DSI Resmi Dibentuk untuk Kelola Ekspor SDA Strategis

Ekonomi Bisnis Dimas Rayyanza 30 Mei 2026 06:16 WIB 13
DSI Resmi Dibentuk untuk Kelola Ekspor SDA Strategis

Pemerintah resmi membentuk PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) untuk mengelola ekspor sumber daya alam strategis, termasuk minyak sawit mentah atau CPO, batu bara, dan ferro alloy. Entitas ini telah ditetapkan sebagai badan usaha milik negara per Senin, 25 Mei 2026, dengan mandat awal memperkuat tata kelola ekspor sekaligus mengejar keuntungan.

Chief Investment Officer BPI Danantara, Pandu Sjahrir, mengatakan pembentukan DSI dilatarbelakangi kekhawatiran atas praktik under invoicing dan transfer pricing dalam perdagangan komoditas. Menurut dia, perusahaan baru ini akan dibangun sebagai operator bisnis yang profesional, dengan perekrutan SDM dilakukan secara bertahap dan global.

DSI dan Ekspor SDA

PT Danantara Sumberdaya Indonesia dibentuk sebagai kendaraan bisnis baru untuk mengelola ekspor komoditas strategis. Pada tahap awal, fokus DSI diarahkan ke CPO, batu bara, dan ferro alloy. Pemerintah menempatkan entitas ini sebagai bagian dari upaya memperkuat pengelolaan SDA nasional.

Pandu menjelaskan, DSI hadir untuk merespons risiko manipulasi nilai ekspor yang selama ini kerap muncul dalam perdagangan komoditas. Praktik under invoicing dan transfer pricing dinilai dapat mengurangi penerimaan negara. Karena itu, DSI disiapkan dengan struktur yang lebih disiplin dan terukur.

Menurut Pandu, pengalaman panjang di industri batu bara membuatnya memahami berbagai modus pengaburan nilai transaksi. Ia menyebut ada pelaku usaha yang patuh, namun ada pula yang mencoba bermain di area abu-abu. Kondisi itu menjadi salah satu alasan perlunya wadah bisnis yang lebih kuat dan transparan.

DSI resmi menjadi BUMN pada Senin, 25 Mei 2026, setelah melalui proses pembentukan yang berlangsung cepat. Kepemilikan perusahaan ini terdiri atas 99 persen milik BPI Danantara dan 1 persen milik BP BUMN. Dengan skema tersebut, pemerintah menempatkan DSI dalam ekosistem Danantara yang lebih luas.

DSI Berorientasi Profit

Pemerintah sempat mempertimbangkan dua opsi dalam pembentukan DSI. Opsi pertama adalah menjadikannya badan pemerintah biasa, sedangkan opsi kedua menempatkannya sebagai operator bisnis. Setelah pembahasan, pilihan akhirnya jatuh pada model bisnis yang berorientasi laba.

Pandu menyebut DSI akan memiliki mindset for profit seperti entitas bisnis lain di bawah Danantara. Menurut dia, prinsip keuntungan tetap diperlukan karena Danantara berfungsi sebagai sovereign wealth fund. Dana yang dikelola pun diposisikan sebagai tabungan untuk generasi berikutnya.

Ia menegaskan, orientasi profit bukan berarti DSI hanya mengejar pendapatan jangka pendek. Perusahaan tetap dimungkinkan berkembang ke lini lain sesuai kebutuhan dan kemampuan sumber daya manusia. Namun, arah awalnya tetap jelas, yakni menjadi agen bisnis yang menghasilkan nilai tambah.

Model tersebut juga membedakan DSI dari fungsi birokratis murni. Dengan status sebagai entitas bisnis, perusahaan diharapkan lebih lincah dalam membaca pasar dan mengambil keputusan perdagangan. Langkah ini sekaligus memberi ruang bagi manajemen untuk mengoptimalkan potensi ekspor SDA.

DSI Masih Punya Satu Pegawai

Pandu mengungkapkan bahwa DSI saat ini masih sangat awal dalam proses pembentukan organisasi. Hingga kini, perusahaan tersebut baru memiliki satu pegawai, yakni Luke Thomas Mahony sebagai direktur utama. Kondisi itu menunjukkan DSI masih berada pada fase perintisan.

Meski demikian, ia menilai pembangunan tim bisa dilakukan secara bertahap seperti pengalaman membangun Danantara sebelumnya. Pada awal pembentukan, Danantara hanya diisi oleh tiga orang, lalu berkembang menjadi puluhan orang dalam beberapa bulan. Dalam satu tahun, jumlah pegawainya tumbuh menjadi sekitar 450 orang.

Pandu juga menekankan pentingnya rekrutmen yang profesional dan terukur. DSI akan merekrut talenta dari dalam negeri dan luar negeri, karena bisnis perdagangan komoditas serta trade financing memerlukan keahlian yang spesifik. Menurut dia, jumlah ahli di bidang tersebut tidak banyak, sehingga pencarian tenaga kerja harus dilakukan secara global.

Ia tidak menutup kemungkinan merekrut SDM dari BUMN yang sudah ada. Skema itu akan dipakai untuk mendorong transfer pengetahuan dan memperkuat kapasitas internal perusahaan. Dengan begitu, DSI diharapkan tumbuh sebagai organisasi yang efisien sekaligus kompetitif.

Rekrutmen Global DSI

Untuk memperkuat operasional, DSI akan mengandalkan proses perekrutan dari berbagai negara. Pandu menyebut sumber daya manusia yang memahami perdagangan komoditas dan pembiayaan internasional memang terbatas. Karena itu, perusahaan harus mencari kandidat terbaik tanpa membatasi asal wilayah.

Ia menjelaskan, kebutuhan tenaga ahli di bidang trade financing sangat spesifik dan tidak mudah ditemukan di Indonesia. Banyak talenta dengan keahlian tersebut justru berada di luar negeri. Situasi ini menuntut DSI membangun jejaring perekrutan yang lebih luas dan strategis.

Meski berbasis global, DSI tetap membuka peluang bagi pekerja dari lingkungan BUMN untuk bergabung. Rekrutmen internal dinilai penting agar ada kombinasi pengalaman lokal dan pengetahuan baru dari luar. Pendekatan tersebut diharapkan mempercepat proses pembelajaran organisasi.

Pandu menegaskan, seluruh proses perekrutan akan diarahkan untuk membangun kualitas, bukan sekadar memperbanyak jumlah pegawai. DSI ditargetkan menjadi perusahaan yang mampu mengelola ekspor SDA secara modern dan menguntungkan. Dengan fondasi itu, perusahaan baru ini diproyeksikan menjadi salah satu instrumen penting dalam ekosistem Danantara.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!