Dr Gia Pratama Ungkap Pengalaman Obesitas dan Diet

Lifestyle Clara Monica 26 Mei 2026 02:18 WIB 2
Dr Gia Pratama Ungkap Pengalaman Obesitas dan Diet

Influencer kesehatan dr Gia Pratama mengungkap bahwa dirinya pernah memiliki bobot tubuh 100 kilogram dan sempat tidak menyadari telah memasuki fase obesitas. Kondisi tersebut membuatnya berada dalam risiko tinggi mengalami penyakit tidak menular, termasuk gangguan jantung.

Kesadaran untuk menurunkan berat badan muncul setelah ia menangani seorang pasien serangan jantung di instalasi gawat darurat. Pengalaman itu menjadi titik balik yang membuatnya memutuskan menjalani diet dengan komitmen penuh selama enam bulan.

Obesitas dan Risiko Jantung

dr Gia mengatakan bahwa saat itu ia tidak menyadari tubuhnya sudah masuk kategori obesitas. Ia menilai, banyak orang kerap abai terhadap kondisi berat badan karena perubahan berlangsung bertahap. Akibatnya, risiko penyakit tidak menular sering baru disadari ketika gejala mulai muncul. Salah satu risiko yang paling dikhawatirkan adalah penyakit jantung.

Ia menjelaskan bahwa obesitas bukan sekadar persoalan penampilan, melainkan juga kesehatan jangka panjang. Tekanan pada tubuh dapat meningkat seiring bertambahnya berat badan yang tidak terkontrol. Dalam jangka tertentu, kondisi ini bisa memengaruhi sistem metabolisme dan kerja organ vital. Karena itu, deteksi dini menjadi hal yang penting.

Menurutnya, banyak orang merasa masih baik-baik saja meski asupan makan berlebihan. Kebiasaan tersebut sering terjadi tanpa disadari dan berlangsung terus-menerus. Saat tubuh memberi sinyal, kondisi yang muncul bisa saja sudah lebih serius. Pengalaman pribadinya membuat ia memahami bahaya itu secara langsung.

Pengalaman di Ruang IGD

Pemicu terkuat bagi dr Gia datang ketika ia sedang bertugas di IGD dan menerima pasien serangan jantung. Pasien itu disebut memiliki usia dan tanggal ulang tahun yang sama dengannya. Momen tersebut membuatnya terpukul karena merasa seolah melihat kemungkinan yang bisa terjadi pada dirinya sendiri. Ia bahkan sempat bertanya dalam hati apakah dirinya akan mengalami hal serupa.

Di hadapan pasien, ia berhasil memberikan pertolongan dengan alat pacu jantung. Keberhasilan itu memberinya rasa syukur sekaligus refleksi mendalam. Ia sadar bahwa pertolongan medis memang dapat menyelamatkan nyawa, tetapi pencegahan tetap lebih penting. Dari situ, ia mulai memikirkan masa depannya sendiri.

Ia kemudian bertanya apakah jika suatu saat dirinya terkena serangan jantung, akan ada orang yang bisa menolong. Pertanyaan itu membuatnya menyadari bahwa perubahan gaya hidup tidak bisa ditunda. Setelah pengalaman tersebut, ia memutuskan untuk mengambil langkah konkret. Keputusan itu menjadi awal dari komitmen diet yang lebih serius.

Komitmen Diet enam Bulan

dr Gia memilih untuk menjalani diet selama enam bulan dengan target yang jelas. Ia tidak mengandalkan pola instan, karena menyadari perubahan tubuh memerlukan proses. Komitmen itu dijalankan secara konsisten agar hasilnya lebih sehat dan bertahan lama. Menurutnya, hasil ideal tidak mungkin didapat hanya dalam waktu singkat.

Ia menegaskan bahwa tidak ada jenis diet khusus yang menjadi andalannya. Fokus utamanya adalah mengurangi asupan kalori yang sebelumnya berlebih. Langkah tersebut dilakukan secara bertahap, tetapi tetap disiplin. Bagi dia, pengendalian kalori menjadi kunci utama dalam menurunkan berat badan.

Kesadaran itu membuatnya lebih serius memperhatikan kebiasaan makan sehari-hari. Ia memahami bahwa perubahan kecil yang dilakukan terus-menerus dapat memberi dampak besar. Dengan pola yang lebih terukur, ia berupaya menjaga tubuh tetap sehat. Pengalaman pribadi itu kini menjadi bagian dari pesan yang ia sampaikan kepada publik.

Pelajaran dari Kebiasaan Makan

dr Gia menyebut salah satu penyebab obesitas adalah tidak sadar dengan apa yang dimakan. Kebiasaan sederhana seperti mengambil satu gorengan, lalu berlanjut menjadi beberapa potong, sering terjadi tanpa kontrol. Menurutnya, perilaku seperti itu tampak sepele, tetapi dapat menambah asupan kalori dengan cepat. Jika terus dibiarkan, dampaknya bisa serius.

Ia menuturkan bahwa banyak orang kerap makan secara impulsif tanpa menghitung porsi. Rasa lapar yang tidak terkontrol sering membuat seseorang menyantap makanan lebih banyak dari yang dibutuhkan. Kondisi ini menjadi salah satu faktor utama naiknya berat badan. Karena itu, kesadaran terhadap pilihan makanan sangat diperlukan.

Pengalaman pribadinya menunjukkan bahwa perubahan pola makan harus dimulai dari kebiasaan kecil. Mengatur porsi, memilih makanan, dan menjaga konsistensi menjadi langkah penting. Ia menilai bahwa disiplin lebih berpengaruh dibanding sekadar niat sesaat. Dari situ, obesitas dapat dicegah sebelum berkembang menjadi masalah kesehatan yang lebih berat.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!