Eks PMI di Trenggalek Sukses Bangun Bisnis Jajanan Singkong

Lifestyle Anindya Kirana Putri 28 Mei 2026 02:54 WIB 2
Eks PMI di Trenggalek Sukses Bangun Bisnis Jajanan Singkong

Mantan pekerja migran Indonesia asal Trenggalek, Siti Fatimah, membuktikan bahwa pulang kampung dapat menjadi awal baru yang menjanjikan. Setelah lima tahun bekerja di Hong Kong, ia memilih kembali ke Indonesia pada Mei 2017 dan merintis usaha jajanan tradisional dari rumah. Dengan modal awal Rp700 ribu, bisnis bernama Qtello Ayu itu tumbuh menjadi sumber penghasilan utama keluarga.

Fatimah mengaku keputusannya pulang didorong oleh kebutuhan hidup yang terus meningkat, sementara pekerjaan sebelumnya tidak lagi memberinya ruang berkembang. Sebagai orang tua tunggal, ia merasa harus mencari cara agar dapat tetap bertahan dan mandiri secara ekonomi. Dari tekad itulah, ia mulai membuat aneka kudapan berbahan dasar singkong untuk dijual.

Bisnis Kuliner Dari Rumah

Fatimah memulai usaha pada akhir 2017 dengan memproduksi jajanan tradisional seperti ongol-ongol, getuk, dan klepon. Nama Qtello Ayu dipilih sebagai perpaduan kata ketela dan ayu, yang mencerminkan identitas produk berbahan singkong dengan tampilan menarik. Langkah sederhana itu menjadi pondasi usaha yang kini terus berkembang.

Modal yang digunakan berasal dari sisa tabungan saat ia pulang dari Hong Kong. Fatimah menyebut, dirinya bertekad agar uang Rp700 ribu itu benar-benar bisa dipakai untuk membuka usaha apa pun. Sikap nekat yang disertai perhitungan itu membuatnya berani memulai dari skala kecil.

Pada tahap awal, produksinya hanya mengandalkan bahan yang mudah didapat di sekitar rumah. Meski sederhana, produk itu diracik agar memiliki cita rasa yang konsisten dan mudah diterima pasar. Pendekatan tersebut membuat jajanan buatannya perlahan dikenal warga sekitar.

Usaha yang dirintis dari rumah itu juga menjadi bukti bahwa bisnis kuliner rumahan bisa tumbuh secara bertahap. Fatimah menjaga ritme produksi sambil memastikan kualitas setiap pesanan tetap terjaga. Dari sana, reputasi Qtello Ayu mulai terbentuk sebagai jajanan tradisional yang layak dibeli kembali.

Inovasi Produk Jadi Daya Tarik

Seiring waktu, varian produk Qtello Ayu berkembang dari tiga menjadi sembilan jenis jajanan. Pilihannya kini mencakup sarang burung, getuk bakar, talam lapis, talam pisang, hingga singkong goreng modern seperti Singju Krispi dan Cendol Ayu. Variasi itu membuat produknya lebih relevan dengan selera pasar yang terus berubah.

Fatimah tidak sekadar mengolah singkong menjadi makanan, tetapi juga memberi sentuhan visual yang menarik. Warna-warni pada produk menjadi nilai tambah yang membuat jajanan tradisional terlihat lebih modern. Inovasi tersebut membantu usaha kecilnya bersaing di tengah banyaknya pilihan camilan serupa.

Bahan baku yang sederhana menjadi lebih bernilai karena dikemas dengan kreatif. Ia memadukan rasa nostalgia dari jajanan tradisional dengan tampilan yang lebih segar. Strategi itu membuat produknya tidak hanya dibeli untuk dikonsumsi, tetapi juga cocok sebagai oleh-oleh.

Konsistensi dalam berinovasi menjadi salah satu kunci bertahannya usaha ini. Fatimah memahami bahwa pasar membutuhkan pembaruan agar tidak cepat jenuh. Karena itu, pengembangan produk terus dilakukan sesuai kebutuhan pembeli.

Pemasaran Digital Dan Gotong Royong

Untuk menjangkau pelanggan, Fatimah memanfaatkan WhatsApp, grup alumni, dan media sosial. Ia juga mengandalkan promosi dari mulut ke mulut yang masih efektif di daerahnya. Kombinasi cara lama dan baru ini membuat produknya dikenal lebih luas.

Promosi lewat jejaring pribadi terbukti mampu mendatangkan pembeli dari berbagai kalangan. Fatimah menilai, kepercayaan pelanggan tumbuh karena produk dibuat langsung dari rumah dan dijaga kesegarannya. Hal itu memperkuat posisi Qtello Ayu di pasar lokal maupun luar daerah.

Produksi yang terus meningkat membuatnya tidak bekerja sendirian. Ia dibantu oleh keluarga dan dua karyawan harian untuk memenuhi pesanan yang masuk. Pola kerja gotong royong itu membuat proses produksi lebih tertata tanpa mengurangi kualitas.

Seluruh kegiatan usaha tetap dijalankan dari rumah agar lebih efisien. Dengan sistem tersebut, Fatimah dapat mengatur waktu, menjaga stok, dan memastikan pesanan keluar tepat waktu. Model bisnis rumahan itu menjadi contoh bahwa skala kecil tetap bisa dikelola secara profesional.

Pendapatan Naik Dan Rencana Ekspansi

Berkat kerja kerasnya, usaha Qtello Ayu kini mampu memproduksi hingga 400 kotak per hari. Omzet hariannya rata-rata mencapai Rp1 juta, meski pada hari tertentu bisa naik hingga Rp2 juta sampai Rp3 juta. Pencapaian itu menunjukkan perkembangan yang signifikan dari modal awal yang sangat terbatas.

Pasar produk Fatimah tidak hanya berasal dari Tulungagung dan Trenggalek. Produknya juga dibawa sebagai oleh-oleh ke Surabaya, Probolinggo, hingga Jakarta. Jangkauan itu menandakan permintaan terhadap jajanan singkong buatannya semakin meluas.

Hasil usaha tersebut dimanfaatkan untuk memperbaiki kondisi ekonomi keluarga. Fatimah juga berhasil melunasi utang dan membeli mobil untuk operasional bisnis. Dari usaha rumahan, ia membangun aset yang menunjang kelancaran distribusi produk.

Salah satu anaknya yang sudah berkeluarga bahkan telah membuka cabang Qtello Ayu di Bandung. Fatimah berharap usaha itu dapat hadir di lebih banyak kota karena permintaan terus bertambah. Ia juga berpesan agar siapa pun yang ingin berbisnis tetap sabar, tekun, dan tidak mudah menyerah.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!