Dr Gia Pratama Ungkap Pengalaman Berat Badan 100 Kilogram

Lifestyle Nadia Safira Putri 25 Mei 2026 10:04 WIB 4
Dr Gia Pratama Ungkap Pengalaman Berat Badan 100 Kilogram

Influencer kesehatan dr Gia Pratama mengungkap pernah memiliki bobot tubuh 100 kilogram saat dirinya belum menyadari telah masuk fase obesitas. Kondisi itu, menurutnya, membuat risiko penyakit tidak menular seperti gangguan jantung meningkat tanpa disadari. Kesadaran untuk berubah justru muncul setelah ia menangani pasien serangan jantung di instalasi gawat darurat. Pengalaman tersebut menjadi titik balik penting dalam keputusan menurunkan berat badan.

Dalam sebuah talkshow di Kementerian Kesehatan RI pada Kamis, 7 Mei 2026, dr Gia menceritakan momen yang membuatnya tergerak untuk berkomitmen. Ia menyebut pasien yang ditangani memiliki usia dan tanggal ulang tahun yang sama dengannya. Setelah pasien itu berhasil diselamatkan dengan alat pacu jantung, ia mulai bertanya pada dirinya sendiri tentang nasib kesehatannya di masa depan. Dari situ, ia memutuskan menjalani diet selama enam bulan dengan disiplin penuh.

Diet dan obesitas dr Gia

dr Gia mengaku sempat tidak sadar bahwa berat badannya sudah mencapai 100 kilogram. Pada fase itu, ia menilai dirinya belum memahami sepenuhnya bahaya obesitas terhadap kesehatan. Padahal, kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko penyakit jantung dan gangguan metabolik lain. Kesadaran baru muncul ketika ia melihat langsung dampak penyakit itu pada seorang pasien.

Ia mengatakan momen di IGD menjadi pengalaman yang sangat membekas dalam hidupnya. Saat menangani pasien serangan jantung, ia merasa seolah berhadapan dengan kemungkinan yang sama pada dirinya. Setelah berhasil membantu pasien tersebut, ia mulai memikirkan apakah dirinya akan memiliki pertolongan serupa bila mengalami keadaan darurat. Pertanyaan itu membuatnya menilai ulang pola hidup yang selama ini dijalani.

Dari situ, dr Gia memutuskan untuk mengambil langkah nyata dengan menetapkan komitmen diet selama enam bulan. Ia menegaskan bahwa keputusan itu bukan dorongan sesaat, melainkan hasil perenungan setelah melihat risiko kesehatan secara langsung. Menurutnya, perubahan tubuh tidak dapat dicapai tanpa konsistensi. Karena itu, ia memilih pendekatan yang realistis dan bisa dijalankan dalam jangka panjang.

Pemicu kebiasaan makan berlebih

dr Gia menjelaskan bahwa obesitas tidak hanya dipicu oleh satu faktor, melainkan oleh kebiasaan yang terus berulang. Salah satu penyebab utamanya adalah ketidaksadaran terhadap apa yang dikonsumsi setiap hari. Kebiasaan kecil yang terlihat sepele dapat menumpuk menjadi asupan kalori berlebih. Dalam jangka panjang, kondisi ini memengaruhi berat badan secara signifikan.

Ia mencontohkan perilaku makan yang sering dilakukan tanpa kontrol. Seseorang bisa saja berniat hanya makan satu gorengan, tetapi akhirnya menghabiskan beberapa buah sekaligus. Pola seperti itu, menurutnya, sering terjadi tanpa disadari. Akibatnya, kalori yang masuk jauh melebihi kebutuhan tubuh.

Menurut dr Gia, pengendalian diri menjadi kunci utama untuk mencegah kenaikan berat badan yang tidak terkontrol. Kesadaran terhadap porsi makan perlu dibangun sejak awal agar kebiasaan buruk tidak terus berlanjut. Ia menilai perubahan kecil yang dilakukan konsisten lebih efektif daripada sekadar niat sesaat. Dengan begitu, proses menurunkan berat badan bisa berjalan lebih terukur.

Fokus pada kalori

Dalam menjalani diet, dr Gia tidak mengandalkan jenis pola makan tertentu yang terlalu spesifik. Ia lebih memilih fokus pada pengurangan asupan kalori yang sebelumnya berlebihan. Pendekatan itu dinilai lebih mudah diterapkan dalam rutinitas harian. Selain itu, metode tersebut membantu menjaga keseimbangan antara kebutuhan tubuh dan makanan yang dikonsumsi.

Ia menekankan bahwa hasil yang ideal tidak bisa diperoleh secara instan. Menurutnya, tubuh memerlukan waktu untuk menyesuaikan diri dengan perubahan pola makan. Karena itu, konsistensi menjadi faktor yang tidak dapat ditawar. Tanpa kedisiplinan, upaya diet cenderung berhenti di tengah jalan.

Pengalaman pribadi itu kini menjadi bagian dari edukasi yang ia sampaikan kepada masyarakat. dr Gia ingin menunjukkan bahwa obesitas dapat terjadi pada siapa saja, termasuk mereka yang memahami kesehatan. Ia juga menegaskan pentingnya mengenali tanda bahaya sebelum terlambat. Kesadaran sejak dini dapat membantu mencegah risiko penyakit yang lebih serius.

Pesan untuk masyarakat

Melalui kisahnya, dr Gia menyoroti pentingnya mengubah kebiasaan sebelum tubuh memberikan sinyal yang lebih berat. Pemeriksaan kesehatan rutin dinilai perlu untuk mengenali risiko sejak awal. Pola makan yang terkontrol juga menjadi bagian penting dari pencegahan. Dengan langkah sederhana, risiko penyakit tidak menular dapat ditekan.

Ia juga mengingatkan bahwa motivasi untuk hidup sehat sering kali muncul dari pengalaman yang tidak menyenangkan. Namun, perubahan tetap bisa dimulai tanpa harus menunggu kondisi memburuk. Setiap orang dapat memulai dari memperhatikan porsi makan dan kebiasaan harian. Langkah tersebut dinilai lebih efektif jika dilakukan secara konsisten.

Kisah dr Gia menunjukkan bahwa kesadaran diri memiliki peran besar dalam perjalanan menurunkan berat badan. Ia tidak memilih jalan pintas, melainkan disiplin menjalankan diet dengan tujuan yang jelas. Pengalaman menangani pasien serangan jantung menjadi pengingat bahwa kesehatan adalah tanggung jawab pribadi. Dari sana, ia menegaskan pentingnya hidup lebih waspada terhadap risiko obesitas.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!