Ericsson: 5G Jadi Kunci Transformasi Digital Indonesia

Teknologi BRH 23 Mei 2026 05:33 WIB 8
Ericsson: 5G Jadi Kunci Transformasi Digital Indonesia

Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk mempercepat transformasi digital melalui pemanfaatan teknologi 5G. Presiden Direktur Ericsson Indonesia, Nora Wahby, menyebut jaringan generasi kelima itu bukan lagi sekadar peningkatan konektivitas, melainkan fondasi bagi kecerdasan buatan, cloud, dan otomatisasi industri.

Meski telah diperkenalkan selama lima tahun, adopsi 5G di Indonesia masih tergolong rendah. Di sisi lain, teknologi ini disebut bisa menjadi pengungkit penting untuk mencapai visi Indonesia Emas 2045 dan memperkuat posisi ekonomi nasional.

5G Dorong Ekonomi Digital

Nora Wahby menegaskan bahwa 5G memiliki peran sentral dalam agenda digitalisasi Indonesia. Menurut dia, jika Indonesia ingin menjadi ekonomi digital yang kompetitif, maka 5G harus diprioritaskan.

Ia menyampaikan pandangan itu dalam IndoTelko Forum di Jakarta, Rabu, 29 April 2026. Dalam forum tersebut, ia menyoroti pentingnya infrastruktur digital sebagai penopang pertumbuhan ekonomi jangka panjang.

Menurut Nora, target Indonesia untuk menjadi salah satu dari lima ekonomi terbesar dunia pada 2045 membutuhkan fondasi teknologi yang kuat. 5G dinilai berada di pusat transformasi itu karena mendukung konektivitas yang lebih cepat dan andal.

Ia juga menjelaskan bahwa 5G sudah menjadi teknologi seluler dengan adopsi tercepat sejak era 2G. Perkembangan ini didorong oleh efisiensi energi yang lebih baik, kecepatan tinggi, dan latensi yang lebih rendah.

Adopsi Masih Di Bawah

Ericsson mencatat penetrasi 5G di Indonesia saat ini masih berada di bawah 10 persen. Namun, seluruh pelaku industri dinilai sedang bergerak untuk mempercepat pemanfaatannya.

Berdasarkan laporan Ericsson Mobility, jumlah pelanggan 5G global telah mencapai sekitar 2,9 miliar pada akhir tahun lalu. Angka itu diproyeksikan meningkat menjadi 6,4 miliar pada 2031.

Di Indonesia, kontribusi 5G diperkirakan akan melampaui 30 persen dari total langganan seluler pada 2030. Proyeksi tersebut menunjukkan ruang pertumbuhan yang masih sangat besar.

Nora menilai adopsi yang lebih luas akan mempercepat pemanfaatan teknologi di sektor bisnis dan layanan publik. Dengan begitu, manfaat 5G tidak hanya terasa pada konektivitas, tetapi juga pada produktivitas ekonomi.

Potensi Tambahan PDB

Menurut data GSMA yang dikutip Nora, implementasi 5G berpotensi menambah sekitar USD 41 miliar terhadap produk domestik bruto Indonesia hingga 2030. Nilai tersebut dianggap signifikan bagi perekonomian nasional.

Kontribusi itu berasal dari terbukanya ruang inovasi di berbagai sektor, mulai dari manufaktur pintar, smart city, hingga layanan kesehatan digital. Pendidikan, logistik, dan energi juga disebut akan ikut terdorong.

Nora menekankan bahwa angka tersebut memperlihatkan 5G sebagai lebih dari sekadar layanan telekomunikasi. Teknologi itu dinilai menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi baru.

Ia mengatakan bahwa investasi pada 5G akan memberi dampak berlapis bagi ekonomi digital. Dampak tersebut mencakup efisiensi operasional, peningkatan layanan, dan lahirnya model bisnis baru.

AI dan Cloud Penopang

Ericsson melihat masa depan transformasi digital Indonesia akan ditentukan oleh tiga pilar utama, yakni kecerdasan buatan, cloud, dan konektivitas mobile berbasis 5G. Ketiganya saling melengkapi dalam membangun ekosistem digital yang lebih maju.

Nora menjelaskan bahwa AI membutuhkan jaringan yang stabil, cepat, dan responsif. Karakteristik itu hanya dapat didukung secara optimal oleh infrastruktur 5G.

Ia juga menilai penggunaan AI yang semakin masif akan mendorong kebutuhan jaringan berkecepatan tinggi. Kondisi tersebut pada akhirnya dapat meningkatkan adopsi 5G di Indonesia.

Dalam pandangan Ericsson, transformasi digital tidak bisa hanya bertumpu pada satu teknologi. Kombinasi AI, cloud, dan 5G diperlukan agar Indonesia mampu bersaing di tengah percepatan ekonomi digital global.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!