Elyse Myers Ungkap Pengalaman Histerektomi dan Pemulihan

Lifestyle Anindya Kirana Putri 25 Mei 2026 15:28 WIB 2
Elyse Myers Ungkap Pengalaman Histerektomi dan Pemulihan

Elyse Myers kembali menjadi sorotan setelah potongan video podcast yang menampilkan curhatnya soal nyeri kronis dan pendarahan berkepanjangan ramai dibahas di media sosial. Dalam percakapan itu, ibu dua anak tersebut menceritakan bagaimana kondisi tubuhnya sangat mengganggu aktivitas sehari-hari sebelum akhirnya menjalani histerektomi. Pernyataannya memantik perhatian luas karena banyak perempuan merasa memiliki pengalaman serupa terkait kesehatan reproduksi. Kisah ini juga menyoroti pentingnya akses terhadap penanganan medis yang tepat, terutama bagi pasien yang kerap tidak didengar keluhannya.

Cuplikan podcast yang diunggah ulang pada 3 Mei itu memperlihatkan Myers berbicara terbuka tentang rasa sakit yang dialaminya selama bertahun-tahun. Respons simpati dari pembawa acara, atlet rugby Olimpiade Ilona Maher, ikut membuat potongan video tersebut cepat menyebar. Banyak perempuan kemudian membanjiri kolom komentar dengan cerita serupa, mulai dari pendarahan tak kunjung berhenti hingga kesulitan memperoleh diagnosis yang sesuai. Fenomena itu memperlihatkan bahwa isu kesehatan reproduksi masih menyentuh banyak orang, terutama ketika berkaitan dengan validasi keluhan pasien.

Kesehatan reproduksi Myers

Dalam podcast tersebut, Myers menceritakan bahwa sebelum menjalani operasi, ia mengalami pendarahan hampir sepanjang tahun. Kondisi itu membuat tubuhnya sangat lemah dan memengaruhi kualitas hidupnya secara menyeluruh. Ia bahkan menyebut pernah pingsan saat mengantre pemeriksaan TSA di bandara. Menurut pengakuannya, keluhan tersebut berlangsung lama tanpa penanganan yang benar-benar memberi solusi.

Myers juga menjelaskan bahwa rasa mual yang terus-menerus membuatnya sulit makan. Akibatnya, berat badannya turun drastis dalam waktu singkat. Ia mengaku kondisi fisiknya semakin memburuk karena rasa sakit datang hampir tanpa jeda. Situasi itu membuat aktivitas rutin terasa berat dan menguras tenaga.

Ibu dua anak itu sempat bergurau bahwa rahimnya seperti berusaha membunuhnya. Candaan tersebut disambut empati oleh Ilona Maher, yang menanggapi bahwa rahim memang kadang melakukan hal itu pada perempuan. Momen itu kemudian menjadi salah satu bagian paling banyak dibicarakan dari video tersebut. Banyak warganet menilai komentar itu mewakili pengalaman nyata sebagian perempuan yang kerap dianggap berlebihan saat mengeluh sakit.

Dokter dan validasi pasien

Myers mengaku tidak menyangka akan mendapat saran menjalani histerektomi di usia yang masih tergolong muda. Namun, keputusan itu terasa melegakan karena akhirnya ia bertemu dokter yang mendengarkan keluhannya dengan serius. Ia mengatakan pengalaman tersebut berbeda jauh dari kunjungan medis sebelumnya. Baginya, didengarkan adalah langkah awal yang sangat penting dalam proses penyembuhan.

Ia menuturkan bahwa selama ini dirinya sering datang ke dokter, tetapi tidak selalu dipercaya. Pengalaman itu membuatnya merasa seolah gejala yang dialami tidak dianggap serius. Setelah bertemu tenaga medis yang lebih responsif, ia merasa seluruh penderitaannya akhirnya divalidasi. Menurut Myers, pengakuan atas rasa sakit pasien dapat memengaruhi kualitas penanganan secara signifikan.

Myers menilai masih banyak perempuan muda yang menghadapi hambatan serupa saat mencari pertolongan medis. Salah satu kendalanya adalah pandangan bahwa usia mereka terlalu muda untuk menjalani prosedur tertentu. Ia menyebut ada pasien yang sudah yakin dengan pilihannya, tetapi tetap ditolak karena pertimbangan usia. Dalam pandangannya, keputusan mengenai tubuh semestinya tetap berada di tangan pasien, selama telah melalui konsultasi medis yang memadai.

Hambatan prosedur medis

Myers menyoroti bahwa prosedur terkait reproduksi sering kali tidak mudah diakses oleh perempuan muda. Ia mengatakan banyak dokter enggan melakukan tindakan tertentu jika pasien dinilai belum cukup umur. Situasi ini membuat sebagian perempuan harus menunggu lebih lama meski sudah mengalami keluhan berat. Dalam kasus seperti ini, penundaan justru dapat memperburuk kondisi kesehatan pasien.

Ia menegaskan bahwa keputusan medis tidak boleh semata-mata didasarkan pada asumsi soal usia. Menurutnya, ada perempuan yang sudah mantap tidak ingin memiliki anak lagi dan memerlukan opsi medis yang jelas. Namun, keputusan tersebut kerap dibatasi oleh pandangan orang lain terhadap pilihan reproduksi mereka. Hal itu, kata Myers, menunjukkan masih adanya jarak antara kebutuhan pasien dan kebijakan yang diterapkan di lapangan.

Sebelum operasi dilakukan, Myers dan suaminya memang telah sepakat tidak ingin menambah anak lagi. Pasangan itu sudah memiliki dua putra yang masih kecil. Kesepakatan tersebut membuat keputusan menjalani histerektomi menjadi lebih terarah. Bagi Myers, langkah itu bukan sekadar prosedur medis, melainkan bagian dari upaya mendapatkan kembali kualitas hidupnya.

Pemulihan setelah histerektomi

Beberapa minggu setelah operasi, Myers mengaku merasakan perubahan besar pada tubuhnya. Ia mengatakan jerawat yang sebelumnya mengganggu mulai hilang. Kualitas tidurnya juga membaik dibandingkan sebelum tindakan dilakukan. Perubahan ini membuatnya merasa tubuhnya mulai pulih secara perlahan.

Selain itu, rambutnya disebut tidak lagi mengalami kerontokan seperti sebelumnya. Perbaikan ini menjadi tanda bahwa kondisi fisiknya bergerak ke arah yang lebih baik. Meski pemulihan setiap pasien bisa berbeda, pengalaman Myers menunjukkan dampak positif dari penanganan yang tepat. Ia merasa lebih lega karena gejala yang selama ini membebaninya mulai berkurang.

Kisah Myers kembali menegaskan pentingnya perhatian terhadap kesehatan reproduksi perempuan. Keluhan yang dianggap kecil dapat berkembang menjadi masalah besar bila tidak ditangani sejak awal. Dalam banyak kasus, pasien membutuhkan dokter yang mau mendengar, memeriksa, dan memberi opsi terapi yang relevan. Dari pengalaman ini, publik diingatkan bahwa validasi terhadap rasa sakit pasien adalah bagian penting dari pelayanan kesehatan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!