Faisal Ajak Gala Sky Belajar Berkurban di Idul Adha

Lifestyle Anindya Kirana Putri 01 Juni 2026 22:12 WIB 5
Faisal Ajak Gala Sky Belajar Berkurban di Idul Adha

Faisal memanfaatkan momen Hari Raya Idul Adha untuk mengenalkan nilai berbagi kepada cucunya, Gala Sky Andriansyah. Bersama keluarga besar, ia mengajak Gala menyaksikan langsung proses kurban setelah salat Idul Adha berjamaah dan ziarah ke makam Vanessa Angel serta Bibi Ardiansyah. Kegiatan itu dilakukan di kawasan Jakarta Barat pada Rabu, 27 Mei 2026, sebagai bagian dari pendidikan karakter sejak dini. Faisal menilai pengalaman tersebut penting agar Gala memahami makna kepedulian sosial, bukan sekadar merayakan hari besar keagamaan.

Dalam kesempatan itu, Faisal menegaskan bahwa Idul Adha menjadi momen tepat untuk menanamkan kebiasaan berbagi kepada anak dan cucu. Ia juga menyambut baik inisiatif anak-anaknya yang kini berkurban tanpa harus diminta terlebih dahulu. Tahun ini, Fujianti Utami diketahui berkurban seekor sapi berbobot sekitar 700 kilogram, sementara Fadly Faisal juga menyiapkan kurban serupa serta beberapa kambing. Bagi keluarga Faisal, kurban dan ziarah menjadi satu rangkaian nilai yang saling menguatkan.

Idul Adha sebagai sarana edukasi

Faisal menempatkan Idul Adha bukan hanya sebagai perayaan keagamaan, tetapi juga sebagai sarana pendidikan untuk keluarga. Ia ingin Gala tumbuh dengan pemahaman bahwa berbagi adalah bagian dari kehidupan sosial yang harus dilatih sejak kecil. Menurutnya, anak perlu melihat contoh langsung agar lebih mudah memahami nilai empati. Karena itu, ia sengaja mengajak Gala mengikuti seluruh rangkaian kegiatan keluarga pada hari raya tersebut.

Ia menjelaskan bahwa kebiasaan itu penting agar anak terbiasa melihat kebahagiaan bukan hanya dari menerima, tetapi juga memberi. Dalam pandangannya, momen kurban dapat menjadi pengingat bahwa masih banyak orang yang membutuhkan uluran tangan. Selain itu, keterlibatan anak dalam kegiatan keagamaan juga membantu membentuk kedekatan emosional dengan keluarga. Dari pengalaman itu, Gala diharapkan memahami bahwa ibadah memiliki dampak sosial yang luas.

Faisal menyebut pendekatan semacam ini sudah menjadi pola yang diterapkan dalam keluarga besarnya. Ia tidak ingin anak dan cucu hanya mengenal kurban sebagai ritual tahunan, tetapi juga sebagai wujud kepedulian terhadap sesama. Karena itu, setiap momen Idul Adha selalu dimanfaatkan untuk mengajarkan makna berbagi dengan cara yang sederhana. Menurut dia, pendidikan seperti ini akan lebih melekat jika diberikan melalui pengalaman langsung.

Dalam kesempatan yang sama, Faisal menegaskan bahwa nilai sosial dan nilai agama tidak dapat dipisahkan. Ia percaya anak akan lebih mudah menangkap pesan moral ketika melihat orang tua dan keluarga memberi contoh nyata. Kebiasaan itu, kata dia, akan menjadi bekal penting bagi Gala saat tumbuh dewasa. Dengan begitu, perayaan Idul Adha tidak berhenti pada seremoni, melainkan menjadi proses pembelajaran yang berkesinambungan.

Reaksi Gala saat melihat kurban

Saat diajak melihat hewan kurban, Gala sempat menunjukkan sikap malu-malu dan sedikit takut. Faisal menyebut reaksi itu sebagai hal yang wajar bagi anak seusianya yang belum terbiasa berdekatan dengan hewan besar. Meski demikian, ia menilai pengalaman tersebut tetap penting untuk mengenalkan lingkungan secara bertahap. Dari situ, anak belajar menghadapi rasa takut dengan pendampingan orang terdekat.

Faisal mengatakan kehadiran dirinya membuat Gala lebih tenang saat mendekati area kurban. Ia tidak memaksakan cucunya untuk langsung berani, karena proses pembelajaran harus dilakukan dengan sabar. Menurutnya, rasa malu yang muncul justru menunjukkan bahwa Gala sedang melalui tahap pengenalan yang sehat. Dalam jangka panjang, pengalaman seperti ini diyakini dapat membangun kepekaan dan keberanian anak.

