Serat Daun Nanas Jadi Cuan, Tembus Ekspor ke Jepang

Ekonomi Bisnis Dimas Rayyanza 28 Mei 2026 04:07 WIB 2
Serat Daun Nanas Jadi Cuan, Tembus Ekspor ke Jepang

Bagi sebagian petani, daun nanas selama ini hanya dianggap sisa panen yang tidak bernilai dan kerap dibakar begitu saja. Namun bagi Alan Sahroni, limbah tersebut justru menjadi bahan baku bernilai tinggi yang mampu menggerakkan ekonomi petani.

Lewat Alfiber, Alan mengolah daun nanas menjadi serat yang dipasarkan ke Singapura, Malaysia, Jerman, hingga Jepang. Produk ini digunakan untuk tekstil, fesyen, dan kerajinan, sekaligus membuka pasar baru dari komoditas yang selama ini kurang dilirik.

Serat daun nanas bernilai tinggi

Gagasan Alan berangkat dari pengamatannya saat menempuh pendidikan di STT Tekstil Bandung. Ia melihat Subang memiliki potensi besar sebagai daerah penghasil nanas, bukan hanya dari buahnya, tetapi juga dari daun yang menyimpan serat kuat.

Serat daun nanas dinilai memiliki karakter yang cocok untuk diolah menjadi bahan baku tekstil. Dari sisi industri, material ini juga menarik karena dapat dikembangkan menjadi produk fashion dan kerajinan yang bernilai jual lebih tinggi.

Alan kemudian mengikuti lomba business plan nasional pada 2013 sebagai syarat mengambil ijazah dari program beasiswa Kementerian Perindustrian. Dari ajang itu, idenya mengenai pengolahan daun nanas berhasil menarik perhatian dan membuka jalan bagi pengembangan mesin produksi.

Keberhasilan tersebut menjadi titik awal lahirnya Alfiber sebagai usaha yang fokus pada pemanfaatan limbah pertanian. Dari sini, daun nanas yang semula dibuang mulai dipandang sebagai bahan baku industri yang menjanjikan.

Mesin buatan sendiri

Setelah memenangkan lomba, Alan difasilitasi untuk membuat mesin pengolah daun nanas menjadi serat. Karena belum ada mesin sejenis di pasaran, ia bersama dosen merancang sendiri alat dekortikator sebagai mesin utama produksi.

Mesin itu kemudian direalisasikan pada 2013 dan mulai digunakan untuk mengolah daun nanas secara komersial. Inovasi ini membuat proses produksi dapat berjalan lebih efisien dan konsisten untuk memenuhi kebutuhan pasar.

Selain menjual serat siap olah, Alfiber juga menawarkan paket produksi lengkap. Paket tersebut mencakup mesin dekortikator dan alat tenun bukan mesin untuk mendukung pelaku usaha lain yang ingin masuk ke bisnis serupa.

Permintaan datang dari berbagai kalangan, mulai dari pelaku industri kecil hingga universitas yang membutuhkan mesin mini untuk laboratorium. Kondisi itu menunjukkan bahwa teknologi pengolahan daun nanas tidak hanya dibutuhkan untuk bisnis, tetapi juga untuk riset dan pendidikan.

Pemasaran dimulai dari nol

Meski memiliki produk unik, Alan menghadapi tantangan besar pada awal produksi karena pasar belum mengenal serat daun nanas. Pada masa itu, produk baru tersebut belum memiliki ekosistem yang kuat sehingga pemasaran menjadi hambatan utama.

Untuk memperkenalkan produknya, Alan membangun pemasaran dari nol melalui blog gratis. Dari langkah sederhana itu, perlahan perhatian mulai datang dari akademisi, mahasiswa, hingga media nasional.

Perlahan, serat daun nanas mulai dilihat sebagai bahan alternatif yang memiliki prospek. Edukasi pasar menjadi kunci agar konsumen memahami manfaat dan kegunaan produk tersebut dalam berbagai sektor.

Pengalaman itu menunjukkan bahwa inovasi produk perlu dibarengi strategi komunikasi yang tepat. Tanpa promosi yang konsisten, produk baru kerap sulit menembus pasar meski memiliki nilai ekonomi yang tinggi.

Ekspor serat daun nanas

Puncak perkembangan usaha Alfiber terjadi pada 2021 saat berhasil mengekspor serat daun nanas ke Singapura di tengah pandemi COVID-19. Ekspor itu membuktikan bahwa produk berbasis limbah pertanian dapat bersaing di pasar internasional.

Dalam pengiriman tersebut, total serat yang terjual mencapai 1,2 ton. Alan menjelaskan bahwa pengiriman dilakukan bertahap sesuai ketersediaan barang, termasuk saat ada proses karantina di negara tujuan.

Harga jual serat itu mencapai Rp187 ribu per kilogram. Nilai tersebut menunjukkan bahwa daun nanas yang semula dibuang dapat berubah menjadi komoditas ekspor bernilai tinggi.

Keberhasilan ini juga memberi dampak bagi petani karena limbah panen memiliki sumber nilai ekonomi baru. Dari daun nanas, Alan membuktikan bahwa inovasi, ketekunan, dan strategi pasar dapat mengubah sisa pertanian menjadi peluang bisnis yang berkelanjutan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!