagen
Sebuah tinjauan terhadap 113 uji klinis menunjukkan bahwa kolagen yang dikonsumsi secara rutin dan konsisten dapat memberi efek positif bagi kesehatan kulit, sistem muskuloskeletal, dan mulut. Hasil ini membuat diskusi soal suplemen kolagen kembali menguat di kalangan medis.
Mona Gohara, dokter kulit sekaligus profesor klinis dermatologi di Yale School of Medicine, menyebut tinjauan itu sebagai salah satu studi paling komprehensif. Ia menilai kolagen menunjukkan peningkatan kecil namun konsisten pada hidrasi dan elastisitas kulit.
Hadley King, dokter kulit bersertifikasi asal New York City, juga melihat adanya potensi manfaat dari suplemen kolagen. Menurut dia, meski bukan obat, bukti yang tersedia menunjukkan peluang manfaat yang cukup beragam.
Pandangan Dokter Tentang Kolagen
Daniel Belkin, dokter kulit lainnya dari New York City, mengaku menjadi lebih percaya diri merekomendasikan kolagen setelah membaca tinjauan tersebut. Ia menilai data terbaru memberi dasar yang lebih kuat dibandingkan persepsi sebelumnya.
Meski demikian, para dokter tetap menekankan bahwa hasil penelitian belum sepenuhnya seragam. Kualitas analisis juga belum merata, sehingga kemungkinan bias masih perlu diperhitungkan.
Dr Gohara menegaskan bahwa tinjauan terbaru belum membuktikan kolagen mampu secara signifikan mengurangi kerutan halus. Menurut dia, hasil yang paling menonjol justru ada pada perbaikan skin barrier dan peningkatan hidrasi kulit.
Cara Aman Konsumsi Kolagen
Di sisi lain, Dr King mengaku mengonsumsi Biosil Collagen Generator dan Body Health Perfect Amino. Namun, ia tetap menekankan perlunya lebih banyak data sebelum kolagen direkomendasikan secara luas kepada pasien.
Dr King menyarankan masyarakat berkonsultasi dengan dokter kulit tepercaya sebelum memilih suplemen kolagen. Jika ingin mengonsumsinya, produk yang memiliki bukti ilmiah memadai lebih layak diprioritaskan.
Konsumsi secara teratur dan sesuai anjuran juga menjadi faktor penting agar hasilnya lebih terukur. Di saat yang sama, penggunaan sunscreen dan retinoid tetap dibutuhkan untuk mengatasi penuaan dini dari luar.
Suplemen kolagen sebaiknya dipahami sebagai pendukung, bukan solusi tunggal untuk kesehatan kulit. Rutinitas perawatan yang konsisten, gaya hidup sehat, serta perlindungan dari paparan sinar UV tetap menjadi fondasi utama.