Ia juga menekankan bahwa rasa empati perlu dibentuk melalui interaksi langsung, bukan hanya lewat penjelasan lisan. Ketika anak melihat hewan kurban dan menyadari proses berbagi, ia akan memahami bahwa ada makna lebih besar di balik perayaan. Karena itu, Faisal memilih mendampingi Gala secara perlahan agar cucunya merasa aman. Pendekatan tersebut dianggap lebih efektif dalam menanamkan nilai kemanusiaan.

Bagi Faisal, momen kecil seperti ini menyimpan arti besar bagi tumbuh kembang anak. Ia meyakini kebiasaan mengenalkan ibadah dan kegiatan sosial sejak dini akan membentuk karakter yang lebih peka. Selain itu, anak juga dapat belajar menghormati tradisi keluarga dan memahami peran masyarakat di sekitarnya. Dengan cara itu, Gala tidak hanya melihat kurban sebagai kegiatan seremonial, tetapi sebagai pelajaran hidup.

Anak-anak berkurban tanpa diminta

Faisal mengaku bangga karena anak-anaknya kini memiliki kesadaran sendiri untuk berkurban. Ia menyebut Fuji dan Fadly tidak lagi menunggu ajakan, melainkan sudah menyiapkan hewan kurban jauh-jauh hari. Bagi Faisal, sikap itu menunjukkan bahwa nilai berbagi yang ditanamkan dalam keluarga mulai tumbuh dengan baik. Ia menilai inisiatif tersebut sebagai perkembangan yang membahagiakan.

Tahun ini, Fuji berkurban seekor sapi dengan bobot sekitar 700 kilogram. Sementara itu, Fadly juga menyiapkan kurban dengan ukuran yang hampir serupa, ditambah beberapa ekor kambing. Persiapan itu dilakukan secara mandiri dan telah dibicarakan sejak jauh hari. Faisal menyebut anaknya bahkan memberi kabar soal lokasi pemotongan hewan kurban.

Menurut Faisal, inisiatif seperti itu tidak lahir secara tiba-tiba, melainkan hasil dari kebiasaan keluarga yang konsisten. Ia menilai anak-anaknya sudah memahami bahwa rezeki yang dimiliki perlu dibagikan kepada orang lain. Karena itu, kurban menjadi bentuk syukur yang diwujudkan dalam tindakan nyata. Hal tersebut, kata dia, lebih bernilai dibanding sekadar ucapan pada hari raya.

Ia juga melihat kebiasaan itu sebagai bukti bahwa pendidikan keluarga berjalan dengan baik. Anak-anaknya kini mampu mengambil peran tanpa harus diingatkan berulang kali. Dalam pandangannya, kemandirian itu penting agar nilai kebaikan terus berlanjut di generasi berikutnya. Faisal berharap sikap tersebut dapat menjadi teladan bagi Gala dan anggota keluarga lainnya.

Pesan sosial dalam keluarga

Faisal menegaskan bahwa keluarga memiliki peran utama dalam membentuk kepedulian sosial anak. Ia percaya lingkungan rumah adalah tempat pertama anak belajar tentang menghormati orang tua, saudara, dan sesama. Karena itu, kebiasaan ziarah, ibadah, dan berbagi selalu dihadirkan dalam kegiatan keluarga besar. Semua itu dilakukan agar nilai moral tidak hanya diketahui, tetapi juga dipraktikkan.

Ia menyebut ziarah ke makam mendiang Vanessa Angel dan Bibi Ardiansyah juga menjadi bagian penting dari pendidikan keluarga. Menurut dia, mengenang orang yang telah tiada merupakan bentuk hormat dan doa yang baik untuk ditanamkan sejak dini. Anak-anak pun diharapkan memahami bahwa keluarga tetap memiliki ikatan meski seseorang telah berpulang. Dari situ, muncul rasa tanggung jawab untuk menjaga hubungan antarsesama.

Faisal menambahkan bahwa kepedulian terhadap lingkungan juga harus dibangun bersamaan dengan rasa hormat kepada keluarga. Ia menilai anak yang terbiasa diajak berbagi akan lebih mudah memahami kebutuhan orang lain. Karena itu, momen keagamaan seperti Idul Adha menjadi ruang yang tepat untuk memperkuat nilai solidaritas. Dalam praktiknya, ajaran itu disampaikan melalui contoh yang sederhana dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Baginya, jika keluarga memiliki rezeki, maka berbagi adalah kewajiban moral yang seharusnya dilakukan dengan ikhlas. Ia berharap pola asuh tersebut dapat membentuk generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga peduli dan berempati. Dengan pendekatan itu, perayaan Idul Adha menjadi lebih bermakna bagi anak, cucu, dan seluruh keluarga. Faisal pun menegaskan bahwa kepedulian sosial harus diwariskan sejak usia dini agar terus hidup di generasi berikutnya.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!