Dua Perempuan Nelayan Maluku-Papua Raih Penghargaan Inspiratif

Ekonomi Bisnis Kevin S. Pratama 30 Mei 2026 02:47 WIB 6
Dua Perempuan Nelayan Maluku-Papua Raih Penghargaan Inspiratif

Dua perempuan nelayan asal Maluku Tenggara dan Papua Barat mencuri perhatian nasional setelah dinilai berhasil mengubah peran perempuan pesisir menjadi penggerak ekonomi daerah. Sri Fany Mony dan Nova Theodora J.M Essuruw menerima penghargaan Perempuan Inspiratif 2025 dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Keduanya dipilih karena mampu membangun usaha, menciptakan nilai tambah dari hasil perikanan, dan mendorong ketahanan ekonomi keluarga. Pencapaian itu juga menegaskan bahwa perempuan pesisir memiliki peran penting dalam pembangunan sektor kelautan.

Penghargaan tersebut diberikan dalam ajang bertema Perempuan Berdaya dan Berkarya, Menuju Indonesia Emas 2045. Kementerian Kelautan dan Perikanan menyebut keduanya sebagai contoh nyata pelaku perubahan di wilayah pesisir. Selain meningkatkan pendapatan, mereka turut memperkuat praktik pengelolaan perikanan berkelanjutan. Inisiatif itu menjadi sorotan karena berdampak langsung pada komunitas dan pasar lokal.

Perempuan Nelayan dan Ekonomi Pesisir

Sri Fany Mony berangkat dari peran sebagai ibu rumah tangga yang semula tidak memiliki usaha ekonomi. Kini, ia memimpin Kelompok Pengolah dan Pemasar Dullah Tama di Ohoi Watkidat, Maluku Tenggara. Kelompok ini menghasilkan berbagai olahan ikan dan produk ecoprint yang memiliki nilai jual. Transformasi Fany menunjukkan bahwa pemberdayaan perempuan dapat tumbuh dari komunitas kecil di pesisir.

Pada 2025, Dullah Tama mencatat pendapatan Rp44,1 juta atau naik sekitar 16 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Capaian itu menunjukkan adanya peningkatan kapasitas produksi dan pemasaran yang lebih baik. Kelompok tersebut juga aktif membagikan praktik baik di tingkat nasional hingga internasional. Aktivitas itu memperkuat posisi mereka sebagai contoh pengembangan usaha berbasis masyarakat.

Di Papua Barat, Nova Theodora J.M Essuruw menghadirkan pendekatan berbeda melalui Kelompok Seraphim Bofuwer di Teluk Arguni, Kaimana. Ia memanfaatkan ikan kakap cina yang sebelumnya kurang termanfaatkan secara optimal. Daging ikan tersebut diolah menjadi abon, sambal, kecap ikan, dan produk pangan bergizi lain. Langkah ini membantu mengurangi pemborosan sumber daya perikanan sekaligus membuka peluang usaha baru.

Inovasi Olahan Ikan Bernilai Tambah

Inovasi yang dilakukan Nova memberi dampak ekonomi dan sosial bagi keluarga nelayan. Produk olahan Seraphim Bofuwer meningkatkan ketahanan pangan sekaligus menambah sumber pendapatan perempuan pesisir. Melalui pengelolaan yang konsisten, kelompok ini membangun jejaring pemasaran yang semakin luas. Pasarnya kini menjangkau Fakfak, Sorong, Timika, hingga Jayapura.

Kelompok Seraphim Bofuwer juga menorehkan prestasi melalui Juara 3 Festival Senja Indah Kaimana 2024. Selain itu, mereka memperoleh pendampingan BPOM sebagai orang tua asuh UMKM. Dukungan tersebut memperkuat standar mutu dan daya saing produk di pasaran. Capaian ini menunjukkan bahwa inovasi lokal dapat berkembang menjadi usaha yang berkelanjutan.

