Dyalodya Ungkap Penipuan COD yang Merugikan UMKM

Ekonomi Bisnis Kevin S. Pratama 14 Mei 2026 02:26 WIB 8
Dyalodya Ungkap Penipuan COD yang Merugikan UMKM

Video curhatan pemilik usaha hijab Dyalodya beredar luas di media sosial setelah ia mengungkap kerugian besar akibat tumpukan paket retur pelanggan dalam satu pekan. Unggahan di akun Instagram @dyalodya menampilkan gunungan paket berlabel COD yang gagal terkirim dan dikembalikan kurir. Kekesalan ini menyoroti dampak operasional dan finansial bagi UMKM akibat praktik COD yang dinilai tak aman bagi pelaku usaha.

Ia menegaskan masalah ini bukan sekadar keluhan pribadi, melainkan cerminan risiko yang bisa dimanfaatkan oknum tertentu. Video edukasi yang diunggahnya juga memperlihatkan paket retur dibuka dan isinya diganti dengan barang tidak berharga, seperti celana kolor bekas. Kondisi ini berpotensi merusak reputasi toko serta mengejutkan pelanggan yang tidak melakukan pemesanan.

Dampak bagi UMKM

Kehadiran tumpukan paket COD retur dalam satu pekan telah menimbulkan kerugian operasional. Biaya terkait meliputi pengemasan ulang, potongan biaya kurir, dan proses pengembalian dana. Akibatnya, arus kas UMKM terganggu dan alur kerja menjadi tidak efisien.

Saat paket dikembalikan, UMKM harus menanggung biaya logistik meski barang tidak diterima pelanggan. Hal ini memicu peningkatan biaya overhead dan memperlambat proses produksi. Pelaku usaha juga harus menanggung risiko reputasi jika pelanggan merasa tertipu.

Kekhawatiran ini memicu seruan evaluasi sistem COD oleh pelaku usaha. Beberapa pihak menilai perlu mekanisme verifikasi lebih ketat untuk pengembalian. Langkah proaktif diharapkan bisa menjaga kelangsungan usaha tanpa merugikan konsumen.

Modus Penipuan COD

Zahra menjelaskan adanya modus penipuan terstruktur yang melibatkan pihak ketiga. Paket yang seharusnya diterima pelanggan justru dikembalikan atau ditukar dengan barang tidak bernilai. Ia menyoroti bahwa oknum scam ini sering bekerja dekat kurir dan pihak terkait guna mengelabui konsumen.

Klaim yang beredar menyebut penggunaan alamat palsu dan identitas fiktif untuk mengirim paket COD. Beberapa kasus menunjukkan paket ternyata berisi barang bekas atau tidak sesuai pesanan. Zahra menegaskan dampak hal ini bisa merusak reputasi merek dan membingungkan pelanggan.

Ia meminta konsumen berhati-hati menerima paket jika tidak benar-benar memesan. Ia juga mendorong kurir dan jasa logistik untuk meningkatkan verifikasi alamat serta pelacakan pengiriman. Pihak brand menilai perlu penegakan kebijakan penanganan retur yang lebih ketat untuk mencegah praktik tersebut.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!