Dr Gia Pratama Ungkap Pengalaman Turunkan Berat Badan

Lifestyle Nadia Safira Putri 24 Mei 2026 05:16 WIB 7
Dr Gia Pratama Ungkap Pengalaman Turunkan Berat Badan

Influencer kesehatan dr Gia Pratama mengungkap bahwa dirinya pernah memiliki bobot tubuh hingga 100 kilogram. Kondisi itu sempat membuatnya tidak sadar telah berada pada fase obesitas, dengan risiko tinggi penyakit tidak menular, termasuk gangguan jantung. Kesadaran untuk berubah muncul setelah ia menangani pasien serangan jantung di instalasi gawat darurat. Pengalaman tersebut menjadi titik balik yang membuatnya bertekad menurunkan berat badan secara serius.

Ia menceritakan, peristiwa di IGD membuat dirinya berpikir ulang tentang kondisi kesehatannya sendiri. Menurut dia, keputusan untuk memulai diet lahir dari pertanyaan sederhana, yakni apakah dirinya akan ditolong jika mengalami kondisi serupa. Dari situ, ia memutuskan menjalani komitmen penurunan berat badan selama enam bulan. Langkah itu ia tempuh dengan fokus pada pengendalian asupan, bukan cara instan.

Diet dan obesitas

dr Gia menegaskan bahwa dirinya kala itu tidak menyadari berat badannya sudah masuk kategori obesitas. Ia mengaku baru memahami besarnya risiko setelah melihat langsung dampak serangan jantung pada pasien yang ditanganinya. Saat itu, ia merasakan bahwa kondisi tubuhnya tidak boleh dibiarkan berlanjut. Kesadaran tersebut menjadi awal perubahan gaya hidup yang lebih terarah.

Menurutnya, obesitas tidak selalu disadari karena prosesnya sering terjadi perlahan. Seseorang bisa merasa masih baik-baik saja, padahal bobot tubuh terus naik tanpa kendali. Situasi inilah yang menurutnya berbahaya karena kerap baru disadari setelah muncul keluhan kesehatan. Karena itu, ia menilai pemeriksaan dan kesadaran diri menjadi langkah penting.

Ia menjelaskan bahwa diet yang dijalaninya tidak mengandalkan pola khusus yang ekstrem. Fokus utamanya adalah mengurangi kalori berlebih yang selama ini dikonsumsi tanpa kontrol. Dengan cara itu, ia berusaha menata ulang pola makan agar lebih seimbang dan realistis. Pendekatan tersebut dipilih agar hasilnya dapat bertahan dalam jangka panjang.

dr Gia juga menekankan bahwa penurunan berat badan membutuhkan disiplin yang konsisten. Ia menilai hasil ideal tidak bisa diperoleh hanya dengan semangat sesaat. Setiap perubahan, menurut dia, harus dijalani secara bertahap agar tubuh bisa menyesuaikan. Dari pengalaman itu, ia belajar bahwa kebiasaan kecil sangat menentukan hasil akhir.

Pengalaman di IGD

Pengalaman yang paling membekas bagi dr Gia terjadi saat ia menerima pasien serangan jantung di IGD. Pasien tersebut disebut memiliki usia dan tanggal lahir yang sama dengannya. Momen itu membuatnya terkejut karena terasa sangat dekat dengan dirinya secara personal. Ia bahkan mengaku sempat bertanya dalam hati tentang kemungkinan dirinya menghadapi nasib serupa.

Ia menuturkan bahwa dirinya berhasil menyelamatkan pasien dengan bantuan alat pacu jantung. Namun, keberhasilan itu justru memunculkan refleksi yang lebih dalam tentang kesehatan pribadinya. Di tengah situasi darurat itu, ia memikirkan kemungkinan tidak ada orang yang bisa menolong dirinya bila mengalami kondisi yang sama. Pikiran tersebut kemudian menjadi dorongan kuat untuk berubah.

dr Gia mengatakan bahwa pengalaman di IGD bukan sekadar kejadian medis biasa. Peristiwa itu menjadi pengingat bahwa penyakit jantung bisa mengancam siapa saja, termasuk tenaga kesehatan sendiri. Karena itu, ia tidak ingin hanya memahami penyakit dari sisi teori atau penanganan. Ia ingin memastikan tubuhnya juga berada dalam kondisi yang lebih aman.