Fany dan Nova tidak hanya dipandang sebagai pelaku ekonomi, tetapi juga penggerak komunitas pesisir. Keduanya dinilai menerapkan pendekatan Ecosystem Approach to Fisheries Management atau EAFM dalam aktivitasnya. Pendekatan itu penting untuk menjaga keseimbangan antara pemanfaatan sumber daya dan keberlanjutan lingkungan. Dengan cara ini, manfaat ekonomi dapat berjalan seiring dengan perlindungan ekosistem laut.

Seleksi Penghargaan Perempuan Inspiratif

Direktur Jenderal Perikanan Tangkap Lotharia Latif menilai penghargaan ini menegaskan peran strategis perempuan dalam pembangunan nasional. Menurut dia, kontribusi perempuan nelayan tidak hanya berdampak pada ekonomi keluarga. Mereka juga membantu mengurangi limbah sumber daya perikanan dan memperkuat ketahanan sosial-ekologis pesisir. Penilaian tersebut menjadi dasar penting dalam proses seleksi penerima penghargaan.

Latif menjelaskan bahwa penghargaan diberikan melalui seleksi kolaboratif antara KemenPPPA dan Kementerian Kelautan dan Perikanan. Penilaian mempertimbangkan kepemimpinan perempuan, dampak sosial-ekonomi di tingkat komunitas, serta kontribusi terhadap pengelolaan sumber daya perikanan yang berkelanjutan. Dengan skema itu, penghargaan diarahkan pada sosok yang memiliki dampak nyata. Proses tersebut juga memastikan pengakuan diberikan secara objektif dan terukur.

Kedua penerima merupakan Champion CFI Indonesia, bagian dari Project GEF-6 CFI Indonesia. Program ini merupakan hibah kerja sama antara KKP dan WWF-US sebagai Global Environment Facility Agency. Fokusnya adalah memperkuat tata kelola perikanan berkelanjutan di WPP 715, 717, dan 718 di Indonesia Timur. Melalui proyek tersebut, perempuan pesisir didorong menjadi bagian aktif dalam ekonomi biru.

Program CFI dan Dampaknya

Project Manager CFI Indonesia, Adipati Rahmat Gumelar, menyebut konsep Champion dirancang agar dampak program tetap berlanjut setelah proyek selesai. Para Champion disiapkan sebagai agen perubahan yang mampu meneruskan misi CFI, KKP, dan GEF. Mereka dibekali kemampuan untuk memperkuat komunitas dan mengembangkan mata pencaharian alternatif. Pendekatan ini diharapkan menjaga keberlanjutan manfaat di tingkat lokal.

Sejak dimulai pada Desember 2019 hingga 2026, Project GEF-6 CFI Indonesia telah menjangkau lebih dari 5.500 nelayan. Sekitar 32 persen di antaranya adalah perempuan nelayan yang terlibat dalam berbagai kegiatan pemberdayaan. Program ini mencakup pelatihan pengolahan hasil perikanan, ecoprint, manajemen usaha, sertifikasi produk, penguatan merek, dan kemitraan dengan pasar modern. Produk kelompok binaan kini telah dipasarkan di lebih dari 10 jaringan ritel modern di Maluku dan Papua Barat.

Dalam kerangka CFI Indonesia, Champion adalah nelayan kecil terlatih yang berperan sebagai pelatih komunitas dan agen perubahan. Mereka dibekali keterampilan teknis, pengolahan hasil perikanan bernilai tambah, pemanfaatan teknologi ramah lingkungan, serta penerapan praktik EAFM. Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono sebelumnya menekankan bahwa pemberdayaan perempuan nelayan berkontribusi pada ekonomi keluarga dan penguatan ketahanan pesisir. Dari wilayah pesisir hingga tingkat nasional, peran perempuan nelayan kian menegaskan arah pembangunan Indonesia yang berkelanjutan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!