Dua Perempuan Nelayan Maluku dan Papua Raih Penghargaan

Ekonomi Bisnis Gilang Nabaris 27 Mei 2026 17:39 WIB 3
Dua Perempuan Nelayan Maluku dan Papua Raih Penghargaan

Dua perempuan nelayan dari Maluku Tenggara dan Papua Barat menorehkan capaian penting dalam pemberdayaan pesisir. Sri Fany Mony dan Nova Theodora J.M. Essuruw berhasil mengubah peran perempuan di sektor perikanan menjadi penggerak ekonomi daerah.

Keduanya menerima penghargaan Perempuan Inspiratif 2025 dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Penghargaan itu diberikan karena kontribusi mereka terhadap usaha produktif, ketahanan pangan keluarga, dan pengelolaan sumber daya perikanan berkelanjutan.

Perempuan Nelayan Pesisir Berdaya

Sri Fany Mony memulai kiprahnya dari posisi sebagai ibu rumah tangga tanpa usaha ekonomi. Kini, ia memimpin kelompok pengolah dan pemasar yang aktif memproduksi olahan ikan dan ecoprint.

Fany menjabat Ketua Kelompok Pengolah dan Pemasar Dullah Tama di Ohoi Watkidat, Maluku Tenggara. Transformasi itu menunjukkan bahwa perempuan pesisir mampu membangun usaha yang berdampak langsung pada komunitas.

Pada 2025, kelompok Dullah Tama mencatat pendapatan Rp44,1 juta. Angka itu naik sekitar 16 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Kelompok tersebut juga aktif membagikan praktik baik di tingkat nasional hingga internasional. Aktivitas itu memperlihatkan bahwa pemberdayaan perempuan dapat berkembang menjadi jejaring pengetahuan yang lebih luas.

Perempuan Nelayan Olah Hasil Ikan

Kontribusi besar juga datang dari Nova Theodora J.M. Essuruw di Teluk Arguni, Kaimana, Papua Barat. Pendeta Protestan yang memimpin wilayah itu mendorong pemanfaatan sumber daya perikanan secara lebih bernilai.

Melalui Kelompok Seraphim Bofuwer, Nova menginisiasi pengolahan ikan kakap cina yang sebelumnya kurang dimanfaatkan. Selama ini, ikan tersebut kerap diambil gelembung renangnya, sementara dagingnya dibiarkan tidak optimal.

Di bawah pengelolaan kelompoknya, kakap cina diolah menjadi abon ikan, sambal, kecap ikan, dan produk pangan lain. Produk itu memberi nilai tambah ekonomi sekaligus meningkatkan ketahanan pangan keluarga.

Inisiatif tersebut juga membuka peluang pendapatan baru bagi perempuan pesisir. Selain mengurangi pemborosan sumber daya, langkah itu memperkuat kebiasaan usaha yang lebih berkelanjutan.

Perempuan Nelayan Dorong Pasar

Produk Seraphim Bofuwer kini menjangkau pasar regional di Fakfak, Sorong, Timika, dan Jayapura. Jangkauan itu lahir dari jejaring pemasaran yang dibangun secara konsisten.

Kelompok ini juga meraih Juara 3 Festival Senja Indah Kaimana 2024. Selain itu, mereka mendapat pendampingan BPOM sebagai orang tua asuh UMKM.

Pencapaian tersebut menunjukkan bahwa perempuan nelayan dapat masuk ke rantai pasar yang lebih modern. Dengan pendampingan yang tepat, produk lokal mampu bersaing secara lebih luas.

Upaya pemasaran yang terstruktur membantu usaha kecil bertahan dan tumbuh. Dalam konteks pesisir, keberhasilan ini menjadi bukti bahwa ekonomi keluarga dapat diperkuat dari sektor perikanan.

Perempuan Nelayan Dukung Berkelanjutan

Sri Fany dan Nova dinilai sebagai pelaku ekonomi sekaligus penggerak komunitas. Keduanya juga disebut sebagai pelopor penerapan Ecosystem Approach to Fisheries Management atau EAFM.

Direktur Jenderal Perikanan Tangkap Lotharia Latif menegaskan bahwa penghargaan ini menegaskan peran strategis perempuan dalam pembangunan nasional. Menurut dia, penilaian dilakukan secara kolaboratif oleh KemenPPPA dan KKP.

Aspek yang dinilai mencakup kepemimpinan perempuan, dampak sosial-ekonomi, dan kontribusi pada pengelolaan perikanan berkelanjutan. Proses itu menempatkan inovasi lokal sebagai dasar pengakuan nasional.

Project Manager CFI Indonesia, Adipati Rahmat Gumelar, menyebut para Champion disiapkan sebagai agen perubahan. Mereka diharapkan melanjutkan misi penguatan komunitas, pengembangan mata pencaharian alternatif, dan praktik perikanan berkelanjutan setelah program berakhir.

Sejak dimulai pada Desember 2019 hingga 2026, Project GEF-6 CFI Indonesia telah menjangkau lebih dari 5.500 nelayan. Sekitar 32 persen di antaranya adalah perempuan nelayan.

Program itu juga mencakup pelatihan pengolahan hasil perikanan, ecoprint, manajemen usaha, sertifikasi produk, penguatan merek, dan kemitraan dengan pasar modern. Produk binaan kini telah dipasarkan di lebih dari 10 jaringan ritel modern di Maluku dan Papua Barat.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!