Dari pengalaman tersebut, ia menyadari pentingnya menjaga kesehatan sebelum penyakit datang. Ia menilai tindakan preventif jauh lebih bermakna dibanding menunggu masalah muncul. Kesadaran itu membuatnya lebih serius memandang berat badan, pola makan, dan kebiasaan harian. Menurut dia, kesehatan harus dijaga sebelum muncul keadaan darurat.

Faktor pemicu obesitas

Ia menjelaskan bahwa obesitas dapat dipicu oleh banyak faktor, termasuk kebiasaan makan yang tidak disadari. Seseorang, kata dia, sering merasa hanya makan sedikit, padahal porsinya terus bertambah. Kebiasaan seperti ini membuat asupan kalori melampaui kebutuhan tubuh tanpa terasa. Jika berlangsung lama, kondisi itu dapat berdampak pada berat badan dan kesehatan.

dr Gia mencontohkan kebiasaan sederhana yang sering dianggap sepele. Ia menyebut seseorang bisa awalnya hanya berniat makan satu gorengan, lalu tanpa sadar menghabiskan lima. Pola seperti itu, menurut dia, menunjukkan bagaimana kontrol diri sangat berpengaruh pada asupan harian. Karena itu, kesadaran saat makan menjadi hal yang penting.

Ia menilai banyak orang gagal mengendalikan berat badan karena tidak jujur pada kebiasaan sendiri. Padahal, pencatatan sederhana terhadap makanan yang masuk dapat membantu melihat sumber masalah. Dengan memahami pola konsumsi, seseorang bisa lebih mudah mengatur langkah perbaikan. Cara ini dianggap lebih efektif daripada sekadar membatasi diri tanpa arah.

Selain soal makanan, kebiasaan hidup juga memengaruhi risiko obesitas. Aktivitas fisik yang rendah, pola tidur yang buruk, dan stres berlebihan dapat memperburuk keadaan. dr Gia menilai perubahan harus dilakukan secara menyeluruh, bukan hanya pada satu aspek. Dengan begitu, hasil yang dicapai akan lebih stabil dan berkelanjutan.

Komitmen perubahan gaya hidup

Setelah mengambil keputusan, dr Gia menetapkan komitmen menjalankan diet selama enam bulan. Ia memilih target waktu yang jelas agar prosesnya memiliki arah dan disiplin. Menurut dia, komitmen jangka pendek yang terukur lebih mudah dijalankan dibanding janji yang kabur. Dari sana, ia mulai membangun kebiasaan baru secara bertahap.

Ia juga menekankan bahwa pengurangan kalori dilakukan secara konsisten setiap hari. Tidak ada upaya cepat yang dijadikan andalan karena hasil ideal membutuhkan proses. Dengan pendekatan itu, ia belajar untuk lebih selektif dalam memilih makanan. Langkah tersebut membantu dirinya menjaga kontrol tanpa merasa terlalu tertekan.

dr Gia menyampaikan bahwa perubahan berat badan bukan hanya soal penampilan. Baginya, tujuan utama adalah menurunkan risiko penyakit yang dapat mengancam nyawa. Karena itu, ia memandang diet sebagai investasi kesehatan, bukan hukuman bagi tubuh. Cara pandang tersebut membuatnya lebih mudah mempertahankan komitmen.

Pengalamannya menjadi pengingat bahwa perubahan gaya hidup dimulai dari kesadaran pribadi. Ia berharap cerita tersebut dapat memberi dorongan bagi masyarakat untuk lebih peduli pada kondisi tubuh. Menurut dia, menjaga berat badan ideal adalah bagian dari upaya melindungi masa depan kesehatan. Dengan disiplin dan kesabaran, hasil yang diinginkan akan lebih mungkin tercapai.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!